[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] End Up

on

END UP.jpg

End Up

Oleh : Hadzina Mulier

Main Cast : EXO Baekhyun

Genre : Thrailler / Mistery

Rating : General

***

–Namsan, Senin, 2 Mei 2016, 17:00 KST

“Memang selalu manis jika mengingat mantan,”

Byun Baekhyun menoleh pada seorang gadis yang duduk di meja di seberang mejanya, terdiam ia sejenak demi menekuri garis wajah mungil tersebut sebelum dengusannya timbul terang-terangan, membuat yang ia pandangi menoleh dan mendelik tak mengerti padanya. Seolah acuh, Baekhyun justru membuang jauh pandangannya, keluar dari suasana kafe yang asing menuju jalanan basah di samping kirinya. Jendela besar di sisinya menampilkan gambaran nyata akan bagaimana ganasnya hujaman air mata langit yang menusuk-nusuk pori tanah.

Manis, hahaha, gula.

Irama konstan dari ketukan telunjuk itu memenuhi keseluruhan pendengaran Baekhyun, sementara pandangannya mengelana jauh menembus basahan jalanan di luar, melayang luas ke arah entah. Baekhyun kembali mengunjungi dimensi abstraknya sekali lagi, untuk kali yang ke entah.

Bisik dan seloroh penghuni kafe tak lagi sanggup menggedor tebalnya selaput tak kasat mata yang melingkupi kedua lubang telinga Baekhyun, pria itu telah sepenuhnya tuli oleh dunianya sendiri.

Banyak sekon yang dibayar si pria bermata sipit itu demi mendapat waktu tenang dalam dunia kepunyaannya. Yang didapat Baekhyun tak lain adalah ketenangan, perasaan yang tak akan didapatnya dari manusia manapun yang bernapas di hadapannya.

Hingga lantas keagungan dunia Baekhyun pecah oleh sebuah tepukan pelan di pundaknya, adalah sosok pria paruh baya yang memandangnya penuh harap, ketika ia menoleh.

“Boleh kupinjam pemantik apimu?”

Tiga, Baekhyun menggunakan sekon sejumlah itu untuk terdiam sekadar menyeimbangkan jiwa yang dipaksa kembali ke alam sadar, sebelum bibir tipisnya lantas bergerak enggan memberi tanggapan, “Aku tidak merokok.”

Si paman berdeham paham dan segera beralih pergi, seolah paham kehadirannya sangat tak dihendaki. Ditinggalkan tanpa kata seperti itu setelah menghempaskan jiwanya dari alam bawah sadar, Baekhyun tertawa sinis di tempatnya sembari menembak punggung si pengacau di sana dengan tatapan.

Sesaat matanya teralih pada bulatan kontras di dinding sebelum mendengus ia keras-keras dan kembali meletakkan atensi ke pemandangan di luar jendela.

Terjebak, tak akan reda hujan malam ini.

Pilihannya hanya dua kali ini; membusuk di sini hingga kafe tutup atau pergi sekarang. Satu yang disadarinya adalah apapun opsi yang diambilnya, tetap berakhir kuyup ia karena hujan memang tak akan berhenti.

Baekhyun bangkit dari duduknya setelah tiga jam, pandangannya menabrak tubuh si paman pengacau yang tengah tertawa keras bersama tiga lelaki lainnya di meja di ujung ruangan, sebelum ia tarik tatapannya untuk menyambangi bulatan yang sebelumnya ia jenguk di dinding kafe.

Dilarang merokok.

Langkah kakinya berdebum oleh alas sepatu yang seolah baja, Baekhyun enyah dari bangunan tersebut tanpa kata. Sempat ia terhenti sejenak di kanopi kafe demi mengintip langit yang masih menangis. Seiring dengusannya, Baekhyun melangkah seribu menuju halte terdekat dan menghantamkan pantat pada besi panjang yang beku.

Satu tangannya merogoh saku jaket dan meraih korek api dan sepuntung rokok dari tempatnya. Seiring bibir tipisnya yang mengapit batang tembakau tersebut, ada seulas senyum miring yang terbit di sudut sana.

***

–Namsan, Rabu, 04 Mei 2016, 15:47 KST

“…tidak bersemangat,” pundak itu mengedik ringan seraya bibir yang mencebik acuh, “seperti dia kehilangan apa yang selama ini menjadi sandarannya.”

Baekhyun masih tak memecah suara, ia biarkan perempuan di hadapannya membicarakan apa yang ingin dikatakan si perempuan. Hanya ia perhatikan bagaimana bahasa tubuh manusia di depannya yang begitu beragam, dengan jari-jemari yang berkaitan terpangku di paha sementara punggungnya menyandar pada punggung kursi.

“Sedangkan di depan mataku, sandaran yang hilang itu justru tengah membeku seolah tak ada dosa yang diperbuat kala lampau.” Senyum sinis itu Baekhyun tangkap dengan jelas, lantas naik pandangannya pada biji mata yang sudah menatapnya tajam. Kali ini Baekhyun terkekeh sejenak. “Mulai kuragukan di mana Tuhan menggantungkan hatimu.”

Ketika kaitan jemari itu terurai, Baekhyun menunjuk dada kirinya dengan telunjuk lantas berujar, “Sudah lama bolong di sini. Aku memang tak punya hati.”

“Ya, kau memang tak pernah salah. Adikku mencintai lelaki gila tak berhati ini.”

“Teramat cinta. Apa aku sudah pernah mengatakannya? Kuharap aku memang tak melewatkan bagian yang ini ketika kuceritakan padamu, yang ini bagian kesukaanku, soalnya.” Baekhyun terkekeh-kekeh menyeramkan di akhir kalimatnya, membuat perempuan di depannya menggeram marah.

Ketika perempuan itu bangkit dari duduknya, Baekhyun mendongak santai, mengikuti pergerakan si perempuan dengan kepalanya, tanpa memberi sepatah kata sebagai salam.

“Berhenti terus mengirimi pesan paksaan untuk bertemu. Jangan padaku, ibu atau ayahku, atau teman-teman Byeon Seong.”

Tak dihiraukan peringatan tersebut oleh Baekhyun, hanya mengedik sembari mencebik remeh dirinya.

“Jika kau benar-benar ingin tahu keadaannya, temui ia secara pribadi.”

“Aku tak perlu melakukannya,” sahut Baekhyun ringan, “karena dia yang akan menemuiku.”

“Kau tak akan tahu hati seseorang. Bisa saja dia sudah berbalik teramat membencimu setelah kau campakkan dia begitu saja.”

Gelengan Baekhyun menguar, “Bukan aku, dia yang memilih pergi. Tapi tak usah aku khawatir, karena pada akhirnya dia adalah satu-satunya orang yang akan kembali padaku dengan sendirinya.”

“Betapa kuat kepercayadirianmu.” Sinisme itu timbul dengan jelas, mengundang tawa renyah Baekhyun.

“Jangan lupakan bagian di mana dia yang begitu mencintaiku,” kata Baekhyun mengerling, “oh, dan ingat ini baik-baik: dengarkan baik-baik segala yang diucapkan adikmu pada 6 Mei nanti. Omong-omong hari itu adalah hari kelahiranku, jika kau ingin tahu.”

“Ok, akan kuingat dengan baik.” Anggukan acuh tersebut membuat Baekhyun tersenyum puas. “Dan ingat pula ini baik-baik: jangan menjadi terlalu percaya diri atau kau akan menjadi yang paling tersakiti karenanya.”

Itu seperti mendorong tembok baja, ketika menyarankan suatu hal pada Baekhyun; sia-sia. Si perempuan yang telah menghilang dari pandangan Baekhyun di balik pintu kafe itu melakukan banyak kesia-siaan hanya untuk memberikan saran kepada seorang Byun Baekhyun, yang tengah tersenyum miring sekarang.

***

–Namsan, Jumat, 6 Mei 2016, 23:46 KST

Kakinya menembus hujaman jarum-jarum yang membasahi bumi dengan gontai. Acuh dirinya akan seluruh tubuh yang kuyup, sementara pandangannya memendar dan lebur dalam tetes tangisan langit malam.

Baekhyun tertawa-tawa kecil dalam lamunannya dengan langkah yang gontai dan lunglai, seolah tulangnya pun bahkan tak kuasa lagi menanggung beban berat dalam jiwanya. Tak ada yang bisa mengerti hatinya, tak ada yang cukup pintar untuk menerjemahkan bahasa tubuhnya, akan apa-apa saja yang ia inginkan dan dibutuhkannya. Tak pernah ada seorang pun yang berusaha ingin mengerti. Tidak, semenjak sosok itu dengan keputusan sendiri memilih pergi meninggalkannya.

Sekali lagi tawanya pecah, lantas membaur bersama debuman hujan. Sungguh ironis hidupnya yang ini, entah kesilapan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu hingga kini ia terkatung-katung tak menemukan arah tujuan.

Ketika tubuhnya telah terhindar amukan langit, Baekhyun mengikik lirih akan pandangan-pandangan penuh kerutan dari mereka yang berpapasan dengannya. Ia memasuki lobi apartemen, membawa tetes-tetes sisa tangisan langit yang ditampung pakaiannya untuk sang ubin. Langkahnya terseret pelan menuju kondominiumnya yang tampak suram dengan daun pintu yang berwarna hijau lumut.

Satu langkahnya terpental manakala pundaknya ditabrak seseorang, ia menoleh dan tersenyum sinis, “Matamu itu harusnya lebih kau ajari bagaimana caranya bekerja dengan baik.”

Si lelaki mengerut marah, kepalanya miring dan kakinya terajut mendekati Baekhyun untuk menarik kerahnya, “Apa katamu?”

“O bahkan telingamu juga bermasalah? Kasihan sekali kamu…” Baekhyun melepas tawa sarkastik, membuat pitaman si lelaki di depannya makin melejit.

Pukulan itu sudah melayang di udara dan nyaris menyapa kulit wajah Baekhyun keras, namun petugas keamanan datang lebih cepat dari ayunan tinju tersebut. Baekhyun diselamatkan dengan jaket kuyupnya yang ditarik ke belakang oleh si satpam.

Sementara sang satpam melerai keduanya, Baekhyun tampak melepas senyum sinis pada sang lelaki yang ia menabraknya. Tanpa kata kakinya ia ajak meninggalkan dua orang di sana. Kondominiumnya adalah tujuan utamanya.

Baekhyun meraih kunci kondo di balik saku jaket usai berjalan meraba-raba dinding lobi, membuka pintu dan menanggalkan sepatu serta jaket yang kuyup untuk ia campakkan di pojok ruangan.

Dingin.

Tak ada kehangatan yang bisa diperoleh Baekhyun di dalam kondonya, tidak bahkan secuil. Ruangan tersebut sudah lama membeku, layaknya hati dan jiwanya yang sekian lama merindu percik-percik kehangatan.

Melangkah Baekhyun lebih dalam, kepalanya menunduk seolah tengah ia ikuti petunjuk menuju Sorga lewat umpan permen seperti di film yang tak sengaja ia tonton di TV raksasa di jalan.

Sepasang kaki mungil yang mengerut di atas ubin es. Baekhyun melepas senyum miring kala kedua manik matanya menangkap sepasang kaki tersebut di depannya. Ia menggeret pandangan ke atas, adalah seorang gadis mungil berambut legam sebahu dengan wajah sendunya, ketika Baekhyun berhasil menatap wajah tersebut.

“Kado ulang tahun untukku, kan.” Baekhyun berjalan mendekati si gadis. “Apa pesan yang sudah kau sampaikan pada Eun Ha? Biar coba kutebak, eun, makan dengan baik dan jalani hidup dengan bahagia? Itu adalah keinginan banyak orang untuk kerabat terdekatnya, bukan begitu?”

Tak menjawab si gadis, bibirnya umpama kain yang telah terjahit rapat oleh benang. Mata kelam tersebut hanya memandang lurus menuju titik pandangan Baekhyun yang mengerling senang. Air mukanya keruh, seolah hanya jurang dalam tak berdasar.

Sementara di sisi berseberangan Baekhyun justru menebalkan senyum senang atas kedatangan si gadis. Langkahnya kian mendekat dan ia berhenti di jarak 3 langkah.

“Katakan selamat hari lahir padaku, Byeon Seong-ku Sayang.” Baekhyun tertawa keras dan detik berikutnya suara timah panas yang dipaksa keluar dari bibir pelatuknya itu menggema di seluruh sudut ruangan, menyisakan bunyi debuman keras di lantai dan asap mengepul dari ujung pistol di genggaman Baekhyun.

Byeon Seong mati, di bawah tawa mengerikan Byun Baekhyun.

***

–Namsan, Jumat, 8 Januari 2016, 07:59 KST

“Mau kupeluk? Aku sedang senang jadi kau bisa memelukku sesukamu,” kata Baekhyun seraya tersenyum manis, kedua lengannya merentang lebar, siap menyambut siapa saja yang rela masuk dalam dekapannya yang kehilangan makna.

“Apa yang sudah kau bunuh?”

“Anjing Pak Dong Chul, dia terus menggogong ketika aku lewat di depan rumahnya.”

“Kau begitu suka menghabisi nyawa apapun dan siapapun itu?”

“Itu bukan kesukaan, tapi kebutuhan. Aku merasa hidup dan senang sekali setelah satu nyawa melayang dengan tanganku, seperti hadiah yang didambakan saat ulang tahun jikalau seseorang memberikan nyawanya padaku.”

Byeon Seong lantas melepas sebuah desah penuh kelelahan, “Sampai kapan kau akan hidup seperti mayat, heung?”

“Kenapa bertanya seperti itu?” Baekhyun tertawa kering.

“Ayo pergi bersamaku, kau sudah tak pantas hidup. Perasaan sesal dan bersalah itu sudah pergi jauh sebelum kau sadari siapa dirimu.”

“Menyesal dan merasa bersalah untuk apa?” Baekhyun bertanya dengan santai seraya menurunkan lengannya.

“Kematian ibu dan ayahmu.”

Baekhyun membeo sejenak, lantas ia menjawab dengan begitu tenang dan santai, “Aku tidak suka sup rumput laut buatan Ibu, jadi kugorok lehernya. Ayahku? Aku tidak suka bau alkohol, jadi kusumpal mulutnya yang selalu mabuk itu dengan botol araknya yang pecah. Kenapa? Aku hanya tidak menyukai apa yang dilakukan mereka berdua.”

“Mereka mencintaimu.”

“Begitupun kau,” sahut Baekhyun manis.

“Begitupun aku.”

“Aku selalu membunuh orang-orang yang mengasihiku, aku tidak suka dikasihi karena hatiku tidak diajari cara mengasihi. Sudah kita sepakati dari awal, bahwa kau boleh pergi kapanpun sesukamu dan jangan pernah kembali. Kau berakhir ketika kau kembali, itu harga yang harus kau bayar.”

Anggukan itu membuat Baekhyun melepas senyum miring, “Aku akan pergi.”

“…”

“Aku pergi bukan karena takut padamu yang seorang psikopat, cintaku sudah membuatku gila. Aku pergi hanya untuk menikmati dunia untuk yang terakhir kalinya. Hari di mana kau dilahirkan, aku akan kembali pada hari itu sebagai hadiah ulang tahunmu.”

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s