[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] One Day, Three Autumns

1461672332033.jpg

A Whitearmor Story

.

.

One Day, Three Autumns

.

.

.

.

EXO’S Byun Baekhyun and OC’s Kim Hwanyoung

One Shot | AU and Fluff | General

“They say when you are missing someone that they are probably feeling the same, but I don’t think it’s possible for you to miss me as much as I’m missing you right now.”

Baekhyun sangat mencintai Kim Hwanyoung. Bagi Baekhyun, Kim Hwanyoung adalah dunianya dan tanpa gadisnya pemuda itu jelas tidak berarti apa-apa. Berbanding terbalik dengan Byun Baekhyun yang begitu mengagungkan dirinya, Kim Hwanyoung justru berpikir jika rasa cinta yang berlebihan itu sangat mengganggu. Bukannya Hwanyoung bermaksud untuk menyakiti perasaan Baekhyun—berpikir untuk menyakitinya saja tidak pernah—hanya saja ia merasa sikap pria yang begitu mencintainya itu sudah tidak pantas lagi mengingat umur keduanya yang sudah tak lagi muda.

Hubungan Baekhyun dan Hwanyoung sendiri sudah terjalin sejak lama, mereka merupakan sahabat kecil. Tumbuh dewasa bersama, hubungan yang awalnya hanya sepasang sahabat lambat laun berubah menjadi sepasang kekasih.

Awalnya Hwanyoung sempat risih ketika Baekhyun tiba-tiba saja memanggilnya dengan sapaan ‘sayang’ ataupun ‘kekasihku’ tetapi setelahnya Hwanyoung sudah mulai terbiasa. Ketika Baekhyun menghujaninya dengan jutaan panggilan istimewa maka Hwanyoung cukup memanggil pria itu dengan namanya seperti biasa. Lidah Hwanyoung bisa kaku jika dipaksa melafalkan kata ‘sayang’ hanya untuk memanggil Baekhyun.

Malam ini, Hwanyoung masih berada di kantornya lengkap dengan kacamata bertengger di wajah. Laptop yang menampilkan slide show untuk rapat lusa masih terpampang jelas. Lagi, Hwanyoung meneguk kopi yang sudah dingin. Ia berharap rasa kantuk bisa tertunda sejenak setidaknya sampai seluruh tanggung jawabnya ini selesai.

“Young-a, ayo pulang.”

Suara merengek dari Baekhyun terdengar. Hwanyoung mengangkat kepala dan memandang kekasihnya. Hwanyoung jelas tidak meminta Baekhyun untuk datang ke kantornya, dia justru memaksa sang pemuda untuk langsung pulang dan beristirahat. Lalu sekarang? Pemuda itu malah merengek.

“Young-a…” gumam Baekhyun.

Kali ini Hwanyoung berusaha untuk tidak menggubris perilaku Baekhyun yang bertindak seperti seorang anak kecil. Gadis itu berusaha kembali fokus pada pekerjaannya yang nyaris selesai. Baekhyun yang merasa diabaikan lantas bangkit dari sofa, berjalan menghampiri meja kerja Hwanyoung.

Kedua tangan Baekhyun kini sibuk mengambil beberapa kertas yang berserakan di atas meja kerja Hwanyoung. Sekilas ia membaca isinya, kemudian mengangguk-anggukan kepala. “Pantas saja kamu bekerja lembur hingga semalam ini,” sahutnya sambil merapihkan kertas-kertas itu. Hwanyoung hanya bergumam tidak jelas dengan kedua manik mata yang masih terfokus pada slide show-nya.

“Selesai!” Sahut Hwanyoung sambil merenggangkan kedua tangannya. Ia pun segera menyimpan seluruh dokumen penting di dalam laptopnya kemudian mematikan perangkat elektronik itu. Baekhyun yang berada di dekatnya lantas membantu untuk merapihkan meja kerja dan dalam waktu singkat mereka sudah pergi meninggalkan ruang kerja Hwanyoung.

“Apa kamu mau makan dulu?” Tawar Baekhyun. Hwanyoung menggeleng sesaat setelah menghempaskan tubuhnya ke atas kursi mobil.

“Tetapi kamu belum makan. Apa kamu pikir kafein itu bagus untuk tubuhmu?” Balas Baekhyun sengit. “Ketika sampai di rumah aku akan memasak,” ucap Baekhyun lagi, kali ini dibumbui dengan nada memaksa.

Hwanyoung hanya mengangguk kemudian menutup kedua matanya rapat sekadar ingin mengurangi rasa lelahnya sebelum sampai ke rumah. Baekhyun sendiri tidak banyak bicara setelah itu, hanya fokus menyetir mobil sembari sesekali bersenandung.

“Hwanyoung, kita sudah sampai,” ucap Baekhyun seraya mengguncangkan pelan tubuh gadis di sisi kursi kemudinya. Hwanyoung membuka kedua matanya paksa dan  mengerejap. Tak lama ia pun segera turun diikuti oleh Baekhyun.

“Kamu tidak langsung pulang?” Tanya Hwanyoung bingung.

Kekasihnya itu menggeleng. “Kamu selalu bilang tidak pernah mau pulang semalam ini,” imbuhnya lagi. Baekhyun hanya tersenyum tipis dan meminta Hwanyoung untuk segera membuka pintu rumah agar keduanya bisa segera masuk.

Setelahnya, Hwanyoung berlari menuju kamar dan menghempaskan tubuh ke atas ranjang—yang entah mengapa malam ini terasa lebih empuk. Sedangkan Baekhyun melangkahkan kaki menuju dapur, mungkin pemuda itu tidak semahir Kyungsoo dalam hal memasak, tetapi setidaknya Baekhyun sudah lulus memasak menu-menu sederhana seperti omurice dan pasta bolognese.

Di dapur, Baekhyun nampak sibuk mencari bahan dan alat untuk membuat omurice. Ketika semua persiapan selesai, Baekhyun lantas mulai memasak. Ia jelas berharap jika masakannya kali ini enak dan tidak kekurangan suatu apapun. Ia ingin masakannya sempurna untuk gadisnya.

Baekhyun menatap sepiring omurice dengan hiasan saus yang dibentuk hati dengan bangga, lantas segera dibawanya masakan itu ke kamar Hwanyoung. Namun ketika ia melihat Hwanyoung yang sudah jatuh terlelap meskipun belum berganti pakaian bahkan melepaskan sepatu, Baekhyun jadi ragu. Ia tidak tega jika harus membangunkan Hwanyoung yang pasti sangat kelelahan sedangkan ia juga tidak ingin jika gadis itu sakit karena melewatkan makan malam terlebih ia sudah banyak meneguk kopi tadi.

“Young-a, apa mau makan?” Tawar Baekhyun pelan. Ia duduk di sisi tubuh Hwanyoung yang tengah berbaring. Piring berisi omurice-nya ia letakkan terlebih dahulu di atas nakas. “Kalau kamu tidak makan, nanti kamu sakit tetapi kalau kamu makan dulu, nanti kamu malah kurang istirahat dan pusing. Aku dilema,” imbuh Baekhyun.

Hwanyoung yang mendengar samar suara Baekhyun akhirnya memaksakan dirinya untuk kembali terjaga. Meskipun dirinya sangat mengantuk tetapi ia  harus memakan masakan yang sudah susah payah dibuatkan oleh kekasihnya. Baekhyun yang melihat Hwanyoung berusaha untuk bangkit segera membantunya.

“Ayo buka mulutmu,” titah Baekhyun seraya mengarahkan sesendok penuh omurice ke arah mulut Hwanyoung. Gadis itu terdiam sesaat, memandang sendok di hadapannya dan wajah Baekhyun yang masih menyuruhnya untuk membuka mulut bergantian. Kekasihnya ini jelas terlalu baik untuk Hwanyoung.

Hwanyoung pun membuka mulut, membiarkan omurice buatan Baekhyun masuk ke dalam mulutnya. Baekhyun sendiri kini didera perasaan cemas, takut jika rasa masakannya tidak enak. Ketika makanan itu melewati kerongkongan Hwanyoung dan masuk ke dalam lambungnya, Baekhyun menahan napas. Ia menunggu komentar dari gadisnya. Namun tidak ada kata yang keluar, Hwanyoung malah menawarkan diri untuk makan sendiri. Itu artinya Baekhyun sudah melakukan tugasnya dengan baik.

“Young-a, aku ingin pamit.”

“Biasanya kalau mau pulang, kamu langsung menarikku hingga ke depan pintu rumah. Apa kamu sakit?” balas Hwanyoung bercanda. Keduanya lantas tertawa. Meskipun Hwanyoung tidak semudah Baekhyun dalam menunjukkan rasa cinta namun gadis itu punya caranya sendiri untuk meluluhkan hati Baekhyun dan ia suka itu.

“Besok pagi aku berangkat ke Beijing, ada urusan pekerjaan.”

Dua kalimat itu sontak menghentikan aktivitas Hwanyoung. Ia menatap Baekhyun meminta penjelasan lebih. Namun Baekhyun hanya diam kemudian mengelus rambutnya pelan. “Sudah ya, aku pulang dulu. Aku belum berkemas,” tukas Baekhyun cepat lantas segera pulang.

Suasana rumah Hwanyoung mendadak sepi. Seusai makan dan mencuci piringnya, Hwanyoung malah tidak bisa kembali tidur. Sepanjang malam ia hanya duduk bersandar di atas ranjangnya, menatap layar ponsel yang menampilkan foto dirinya dan Baekhyun.. Ia mengusap wajah ceria Baekhyun di ponselnya. Mendadak rasa rindu menguasai dirinya.

Hwanyoung ingin sekali menghubungi Baekhyun namun ia enggan melakukannya hingga tanpa sadar hari sudah berganti dan sinar matahari mulai bersinar. Tiba-tiba ponselnya bergetar, layarnya menampilkan nama Baekhyun. Gadis itu pun buru-buru mengangkatnya.

“Apa kamu sudah sampai?!” Tukas Hwanyoung cepat bahkan Baekhyun belum sempat mengucapkan selamat pagi untuk gadisnya. Terdengar suara tawa kecil dari ujung sambungan telepon.

“Aku sedang menunggu taksi. Ka—”

Belum selesai Baekhyun membalas ucapan Hwanyoung, ia malah bergegas pergi ke kamar mandi. Baekhyun yang bingung karena kekasihnya tidak kunjung menjawab akhirnya memutuskan untuk mematikan ponselnya. Baekhyun berpikir jika kekasihnya itu sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.

Bersamaan dengan itu, taksi yang Baekhyun tunggu akhirnya datang. Ia pun segera memasukkan kopernya ke dalam bagasi dan berangkat ke bandara. Di waktu yang sama, Hwanyoung baru saja keluar dari rumah dan mencari taksi kosong untuk mengantarnya ke bandara. Namun sudah lebih dari sepuluh menit mencari, ia masih belum menemukan taksi kosong. Ia hampir menyerah ketika secara ajaib sebuah taksi kosong akhirnya berhasil didapatkan.

Dalam perjalanan, Hwanyoung masih nampak gusar. Sesekali ia mengecek waktu di jam tangannya seraya berdoa agar tidak terlambat. Entah kenapa, kepergian Baekhyun kali ini untuk urusan pekerjaan terasa berbeda. Biasanya pria itu akan memberitahukan keberangkatannya beberapa hari sebelum pergi. Ini sangat mendadak bahkan Hwanyoung belum sempat mengucapkan selamat tinggal dan memeluknya.

Begitu sampai di bandara, gadis itu segera turun dari taksi. Kedua kakinya dipaksa berlari di antara orang-orang yang lalu-lalang di bandara. Kedua matanya kini mencari sosok Baekhyun. Harapannya untuk bertemu seketika pupus ketika pengumuan pesawat tujuan Beijing akan segera lepas landas. Hwanyoung bergeming.

Baekhyun yang hendak masuk ke dalam pesawat seketika menghentikan langkahnya dan berbalik. Jika ia tidak salah lihat, tadi netranya seolah menangkap sosok Hwanyoung berbalut kemeja putih dan celana jeans potongan tiga perempat tengah diam di tengah hiruk-pikuk bandara.

“Young-a!” Panggil Baekhyun sambil datang menghampirinya.

Hwanyoung mengangkat kepala, mencari sumber suara yang telah memanggilnya. Kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati Baekhyun yang tengah berjalan menghampirinya sambil menarik sebuah koper besar. Hwayoung pun segera berlari mendekat dan memeluk prianya. Baekhyun yang kaget dengan sikap manis Hwanyoung hanya bisa balas memeluknya.

“Astaga! Kamu bahkan sampai menyusulku hingga ke bandara,” sahut Baekhyun diselingi tawa. Hwanyoung melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun cukup lama.

“Aku belum mengucapkan selamat tinggal.”

“Apa kamu akan merindukanku?” Tanya Baekhyun menyelidik.

Kepergiannya untuk urusan pekerjaan tentu bukan kali pertama namun gadis ini tidak biasanya bersikap seperti ini bahkan sampai rela menyusulnya ke bandara. Jika ia hendak pergi, Hwanyoung hanya akan membantunya mengemasi barang dan mereka akan saling berpelukan seraya mengucap selamat tinggal setelahnya.

Baekhyun tahu pasti jika Hwanyoung tidak suka pergi ke bandara karena beberapa alasan yang tak ingin ia sebutkan. “Hei! Aku bertanya kepadamu, Kim Hwanyoung. Apakah kamu akan merindukanku?” tanya Baekhyun lagi. Kali ini ia menangkup wajah kecil Hwanyoung dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu untuk benar-benar menatapnya.

Hwanyoung hanya mengangguk pelan. Baekhyun sontak dibuat gemas oleh sikap Hwanyoung yang mendadak jadi begitu manis. Ia pun mengecup puncak kepala gadis itu lembut. Keduanya lantas saling bertukar pandang dan mengulas senyum.

“Sampai jumpa minggu depan, sayang!” sahut Baekhyun kemudian segera melangkah pergi. Namun sempat langkah membuat jarak di antara keduanya, Hwanyoung dengan cepat menghentikannya. Ia kemudian memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru pada Baekhyun.

“Selamat ulang tahun, sayang,” ucap Hwanyoung pelan. Baekhyun kembali tertawa ketika mendengar gadisnya untuk pertama kali memanggilnya ‘sayang’. Ia menerima kado ulang tahunnya itu kemudian baru benar-benar pergi. Dari kejauhan, Hwanyoung menatap punggung Baekhyun yang semakin lama menjauh.

Dua hari semenjak kepergian Baekhyun, Hwanyoung menjalani harinya seperti biasa. Ia pergi ke kantor dan baru pulang pukul sepuluh malam. Tidak ada telepon bahkan pesan dari Baekhyun sepanjang dua hari itu. Hwanyoung yakin jika kekasihnya pasti sedang sibuk jadi belum bisa menghubunginya.

Diam-diam Hwanyoung merindukan sosok Baekhyun. Ia bahkan rindu omurice buatan pria itu meskipun rasanya sangat asin. Ia rindu suara pria itu ketika memanggilnya meminta perhatian. Ia sepertinya mulai dilanda virus kerinduan kepada Byun Baekhyun.

Bagaikan gayung bersambut, ponsel Hwanyoung tiba-tiba saja berdering. Ia pun dengan cepat mengangkatnya karena tahu telepon tersebut dari Baekhyun.

Ni Hao*, sayang,” sapa Baekhyun. Hwanyoung masih terdiam, tidak mengerti harus membalas apa. Ia bisa mendengar suara tawa renyah Baekhyun, “Aku lupa jika kamu tidak mengerti Bahasa Mandarin. Itu artinya aku mencintaimu.”

Hwanyoung tertawa. Meskipun ia tidak mengerti Bahasa Mandarin namun setidaknya ia tahu jika arti dari Ni Hao jelas bukanlah ‘aku mencintaimu’. Hwanyoung dulu pernah menonton drama yang mengatakan jika kalimat Wo Ai Ni*-lah yang memiliki arti aku cinta kamu.

“Aku tidak semudah itu untuk kamu bohongi.”

Baekhyun lagi-lagi tertawa, “Aku hanya bercanda. Apa kamu merindukanku?”

“Kapan kamu pulang?” Hwanyoung balik bertanya. Ia jelas merindukan Baekhyun namun terlalu gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Lima hari lagi. Aku rasa kamu sangat merindukanku!” Sahut Baekhyun senang. “Kamu tahu, orang-orang bilang jika seorang kekasih merindukan pasangannya maka pasangannya itu juga memiliki kerinduan yang sama.”

“Jadi, kamu berpikir aku juga merindukanmu?”

“Tidak! Aku berpikir, tidak mungkin jika kamu merindukanku sebesar aku merindukanmu.”

Hwanyoung terdiam, ia merasa kedua pipinya mulai memerah. “Kenapa kamu diam? Aku benar, kan?” goda Baekhyun.

“Aku juga merindukanmu, sangat…” balasnya pelan. Perasaan lega seketika melingkupi Hwanyoung. Seharusnya sejak dulu ia bisa lebih terbuka dalam menunjukkan perasaannya pada Baekhyun. Ia selama ini salah menanggapi sikap Baekhyun, justru dalam suatu hubungan mereka memerlukan keterbukaan atas perasaan masing-masing.

Yi Ri San Qiu*,” ucap Baekhyun lambat yang membuat dahi Hwanyoung berkerut karena tidak mengerti. “Aku tutup dulu, ya. Aku harus kembali rapat,” imbuhnya.

Sambungan telepon pun terputus, sedetik kemudian Hwanyoung berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mengubah sikapnya menjadi lebih terbuka dan hangat pada Baekhyun.

 

Tamat.

*Yi Ri San Qiu (One Day, Three Autumns) is A Chinese idiom that is used when you
miss someone so much, one day feels as long as three years.

*Ni Hao : Hello

*Wo Ai Ni : I Love You

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. uchie vitria says:

    hwayoung mulai berubah kadang rasa rinsu begitu menggebu dan menyakiti kala merasa kebosanan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s