[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Everything For You

Everything for you.jpg

Everything For You

Author: Lulu Kim

Cast: Kim Yoo Mi, Byun Baekhyun and his mother

Genre: Family, Hurt/Comfort

Length: Oneshoot

Rate : T

Disclaimer : This fanfiction is MINE! Don’t Bash and Don’t Copas!

.

.

Lulu Kim Story Line

.

.

Everything For You

.

.

    Apakah kau tahu bahwa aku begitu mencintaimu? Ingatkah kau saat kita dahulu sering tertawa bersama? Tahukah kau bahwa aku merindukanmu? Merindukan sosokmu yang dahulu kukenal.

Aku ingat dengan jelas bahwa kau dulu adalah pria muda yang tampan dengan senyum secerah matahari. Wajahmu manis, begitu pula dengan sikapmu. Kau juga sopan dan memiliki pribadi yang menyenangkan. Bahkan kau juga sangat menggemaskan sekalipun kau adalah seorang pria.

Byun Baekhyun. Bukankah itu nama yang indah? Bukankah kau suka saat namamu itu terlontar bersama kata ‘cinta’ dari bibirku?

“Aku sangat mencintaimu, Byun Baekhyun.”

“Aku juga mencintaimu, Ibu,” kau membalas dengan sebuah pelukan hangat yang kau hadiahkan untukku saat itu. Kau tersenyum manis lalu berceloteh dengan suara merdu khas anak-anak. Bercerita tentang ini-itu dengan bersemangat. Kau juga suka berlarian kesana kemari dengan teriakan-teriakan lucu.

Apakah kau tahu? Aku sangat bahagia dan bersyukur karna memilikimu.

Hingga suatu hari sebuah kecelakaan terjadi. Aku tidak tahu bagaimana detailnya, namun satu hal yang pasti adalah kecelakaan itu telah merenggut sosok pria yang paling kau hormati selama ini –ayahmu.

Lalu segalanya berubah setelah itu. Perusahaan yang seharusnya kau warisi bangkrut dan segala yang kau miliki lenyap dalam sekejap. Aku sungguh menyesal karna aku tidak bisa melindungi apa yang seharusnya menjadi milikmu. Di usiamu yang baru menginjak enam belas tahun, kau harus merasakan perubahan derastis dalam hidupmu. Dari serba ada menjadi apa adanya. Dari tinggal di istana yang besar ke rumah kecil di pinggir kota.

Dan aku merasa gagal saat sadar bahwa aku terlalu memanjakanmu selama ini dengan gelimangan harta hingga kau tidak sanggup menghadapi realita hidup saat semua yang kau miliki menghilang. Sekarang, kau pun telah berubah. Kau menjadi pria dengan tempramen buruk. Kau tidak lagi tersenyum di depanku. Suara merdumu bahkan sering meninggi dengan sebuah gertakan yang terasa menyayat hati secara perlahan.

“Jangan menyentuhku!” teriakmu marah saat tanganku terulur untuk membantumu memakai dasi. Dengan tatapan tajam kau menampik tanganku kasar.

“Baek, Ibu hanya ingin membantumu.”

“Membantuku? Kalau begitu bekerjalah dengan baik agar kau bisa membantuku mendapatkan segalanya kembali.”

“Baek-“

“Aish! Sudahlah, aku muak mendengar ucapanmu,” kau berdesis tajam lalu segera berjalan ke arah rak sepatu. Dan secara refleks aku segera berlari ke dapur mengambil satu porsi sarapan untukmu. Namun sekali lagi, hanya sebuah penolakan yang kudapatkan saat nasi dengan lauk itu tersodor di hadapanmu.

“Baekhyun, makanlah meski hanya sedikit,”

Kau berdecak sebelum mengambil piring itu dari tanganku lalu membantingnya dengan keras. Menimbulkan suara pecahan beling yang tidak jauh berbeda dengan suara hatiku yang ikut pecah.

“Kau ingin aku makan makanan sampah itu?”

“Baek-“

“Aku akan makan di kantin sekolah nanti,” ucapmu acuh lalu kembali melanjutkan kegiatanmu yang sempat tertunda tadi –memakai sepatu. Lalu setelah selesai, kau keluar rumah tanpa mencium tanganku seperti yang dulu biasa kau lakukan. Tidak berselang lama, suara motormu terdengar meninggalkan halaman rumah. Menyisakanku bersama hati yang remuk.

Kemanakah dirimu yang dahulu?

~oOo~

    “Baek, Ibu sudah punya uang. Kau bisa gunakan untuk membayar sekolah dan membeli apa yang kau inginkan dengan sisanya,” kuulurkan beberapa lembar won padamu saat kau pulang dengan harapan bahwa kau akan tersenyum dan memelukku dengan sayang.

“Baguslah,” ucapmu dengan senyum tipis yang membuatku ikut tersenyum. Sungguh, aku sangat bahagia saat melihat senyummu meski hanya sedikit. Namun ternyata itu tidak bertahan lama, karna sedetik kemudian sebuah kerutan tipis menghiasi dahimu. “Ck! Sedikit sekali!” gerutumu tidak terima setelah menghitung jumlahnya.

“Baek, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar sekolah-“

“Beri aku lebih banyak lagi,” kau kembali menuntut namun aku tak bisa berbuat apapun.

“Maaf, Baek,” sesalku yang hanya kau tanggapi dengan sebuah decakan yang terasa menancap di ulu hati.

    “Ck! Itulah sebabnya kau harus bekerjalah lebih keras lagi! Jangan hanya bermalas-malasan dan menghabiskan peninggalan ayahku saja!” ucapmu sarkastik sembari merenggangkan dasi lalu masuk ke kamar tanpa mengucapkan apapun lagi. Sama seperti tadi pagi, kau meninggalkanku dengan luka yang kian dalam.

    Apakah kehilangan harta juga membuatmu kehilangan hati hingga kau tega bersikap seperti itu pada ibumu sendiri, Baek?

~oOo~

    Keesokan paginya, aku kembali bekerja seperti biasa. Setelah kau berangkat ke sekolah, aku segera pergi ke rumah-rumah tetangga untuk mengambil cucian. Ya, selain sebagai cleaning servis, aku hanyalah buruh cuci. Mungkin karna inilah, kau malu mengenalkanku pada teman-temanmu. Bukankah begitu, Baekhyun sayang?

    “Bibi Byun, beristirahatlah,” aku menoleh saat Kim Yoo Mi, tetangga kita yang beberapa tahun lebih tua darimu tiba-tiba datang dan menyisingkan lengan bajunya hanya agar bisa membantuku mencuci.

    “Aissh, nona Kim kenapa ikut mencuci? Nanti kalau Ibumu tahu, dia akan marah pada Bibi.”

    Gadis manis itu terkekeh pelan, “Bibi ini seperti tidak mengenalku saja. Sudahlah, biar aku saja yang kerjakan dan Bibi beristirahatlah. Lagipula, aku kuliah agak sore hari ini.”

    Aku tersenyum padanya. Dia memang anak manis yang baik hati –sama seperti Baekhyun kecilku dulu.

    “Bibi apa sudah membeli hadiah untuk Baekhyun?”

    Tanyanya yang seketika mengingatkanku pada satu hal. Ulang tahunmu, Baekhyun.

    “Oh astaga! Bibi hampir saja lupa.”

    Yoo Mi kembali tersenyum, “aku akan menemani Bibi membeli hadiah jika bibi mau. Kudengar anak laki-laki suka topi atau sepatu yang membuat mereka terlihat keren. Aku tahu dimana kita bisa membeli topi dan sepatu yang keren tapi murah di daerah Dongdaemun. Kita bisa kesana bes –Oh astaga! Bibi kenapa?”

    Samar-samar kudengar suara terkejut Yoo Mi. Entah mengapa penglihatanku mengabur secara perlahan. Dadaku terasa terhimpit sesuatu yang besar dan kepalaku terasa berat. Tidak berselang lama, semuanya menjadi gelap.

~oOo~

“Euggh,” perlahan kukerjapkan kedua mataku saat bias-bias cahaya terasa menusuk iris. Dan setelah sepenuhnya sadar, kudapati diriku berada di ruangan yang penuh dengan warna putih dengan bau obat yang menyengat.

Rumah sakit.

“Bibi, sudah sadar? Aishh untung saja tidak apa-apa. Dokter bilang Bibi harus banyak istirahat. Bibi kan tahu bagaimana kondisi kesehatan Bibi saat ini, kenapa masih saja nekat dan menyiksa diri? Bibi tahu kan-“

“Yoo Mi-ya,” aku menyela. Membuat Yoo Mi mengehentikan omelan panjang tanpa jedanya yang terasa seperti rel kereta api itu. Dia mengerjap sekali dan dengan imutnya berujar “ya?”

“Kau gadis yang baik dan manis. Bibi akan sangat senang jika kau mau menemani Baekhyun. Kelak, menikahlah dengannya dan sayangi dia.”

Yoo Mi tersenyum hangat. Dia sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun menutup kembali saat sebuah dering ponsel terdengar. Itu ponselku.

Dan ketika aku mengangkat panggilan dari nomer tidak dikenal itu, duniaku serasa hancur.

“Apakah anda Ibu dari tuan Byun Baekhyun? Anak anda baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis di ICU.”

    Tuhan, aku tak ingin kehilangan dia!

~oOo~

    “Maaf nyonya Byun, kami tidak memiliki stok jantung untuk putra anda. Kecelakaan itu telah mematahkan beberapa tulang rusuk Byun Baekhyun dan membuat jantungnya rusak. Kami sudah meminta bantuan dari rumah sakit pusat, namun di sanapun juga tak memiliki stok. Aku khawatir, putra anda tidak akan bisa bertahan lebih dari 24 jam.”

    Kepalaku berdenyut sakit dan seluruh tubuhku serasa lemas saat dokter menjelaskan tentang keadaanmu. Sungguh, rasanya menyakitkan saat mengetahui bahwa aku akan kehilangan dirimu. Kau segalanya bagiku. Jika kau pergi, bagaimana denganku?

    “Maafkan kami, Nyonya Byun.”

    Masih dengan air mata yang mengalir dan dengan kesadaranku yang entah mengapa kian menipis, kuraih tangan dokter ber-nametag ‘Kim Junmyeon’ itu, “kumohon selamatkan putraku. Sebentar lagi adalah ulang tahunnya. Jadi, jangan biarkan dia mati.”

~oOo~

Epilog

2 Minggu kemudian …

    “Baekhyun, bagaimana perasaanmu sekarang?” Yoo Mi berujar dengan tangan yang menggenggam lembut tangan Baekhyun. Setelah dua minggu di rawat di rumah sakit, Baekhyun akhirnya bisa kembali pulang. Namun ada satu hal yang begitu mengganjal perasaannya saat dia menyadari bahwa Ibunya sama sekali tidak menjenguk selama dia berada di rumah sakit. Apakah wanita paruh baya itu marah padanya?

    “Aku rindu Ibu,” ucap Baekhyun tanpa sadar dan Yoo Mi dengan sayang mengusap puncak kepala si pria yang duduk di kursi roda itu. Lalu dengan perlahan mendorongnya memasuki area perumahan minimalis yang selama ini dibenci Baekhyun.

    “Bibi Byun pasti juga merindukanmu.”

    “Jika Ibu rindu padaku, mengapa dia sama sekali tidak menjenguk? Apa Ibu marah padaku, Noona? Aku tahu aku sudah kasar padanya selama ini dan aku sungguh menyesal karena itu. Apakah Ibu tidak mau memaafkanku?”

    “Dia tak pernah marah padamu, Baek. Dan asal kau tahu saja, dia selalu memaafkanmu.”

    Yoo Mi menghentikan dorongannya tepat di depan pintu rumah Baekhyun lalu membukanya dengan kunci yang Ibu Baekhyun titipkan tempo hari. Setelah bunyi ‘klik’ terdengar dua kali, pintu itu terbuka dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Yoo Mi mendorong kursi roda Baekhyun untuk masuk.

“Ibu, kau dimana?” panggil Baekhyun namun tidak ada sahutan yang ia dengar. Iris kelamnya mengedar mencari sosok wanita paruh baya yang entah mengapa sangat ia rindukan. Sedangkan Yoo Mi hanya menatap sedih pada Baekhyun yang memutar rodanya sendiri menjelajahi setiap sudut rumah sempit itu.

Pertahanan Yoo Mi akhirnya hancur dan dia sudah tidak kuasa menahan bendungan air mata saat sosok Baekhyun memasuki kamarnya lalu menangis histeris saat melihat objek di atas ranjang.

Sebuah album foto yang besar dan juga sepucuk surat.

Baekhyun ingat, itu adalah album foto yang paling disukai Ibunya.

“Lihat, disini banyak sekali foto Baekhyun. Dengan begini, Ibu akan selalu ingat bagaimana wajah Baekhyun kecil yang Ibu cintai.”

“Ibu kan bisa melihat wajah Baekhyun secara langsung setiap saat. Untuk apa melihat foto?”

“Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kelak, Baekhyun. Lagipula, Ibu suka melihat wajah Baekhyun saat kecil. Ibu akan membukanya setiap malam untuk mengingat betapa manisnya putra Ibu ini.”

“Oh, lihat. Ada foto Ibu dan Ayah juga.”

“Tentu saja.”

“Apakah Baekhyun boleh memiliki foto Ibu yang ini? Baekhyun ingin menyimpannya.”

“Eummm. Tidak Baekhyun. Biarkan foto ini tetap di dalam album. Ibu akan memberikan seluruhnya padamu jika Ibu sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Saat Ibu …”

“Sudah meninggal? I-Ibu sudah meninggal?” gumam Baekhyun sambil meraih album foto itu dan membawanya ke dalam pelukan. Seakan-akan ia telah memeluk Ibunya sama seperti yang ia lakukan dahulu. “Ibu, maafkan Baekhyun,” lalu dengan tangan yang bergetar, ia buka lembar demi lembarnya. Baekhyun tidak menyangka, Ibunya begitu telaten menyimpan potret masa kecilnya lengkap dengan sedikit tulisan yang menunjukan curahan hati. Membuat album itu lebih cocok disebut diary daripada sekedar album foto.

Lama ia berkutat dengan album, Baekhyun kemudian memilih beralih pada suratnya. Dengan air mata yang masih setia mengalir, ia buka surat berwarna biru laut itu dan sedikit terkejut saat tulisan Ibunya terbaca. Tulisan itu terlihat sedikit berantakan, mungkin Ibu Baekhyun menulisnya dengan menangis atau … dengan menahan rasa sakit.

“Untuk putra kesayangan Ibu, Byun Baekhyun.

Hallo sayang? Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik? Apakah sekarang sudah tanggal 6 Mei? Maaf, Ibu belum sempat membelikan hadiah untukmu ataupun memasakan makanan kesukaanmu di hari jadimu yang ke delapan belas ini. Kuharap, kau tidak marah ataupun kecewa.

Maaf juga, Ibu tidak memberi tahumu tentang kanker otak yang Ibu alami sejak tiga tahun terakhir ini. Ibu tahu kau sudah cukup menderita dengan kehilangan ayahmu, jadi Ibu tidak ingin kau semakin terbebani dengan penyakit Ibu.

Sebenarnya Ibu sudah cukup sekarat saat kecelakaan itu terjadi padamu. Ibu rasa, waktu Ibu tidak akan lama lagi. Tetapi, kau berbeda. Kau masih muda dan kau berhak untuk lebih lama merasakan kehidupan. Jadi, Ibu fikir untuk memberikan jantung Ibu untuk menggantikan jantungmu yang rusak. Anggaplah ini sebagai hadiah ulang tahunmu,Sayang. Dengan begini, Ibu akan selalu hidup bersama dengan setiap detakan jantungmu.

Oh ya, Ibu rasa Yoo Mi menyukaimu, Baekhyun. Meskipun dia lebih tua, Ibu rasa dia cocok untukmu. Ibu yakin dia akan memperlakukan Baekhyunku ini dengan baik setelah Ibu pergi. Jadi, menikahlah dengannya saat kau sudah benar-benar dewasa kelak.

Oh ya, satu hal lagi. Ibu sangat mencintaimu, sayang. Ibu juga sudah memaafkan segala kesalahanmu. Jadi, hiduplah dengan baik setelah ini. Kembalilah menjadi Baekhyun yang manis seperti yang Ibu kenal dulu. Dan jangan lupa untuk mengingat bahwa kau tidak akan pernah sendiri karna Ibu akan selalu bersama setiap detakan jantungmu serta mengawasimu selalu.

Dengan Penuh Cinta,

Ibumu.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s