[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Annyeonghaseyo Stranger

Annyeonghaseyo Strange.jpg

by Donut Kacang

    “Baekhyun-ah!!!” sambil berlari Kyungsoo mengejar seorang namja berumur setahun lebih tua darinya. Namja itu terhenti. Membalikkan tubuhnya demi mendengar panggilan dari Kyungsoo.

    “Waeyo?” tanya namja itu santai.

    “Uhh.. huh..” napas Kyungsoo terenggah-enggah. “Jebal.. gaji maseyo (kumohon jangan pergi).” Ucap Kyungsoo dengan tatapan sedih. Namja itu hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.

    “Geogjeonghaji maseyo (jangan khawatir). Nan gwaenchanh-eulgeoya (aku akan baik-baik saja).” Sambil menepuk pundak Kyungsoo. Kembali berjalan meninggalkan Kyungsoo. Menghilang ke dalam elevator.

***

    “Yeoboseyo?” sapa Suho dari ujung telepon.

    “Yeoboseyo. Ah, Hyung! Naneun najung-e wass-eoyo (Aku sudah sampai). Nugu na hante malhal geos ? (Siapa yang kau suruh menjemputku?)” tanya namja itu sambil menggiring koper kecilnya keluar bandara.

    “Ah, lihatlah orang yang membawa spanduk menggunakan hangul. Dia adalah rekan ayahku. Bicaralah dengan menggunakan Inggris. Dia orang local sini.” Jawab Suho.

    “Oh, okay. Aku sudah melihatnya. See yo~” namja itu memutuskan teleponnya lalu menghampiri namja yang dimaksud oleh Suho. “So, is Suho command you to pick up me?” tanya namja itu.

    “Yes, sir. Are you Baek–?” tanya namja itu yang langsung ditutup mulutnya dengan tangannya Baekhyun.

    “Sssh.. no one know if I there. Let’s go.” Kata Baekhyun melepas kukupan tangannya dan langsung berjalan sambil membenahi kacamata juga maskernya.

***

    Take your time.. waenji dugeundaeneun bam-iya (Na Na Na Na x 2)~ Baekhyun bersenandung dalam mobil sambil melihat-lihat kota. “Hmm.. Indonesia is good. I usually just see in the night.” Kata Baekhyun kepada sopir.

    “Not too good. How ‘bout we pass an another way? Maybe it’s more narrow way.”

    “It’s okay. Which is important to fast until.” Jawab Baekhyun setuju. Mobil pun berbelok ke gang-gang kecil. Salah satu cara menghindari kemacetan kota Jakarta. Mobil pun mulai melewati gang yang sepi. Sopir yang membawa Baekhyun terlihat mulai cemas. Baekyun yang melihat ekspresi aneh si sopir langsung bertanya.

    “What happen?”

    “Nothing. I just affarid if there is robber here. I feel that there some people who rider motorcycles following us just now.” Jawab sopir mempercepat mobil. Baekhyun menoleh ke belakang. Beberapa motor sedang melaju di belakang mobil. Jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka. Pengendara motor itu menggunakan baju hitam serta masker untuk menutupi wajah mereka.

    “Aigoo! You true. You’ve to be fast! I’ll call Suho.” Kata Baekhyun cemas. Karena gang yang dilewati banyak sekali polisi tidur, kecepatan mobil yang Baekhyun harapkan tidak terealisasikan. Mobil mereka berhasil dikepung oleh segerombolan begal yang membawa kayu balok juga menodongkan pisau dan pistol.

    “Yee.. yeoboseyo! Suho Hyung!..”

    “Cepat keluar dari mobil! Kalau nggak, gue tembak lo!” ancam begal dari luar mobil.

    “Yeoboseyo? Eotteohke doen geoyeyo (Ada apa)?” tanya Suho dari ujung telepon. Sopir yang sudah terlanjur ketakutan pun akhirnya menuruti perintah rampok itu. Rampok yang lain pun menguasai mobil.

    “Naneun gangtalhaessda.. dowajuseyo.. (Aku sedang dirampok. Tolong aku)” belum selesai bicara, Baekhyun sudah ditarik keluar. Isi tas ranselnya diobrak-abrik si rampok. Baekhyun disuruh menyerahkan isi kantongnya, namun Ia menolak. Berusaha melawan. Pisau pun ditodongkan ke lehernya. Baekhyun menyerah. Ia melihat si sopir tergeletak tak berdaya dengan kepala penuh darah.

    “Eodiya? Baekhyunee! Jebal jilmun-e daedabhasibsio! (Kau dimana? Baekhyunee! Jawablah!)” panik Suho dari ujung telepon. Baekhyun hanya menelan ludah pahit.

    “Danji kyungsoo yaeginan geuege jeonhwahaji sagwa geos-eul kyungsoo yaegihasibsio (Katakan pada Kyungsoo maaf tak menghubunginya).”

    Bbaammm! Baekhyun menerima pukulan balok di otak kecilnya dari si perampok. Matanya menyipit. Seketika semua menjadi gelap.

***

    Baekhyun masih terbujur kaku. Belum sadarkan diri. Sekarang Ia sendirian di gang itu. Si sopir yang sudah siuman pergi mencari bantuan. Ternyata si sopir menerima serangan tusukan di perut. Dengan susah payah ia melangkahkan kaki sambil menahan perih di perutnya.

    Mobil, koper, ransel, dan handphone lenyap. Baekhyun benar-benar sendirian di gang itu. Teriknya panas mentari membakar kulit putihnya. Gang itu sangat sepi. Hanya beberapa anak pelajar yang melewati gang itu. Beberapa anak yang lewat gang itu langsung lari melihat tubuh Baekhyun yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan sambil teriak “Ada mayat!!”. Malang sekali nasibnya.

    Nasib malang Baekhyun tak berlangsung lama. Seorang siswi SMA kelas 11 yang tengah melewati gang itu sendirian melihat sosok Baekhyun yang mulai merintih kesakitan. Dengan segera yeoja itu mendekatinya.

    “Ya Tuhan! Bang.. lo kenapa, Bang? Lo masih hidup?” tanya yeoja itu panik. Dilihatnya sekeliling gang. Tak ada seorang pun yang lewat gang itu. Segera yeoja itu mengeluarkan handphone dari sakunya. Menelpon taxi. Tak menunggu lama taxi pun datang. Yeoja itu membawa serta Baekhyun menuju RS.

***

    Slurrrrpp.. slurrppp.. anjing jenis American Eskimo Dog menjilati wajah lemas Baekhyun. Membuat Baekhyun akhirnya siuman. Kedua mata sipitnya menelanjangi seluruh ruangan. Menerka-nerka. Dilihatnya yeoja ditepi tempat tidurnya tengah tersenyum manis menatapnya.

    “Lo udah siuman? Syukurlah.” Kata yeoja itu. Baekhyun mengangkat satu alis.

    “Nuguya?” tanya Baekhyun.

    “Lo ngomong apa sih? Lo nanya gue siapa atau lo lagi dimana? Gue Miga. Lo lagi di rumah gue. Lo ngerti gue ngomong apa?” tanya yeoja itu. Baekhyun semakin bingung.

    “Oh, okay. I’m Miga. Now you’re at my home. Where are you come from?” tanya yeoja kembali. Baekhyun masih terdiam. “Are you remember something? Doctor said that you’ve amnesia.” Baekhyun masih menatap Miga  yang hanya bisa menarik napas berat karena telah mengambil risiko untuk menolong Baekyun.

    “It’s okay if you not understand what I say. I’ll help you to get your memory. Now you have to get wash and eat. I’m wait you in eating room. Come on Pungya!”

***

    30 menit berlalu. Yeoja itu menunggu Baekhyun sambil bermain dengan anjingnya, Pungya. Baekhyun masuk ke ruang makan. Yeoja itu terkesima melihatnya. Baekhyun sudah terlihat sangat tampan setelah mandi dengan hiasan perban yang mengelilingi kepalanya.

    “Annyeong. Wae naneun dutong-eulhaessseubnida? (Hai. Kenapa kepalaku terasa sakit?)” tanya Baekhyun sambil berisyarat.

    “Oh, I’m sorry to not to say. I don’t know what the real happen with you, but I think you’ve robbed”

    “Jinja? Ah..” Baekhyun berusaha mengingat, tapi kepalanya malah terasa sangat sakit. Miga yang melihatnya langsung panik. Ia segera memegangi pundak Baekhyun yang lebih tinggi darinya untuk kemudian didudukkan.

    “It’s okay. You’re can try to remember it slowly. So.. what’s you’re name?”

    “Naega? Ah..” Baekhyun kembali merintih.

    “Ah, begini saja. How ‘bout Byun? May I call you Byun? Like my puppy, Pungya. Hehehe” Baekhyun hanya mengangguk.

***

    3 hari berlalu. Ingatan Baekhyun masih belum pulih padahal dokter memvonisnya akan segera pulih dari amnesianya.

    Miga. Yeoja yang menyelamatkan Baekhyun itu mulai mempelajari bahasa Korea karena tahu bahwa Baekhyun berasal dari Korea. Bermacam-macam kamus pun dibelinya.

    “Hya. Apa kau tak bosan belajar bahasa Korea setiap hari, huh?” tanya Baekhyun yang datang sambil membawa dua gelas the hangat. “Nih, minum dulu.” Miga menerimanya.

    “Gomawo.” Kata Miga. Baekhyun tersenyum.

    “Jadi.. bagaimana perkembangan kondisimu? Kau sudah bisa mengingat suatu hal?” tanya Miga kemudian. Baekhyun menggeleng. “Huhm.. tak apa. Kita bisa menunggu. Syukur gue tinggal sendirian disini. Mungkin akan repot kalau ada ortu gue.”

    “Um.. dimana orang tuamu?” tanya Baekhyun.

    “Entahlah.. mereka bisa dimana saja. Mereka hanya akan pulang kalau gue minta. It’s okay. Gue udah biasa. Lagian ada elu sekarang.” Kata Miga tersenyum tulus. Melihat lekungan itu, tersadar jantung Baekhyun berdegub kencang. Jadi salah tingkah.

    “Oh ya, kau bisa bernyanyi? Aku ingin mendengar satu lagu.. Korea.” Tanya Miga. Baekhyun mengangguk.

~Annyeong naege dagawa.. Sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo.. Huimihan kkumsogeseo.. Nuni busidorok banjjagyeosseo.. Seolleime nado moreuge.. Hanbaldubal nege dagaga.. Neoui gyeote nama.. Neoui misoe nae maeumi noganaeryeo.. Nuni majuchyeosseulttaen.. Dugeungeoryeo.. Oh~ neoui gaseume nae misoreul gieokhaejwo. Haruedo myeoccbeonssik.. Saenggakhaejwo.. Oh~ neoege hago sipeun geu mal.. You’re beautiful~

    Miga tersipu mendengar lagu itu meski tak mengerti apa artinya dan mengakhirinya dengan tepuk tangan.

***

    Miga’s life in school~

    “Eh, mau denger lagunya Baekhyun di EXO Next Door ga?” tanya Ryan teman sebangku Miga.

    “Siapa tuh? Gue ga kenal.” Jawab Miga ketus.

    “Yee.. hari gini. Lo tau boyband EXO ga? Pasti ga kenal.”

    “Yee.. bodo amat.”

    “Pokoknya dengerin dulu, nih. Lagunya empuk banget. Hehehe.” Ryan langsung saja memasangkan headset di telinga Miga. Miga yang males ngapa-ngapain akhirnya hanya menurut.

~Annyeong naege dagawa.. Sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo..~

    “Eh..” Miga teringat akan sesuatu. Jantungnya serasa lupa berdetak.

    “Kan.. gue bilang apa. Bagus kan lagunya?” tanya Ryan.

    “Siapa penyanyinya?” tanya Miga.

    “Baekhyun. Byun Baekhyun. Salah satu member EXO yang paling imut. Bias gue, Mig!”

    “Baekhyun? Ah, lo update tentang dia? Dia lagi dimana sekarang?” tanya Miga panik.

    “Umm.. kemarin sih sempat baca kalau dia ke Indonesia sendirian nyusul Suho. Tapi, kabar burungnya sih dia sempat kerampokan dan hilang sampai sekarang. Gue sempat khawatir, tapi kayaknya ga mungkin juga. Masa artis top kayak dia bisa dapet nasib semalang itu? Lagian belum dikonfirmasi ama SM sendiri kok. Masih hoax. Kenapa? Kok lu cemas banget kelihatannya?”

    “Lu punya fotonya?”

    “Punya dong. Nih..” Ryan langsung menunjukkan koleksi foto Baekhyun.

    “Ya Tuhan! Ini seriusan dia, Ry?” tanya Miga tak percaya.

    “Yaiyalah. Baekhyun yah cuma ini.”

    “Ry.. gue cabut dulu ya.” Pamit Miga yang langsung lenyap dari hadapan Ryan hanya dalam hitungan detik.

***

    Miga berlari secepat-cepatnya menuju rumah. Ditemukannya Baekhyun sedang bermain dengan Pungya. Menyapanya.

    “Annyeong.. loh, udah pulang aja?” tanya Baekhyun tersenyum. Tak menjawab pertanyaan Baekhyun, Miga malah lari memeluk Baekhyun sambil menangis.

    “Mwoya? Kenapa kau menangis?” tanya Baekhyun mengelus punggung Miga lembut.

    “Oppa.. sekarang aku tahu kau siapa. Kau bisa kembali ke Korea sekarang, Oppa.” Kata Miga tersedu-sedu.

    “Apa yang kau katakan?” Baekhyun bertanya-tanya.

***

    Hari itu juga Miga mencari kontak SM Entertaiment. Seperti yang diharapkannya. Semua masalah itu pun segera diurus. Besok pagi Suho akan datang ke rumah untuk menjemput Baekhyun. Entah mengapa setelah Miga melakukan semua itu terasa sedikit penyesalan di dalam hatinya. Tidak lama lagi Ia akan kembali sendiri di rumah. Hanya aka nada dia dan Pungya-nya. Tak ada Baekhyun seperti sedia kala. Semua dipikirkannya. Membuat Miga termenung di atap-tempat favoritnya merenungkan segala sesuatu.

    Baekhyun datang. Melihat Miga yang tengah melamun memandang keramaian kota sambil memeluk kedua lututnya ditemani si Pungya.

    “Hmm.. sayang sekali tak ada bintang malam ini.” Kata Baekhyun berbasa-basi langsung bergabung dengan Miga.

    “Ne.. mungkin mereka sedang sedih.” Jawab Miga asal.

    “Sedih? Waeyo?”

    “Molla..” Miga sungguh tak mau meladeni basa-basi Baekhyun saat ini. Dia amat sedih mengetahui kenyataan akan ditinggalkan Baekhyun.

    “Gomawo..” kata Baekhyun sambil tersenyum. Miga akhirnya menolehkan wajahnya pada Baekhyun. “Karna sudah menolong dan merawatku. Padahal kau tak mengenalku. Jiwa pahlawanmu sangat bagus.” Baekhyun tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Senyuman itu menyihir Miga yang tadinya menahan untuk tidak tersenyum, kini bisa tersenyum lebar.

    “Ng.. aku suka menolong siapa pun. Kau lupa? Aku anak PMR. Aku pernah mengikuti lomba PMR sampai tingkat nasional dan aku menang. Jadi, sudah sepantasnya aku melakukan itu.” jelas Miga.

    “Apa kau sedih?” tanya Baekhyun tiba-tiba. “Entah kenapa aku merasa sedikit sedih untuk meninggalkanmu dan rumahmu ini. Tapi, aku juga senang akhirnya aku akan kembali pada kehidupanku yang awal. Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Kata Baekhyun tersenyum tipis. Miga hanya menatapnya. “Nado. Aku akan sangat sangat merindukanmu, Oppa~” jawab Miga dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s