[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Soda Girl

2016-04-22 07.29.54 1.jpgSoda Girl

Presented by Yuki Hwang

Starring

EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

OC’s Ran as Lee Ran

Supported by

OC’s Ryn as Lee Ryn

OC’s Joo Hyun as Baek Joo Hyun

find them by yourself!

Oneshot length

PG-15 rated

A AU, teenager, friendship, comfort story

Saengil Chukkae Hamnida uri Byun Baekhyunniee!!!

I realized after you’ve gone

2016© Yuki Hwang Copyrights

*

Cuaca sore ini tidak terlalu buruk. Burung-burung mulai terbang kembali ke sarangnya. Orang-orang ada yang bersepeda menghabiskan waktu bersama. Ada juga yang baru kembali dari kerjanya.

Namun, lelaki dengan rambut rapi yang ditata sedemikian rupa lebih memilih menghabiskan sore di halaman minimarket langganannya.

Namanya Byun Baekhyun. Mahasiswa semester akhir yang tengah membaca materi untuk skripsinya nanti.

“Tolong!!” Baekhyun hanya mengalihkan pandangannya sekilas ketika mendengar suara wanita berteriak. Kemudian gadis bertopi tampak berlari masuk ke minimarket. Tak berselang lama seekor anjing menggonggong tepat di depan pintu kaca.

Gadis itu mengibas-ibaskan tangannya mencoba mengusir anjing tersebut. Akan tetapi justru anjing tersebut menggonggong semakin kencang.

*

“Bisakah kau bantu aku mengusirnya?” tanya Ran, gadis yang tengah dikejar anjing itu kepada petugas kasir. Petugas kasir itu hanya menggelengkan kepalanya lalu melongos pergi.

“Jebal, bagaimana ini?” Ran melihat anjing itu masih menggonggong di tempatnya. “Huss, pergi sana, huss!” Ran mengibas-ibaskan tangannya berharap anjing itu segera pergi.

Baekhyun tampak tak tertarik melihatnya. Namun, suara gonggongan anjing itu mengganggu ketenangan belajarnya. Baekhyun pun mengambil tongkat kayu lalu mendekat ke anjing itu.

“Anjing pintar, ambil ini!” Baekhyun melemparkan kayu itu sejauh mungkin. Anjing itu pun langsung berlari dan memainkan kayu miliknya sekarang.

Ran menghela napasnya. Dengan sangat berhati-hati ia keluar dari dalam lalu memastikan jika anjing itu benar-benar sudah pergi.

“Gomapta,” ujar Ran sambil menyeret kursi di hadapan Baekhyun. “Aku tidak mengganggunya. Hanya dia berlari ke arahku saat aku lewat di depannya. Aku pun spontan lari. Sangat melelahkan,” Ran melepas topinya dan mengikat rambutnya lagi yang mulai kendur. Kemudian topinya dibuat untuk kipas dadakan.

Baekhyun melihat gadis di hadapannya itu. Penampilannya bukan seperti gadis normal. Wajar saja jika anjing itu mengejarnya. Penampilannya saja berandal mencurigakan seperti pencuri. Kaus hitam dengan jaket dan celana jeans yang bolong di bagian lututnya. Mana ada wanita berpenampilan seperti ini?

“Aku ke dalam dulu ya,” gadis itu masuk lagi ke dalam dan langsung berjalan ke rak yang sepertinya ia sering kunjungi.

Baekhyun mendengar dari luar terdengar sedikit keributan di sana. Gadis itu lagi yang membuatnya. Ia tengah berdebat dengan kasir. Kemudian terlihat ia keluar dengan sekantung plastik dan kasir yang menyumpah serapahi gadis itu.

“Aku traktir kau soda sebagai tanda terima kasihku,” Gadis itu meletakkan sekaleng soda di hadapan Baekhyun. Lalu ia menegak soda miliknya.

“Namaku Ran. Lee Ran. Kau?” Ran mengelap tangannya yang basah karena embun dari sodanya lalu menyodorkan tangannya. Baekhyun hanya melihat dengan sinis gadis aneh di hadapannya itu.

“Baiklah. Terserah kau saja,” Ran menarik kembali tangannya.

“Kau tinggal di sini juga?” Baekhyun hanya menggumam. Ran mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku juga. Aku rasa kita bisa jadi teman yang baik,” Baekhyun menutup bukunya dengan keras membuat Ran terkejut lalu sedikit menyemburkan sodanya.

“Yang pertama, aku tidak berniatan membantumu tadi. Aku hanya kebisingan dengan gonggongan anjing tadi karena aku sedang belajar,” Ran masih terkejut sambil menatap Baekhyun yang tampak mengerikan.

“Yang kedua, sekarang kau yang menggangguku,” Ran menautkan kedua alisnya.

“Yang terakhir, kita tidak bisa menjadi teman. Ingat. KITA TIDAK AKAN PERNAH MENJADI TEMAN!” Baekhyun mengemasi bukunya.

“Dan terimakasih atas sodanya,” Baekhyun mengembalikan soda yang diberikan Ran.

*

“Saat itulah, untuk pertama kalinya,aku penasaran dengan seorang pria,”

*

“Baekhyun-aah, kau sudah makan?”

“Sudah, Bu,” Baekhyun menutup pintu kamarnya. Ia membanting tubuhnya ke kasurnya.

Dilihatnya langit-langit kamar yang polos miliknya. Beberapa detik setelahnya, Baekhyun berjalan ke meja belajarnya. Ia mengambil kotak kardus dari lacinya.

Baekhyun mengambil figura, ada fotonya waktu kecil dan seorang gadis seumurannya di sana. Dulu mereka akrab sekali. Sampai Baekhyun harus pindah karena ayahnya dipindah tugaskan.

Baekhyun ingin sekali bertemu dengan teman kecilnya itu. Seperti apa dia sekarang? Tapi, bagaimana mau bertemu jika namanya saja ia sudah lupa? Maklum, sudah lama sekali sejak terakhir mereka bertemu sembilan belas tahun yang lalu.

Entah mengapa pikirannya tiba-tiba melayang ke gadis soda. Gadis yang dikejar anjing itu. Ia juga tak tahu apa yang membuatnya memikirkan gadis itu. Tapi yang jelas Baekhyun akui Ran mirip dengan teman kecilnya itu.

*

“Bawang, jahe merah, daun bawang, apalagi yang harus kubeli, ya?” Ran mencoba mengingat-ingat pesanan ibunya sambil terus mengayuh sepedanya.

Sesampainya di parkiran minimarket, ia memarkirkan sepedanya sekenanya. Sebelum masuk, ia melihat meja tempat terakhir kali ia menemui Baekhyun. Kosong. Apa hari ini ia tidak belajar di sini lagi karena dirinya? Entahlah.

*

Saat hendak membayar semua belanjaannya, Ran melihat Baekhyun datang dengan beberapa buku di tangannya. Ran pun langsung berlari ke rak soda lalu mengambil 2 kaleng soda favoritnya.

Setelah membayar, ia berjalan mendekati Baekhyun dan menyeret kursi ke hadapan Baekhyun seperti biasanya.

“Byun-Baek-Hyun. Jadi namamu Baekhyun? Senang berkenalan denganmu,” Ujar Ran sambil mengeja nama Baekhyun pada buku. Kemudian satu tegakan soda berhasil melalui kerongkongannya. Baekhyun kembali menatap sinis Ran.

“Aku sudah bilang, kita tidak bisa berteman,” ujar Baekhyun dengan ketus.

“Ah, kau putra keluarga Byun?” Baekhyun mengernyitkan dahinya. “Kalau keluarga Byun aku juga tahu,” lanjut Ran. Ran semakin membuat Baekhyun bingung.

“Terserah,” Baekhyun memutuskan untuk mengabaikan gadis yang menurutnya menyebalkan ini.

“Aku ada sekaleng soda. Ini,” Ran menyodorkan kaleng sodanya. “Yang terakhir kali kau belum meminumnya. Ini hak mu karena sudah menolongku,” Ran menyambar plastik belanjaannya. Baekhyun masih fokus dengan buku bacannya.

“Aku pulang dulu. Jangan pergi, aku akan kembali,” Ran mengayuh sepedanya. Baekhyun menatap punggung Ran yang semakin menjauh. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke soda yang diberikan Ran.

*

Setelah Ran memberikan belanjaannya ke ibunya, Ran langsung pergi ke ruangan kakaknya. Untung saja kakaknya sedang bekerja, jadi ia bisa leluasa keluar-masuk ruangan kakaknya. Kakaknya memang melarang Ran masuk ke ruang kerja kakaknya, pasalnya Ran adalah anak yang ceroboh. Ia bisa menghilangkan atau merusak barang yang berharga milik orang lain.

“Ini dia!” Ran mendapatkan buku milik kakaknya. “Aku harap dengan ini Baekhyun akan menerimanya,”

*

Ran memutuskan untuk berjalan kaki saja. Hitung-hitung olahraga. Baekhyun ternyata masih duduk di tempat yang sama. Soda yang diberikan pun sudah terbuka.

“Kau belum pulang?”

“Bukankah kau yang menyuruhku untuk menunggumu?” Ran menatap lekat Baekhyun. Begitu juga dengan Baekhyun. Kemudian Baekhyun terkesiap. “Tidak, aku masih harus belajar. Beberapa hari lagi aku akan mengerjakan skripsiku.”

“Ini buku milik kakakku. Kebetulan dia ambil jurusan yang sama denganmu, kedokteran. Semoga bisa membantu,” Ran meletakkan bukunya. Baekhyun membaca sampul bukunya sekilas.

“Lee Ryn?” Baekhyun membaca nama pada sampul buku itu.

“Sebenarnya dia kembaranku, tapi dia lahir lebih dulu dariku,” Ran meringis kuda. Baekhyun mangut-mangut.

“Lalu kenapa kau tidak kuliah seperti kembaranmu? Aku pikir itu lebih berguna ketimbang mengganggu orang belajar,” sindiran Baekhyun berhasil membuat Ran mematung. Keduanya diam untuk waktu yang lama. Sedangkan Baekhyun masih asyik membaca. Baekhyun baru tersadar ketika ia hendak mengawali bab selanjutnya. Baekhyun pun menutup bukunya. Seperti siap mendengar semua curahan Ran.

“Jika aku harus kuliah, ibu menyuruhku mengambil jurusan yang sama seperti Ryn. Namun aku sangat membenci dokter. Sejak kecil aku membenci dokter. Aku tidak bisa menjadi dokter,” Baekhyun dibuat bingung dengan Ran.

“Waktu aku masih kecil aku juga membenci dokter. Namun, semakin besar justru aku ingin menjadi dokter. Aku rasa semua orang akan lupa jika pernah membenci dokter.”

“Tidak. Aku membenci semua yang berurusan dengan medis. Tentang bau obat saat masuk rumah sakit, tentang jarum suntik, darah, pisau bedah, dan yang lain yang berhubungan dengan medis. Aku membencinya,” Ran menahan air matanya. “Dan jika aku bisa berkuliah, aku akan kuliah, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun menatap sendu Ran. Gadis di hadapannya itu semakin membuatnya bingung. Namun, Baekhyun menangkap rasa sedih di sana.

*

Baekhyun kembali memikirkan kata-kata Ran. Ran kini tengah memenuhi otaknya. Mengapa gadis itu begitu misterius?

“Susu!” Baekhyun terkesiap. Kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya. Ran?

Ibu Baekhyun berjalan menghampiri Ran. Kemudian Ran menyodorkan dua botol susu. Jadi, ibunya pelanggan susu yang dijual Ran?

*

Pagi ini seperti biasanya Ran akan mengantarkan susu dari rumah ke rumah. Ini sudah menjadi tugasnya sebagai gadis yang menganggur di rumah.

“Susu!” Rumah yang menjdi tujuan utamanya adalah rumah keluarga Byun. Ya, benar milik Byun Baekhyun.

“Ah, Rannie, kau sudah datang.”

“Nde, ahjumma,” Ran sibuk menyiapkan botol susunya. “Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan putramu, Baekhyun.”

“Ah, jinjja?”

“Nde. Putramu tampan sekali. Dia anak yang rajin dan baik. Sepertinya kita bisa menjadi teman yang baik,” Ran sudah bersiap di jok sepedanya.

“Tentu saja. Kau bisa sering-sering main ke sini.”

“Terima kasih, ahjumma,” Ibu Baekhyun pun masuk ke rumahnya. Ran mendongakan kepalanya. Di lantai dua, tepat di jendela kamar Baekhyun, ia tengah berdiri melihat Ran. Ran pun tersenyum lalu melambaikan tangannya ke Baekhyun. Sesudah senyum terakhir yang ia berikan, Ran kembali mengayuh sepedanya untuk mengantarkan susu milik pelanggan lainnya.

*

Baekhyun langsung turun ke lantai bawah. Ibunya itu tengah menyiapkan sarapan. Ia melihat dua botol susu di atas meja. Kemudian menatap punggung ibunya yang sibuk berkutat di dapur.

“Ibu mengenal Ran?” tanya Baekhyun.

“Baekhyunnie, tentu. Susu yang setiap hari kau minum itu susu yang dijual Ran,” ibu Baekhyun masih memotong lobaknya.

“Kenapa ibu tidak pernah cerita?” Baekhyun menyeret kursi makan lalu mendudukinya.

“Mana ibu tahu kau mengenalnya? Lagipula, kau akan mengacuhkan ibu jika ibu menceritakan tentang Ran,” Baekhyun mematung. Memang benar apa yang dikatakan ibunya. Mengingat dia orang yang jarang bersosialisasi dan tak peduli dengan lingkungannya.

*

Baekhyun mengemasi barangnya. Tak lupa ia membawa laptop untuk mengerjakan skripsinya. Tak terasa ia sudah hampir melaksanakan sidang skripsi dan segera magang.

Sudah menjadi langganan ia belajar di minimarket. Ia lebih tenang belajar di sini ketimbang belajar di rumah sendiri. Ia juga tak tahu mengapa. Mungkin karena udara luar lebih menyegarkan daripada di rumah.

*

Sudah dua jam Baekhyun di sini. Dia sudah mengerjakan bagian awal skripsinya. Namun, beberapa kali ia menghapus bagian yang sudah diketiknya. Ada yang membuatnya gusar.

Mungkin saja Ran. Mugkin tidak. Akan tetapi selama dua jam ia bertingkah seperti menunggu kedatangan seseorang. Rasanya sepi sekali.

“Saat mengerjakan skripsi pun kau masih di sini,” Baekhyun terperanjat. Ucapan Ran yang tepat di telinga kanannya membuyarkan lamunannya.

“Yaa!” Baekhyun mengusap dadanya.

“Kau memikirkanku, ya? Kau tampak sedang menunggu seseorang,” Baekhyun sukses dibuat hampir mengeluarkan bola matanya. Ran pun tertawa geli.

“Jangan anggap perkataanku sebagai sesuatu yang serius. Kau tidak bosan belajar di sini terus?”

“Tidak. Aku tidak punya tempat yang nyaman untuk belajar di rumah.”

“Kalau begitu belajarlah di rumahku,” Baekhyun mengalihkan pandangannya dari laptopnya untuk menatap sinis Ran.

“Aku sudah bilang, jangan pernah anggap serius perkataanku, kan?” Sejurus kemudian Ran kembali tertawa keras. Baekhyun pun sudah malas meladeni gadis ini.

“Tidak, tidak. Jika kau mau, belajarlah di rumahku. Ya, aku hanya menawarkan saja, siapa tahu kau mau,”

*

“Jadi ini yang namanya Baekhyun?” ibu Ran tengah berjalan sambil membawa nampah berisi teh dan kue kering.

Akhirnya beberapa waktu yang lalu, Baekhyun menerima tawaran Ran. Rumah Ran tidak terlalu buruk. Ia bisa belajar di halaman belakang rumah Ran yang memiliki papan kayu panjang (bentuknya seperti meja) yang biasa digunakan untuk tiduran/bersantai.

“Kau juga kuliah kedokteran?”

“Nde, eommonim,”

“Baiklah, belajarlah dengan giat. Aku ke dalam dulu,”

Baekhyun kembali berkutat dengan skripsinya. Sedangkan Ran asyik mengamati apa yang sedang dilakukan Baekhyun.

“Berhentilah menatapku seperti itu,” celetuk Baekhyun yang membuat Ran gelagapan.

“Aku tidak sedang menatapmu. Berhentilah percaya diri seperti itu,” elak Ran. Baekhyun mengalihkan pandangannya.

“Lihatlah! Bahkan wajahmu memerah,” Baekhyun memutar telunjuknya di sekitar wajah Ran. Ran pun langsung memegangi pipinya yang memang terasa panas.

Baekhyun kembali fokus ke layar laptopnya. Namun, entah mengapa ada kurva kecil terbentuk di wajahnya.

*

Angin semilir meniup rambut Ran. Ran dan Baekhyun sudah berdiri di depan halaman belakang rumah kosong yang lama ditinggal pemiliknya.

“Kenapa kau mengajakku ke sini?” Ran masih menatap ke depan pohon di depan mereka. Baekhyun pun mengikuti arah pandangan Ran.

“Kau lihat pohon yang di sana itu?” Baekhyun mematung. “Kau lihat rumah pohon yang di sana?” Baekhyun mengernyitkan dahinya, mencoba mencari objek yang dimaksud Ran. Akan tetapi, ia kesulitan mencarinya karena daun-daun rimbun yang menutupi.

“Kajja,” Ran menarik tangan Baekhyun.

Mereka sampai tepat di bawah pohon yang dimaksud. Dari bawah sini, mereka bisa melihat rumah pohon yang dimaksud.

Ran memanjat pohon lewat beberapa kayu panjang yang sengaja dipasang untuk memudahkan naik ke atasnya. Baekhyun pun mengekorinya di belakang.

Sesampainya di atas, Baekhyun langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah pohon berukuran kecil ini.

Ran langsung berjalan ke sebuah kotak besar yang tergeletak begitu saja di sana. Setelah dibuka, Ran tampak mengambil sesuatu. Baekhyun pun mendekat.

“Album foto?” Ran mengangguk.

“Dulu kami, aku, Ryn, dan bocah laki-laki ini sering bermain di sini. Namun, setelah adanya isu penggusuran warga untuk gedung dewan, bocah laki-laki dan keluarganya pindah dari sini,” Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya.

Baekhyun melihat foto bocah laki-laki itu. Mereka tampak sangat dekat dan akrab. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bocah laki-laki itu tampak tak asing bagi dirinya. Saat mencoba mengingat, tiba-tiba saja kepalanya terasa nyeri.

“Ack,” erangan Baekhyun membuat Ran mengalihkan pandangannya.

“Neo gwenchana?” tanya Ran dengan nada sangat khawatir. Baekhyun mengibaskan tangannya.

“Na gwenchana,” Ran pun melepaskan tangannya yang secara tidak sadar memegangi lengan Baekhyun. Baekhyun masih memegangi kepalanya yang terasa sakit.

*

Untuk pertama kalinya, Baekhyun menghabiskan waktu bersama Ran. Kesan pertama saat mengenal Ran, ia memang gadis yang menyebalkan. Akan tetapi semakin mengenal Ran, ia menampakkan sifatnya yang menyenangkan.

Seperti sekarang. Tak terasa mereka menghabiskan waktu bersama hingga langit sudah berwarna kejinggaan. Keduanya menatap hamparan desa berpadu dengan kaki langit dan gedung perkotaan yang kokoh.

“Wajahmu tampak pucat. Apa kau baik-baik saja?” keringat Ran bercucuran. Tangannya bergerak menyeka keringat di pelipisnya.

“Aku? Aku tidak apa-apa. Apa kepalamu masih sakit?” Ran mengalihkan perhatian.

“Ah, ini. Aku tidak apa-apa,” Baekhyun memegangi kepala belakangnya. Ran pun mengangguk-anggukan kepalanya. Keduanya terdiam cukup lama. Hembusan anginlah yang meramaikan suasana canggung yang tak sengaja tercipta.

“Kau, pulanglah,” ujar Baekhyun ketika mereka sampai di pertigaan jalan. Ran pun mengiyakan dan berjalan kembali ke rumahnya. Begitu juga dengan Baekhyun.

*

“Saengil Chukkae Hamnida, Byun Baekhyunnie!!”

Baekhyun terperanjat. Ia mengucek-ucek matanya. Lalu mencoba mengembalikkan kesadarannya.

“Eonni?” Eonninya, Byun Joo Hyun tengah membawa kue dengan beberapa lilin menyala di atasnya. Baekhyun melihat ke jam dinding. Sudah pukul empat pagi.

Baekhyun pun memanjatkan doa dan harapan lalu meniup lilinnya. Eonninya itu lalu menyodorkan kuenya dan mengajak adiknya untuk berfoto selfie.

“Kapan kau kembali ke Korea?” Baekhyun meletakkan kuenya di atas meja sebelah tempat tidurnya.

“Beberapa waktu yang lalu. It’s special for you, dear,” eonninya itu mengacak-acak rambut adik kecilnya.

Baekhyun bisa dibilang adik yang paling beruntung karena memiliki kakak secantik dan sebaik Joo Hyun.

I brought a gift which you like and need.” Eonninya itu mengeluarkan bingkisan dari balik tubuhnya. Baekhyun pun langsung membukanya. Sebuah buku. Buku ini yang sedang ia ingin beli karena bisa membantu mengerjakan skripsinya nanti.

It recomended by my namjachingu,” eonninya itu tertawa kecil.

Thanks a lot,” Eonninya itu menganggukan kepalanya.

“Kita harus pergi jalan-jalan hari ini.”

*

Berhubung kakak satu-satunya itu hanya ke Korea untuk dua hari saja, mau tidak mau Baekhyun harus mengiyakan ajakan kakaknya untuk berjalan-jalan keliling Daegu.

“Kita cari tteokbeokki dulu,” Baekhyun pun mengiyakan kakaknya lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan kedai tteokbeokki langganan keluarga Baekhyun.

Setelah memesan tteokbeokki, Baekhyun dan Joo Hyun mengambil tempat duduk dekat jendela.

“Sudah lama sekali. Tak terasa sekarang kau sudah dewasa,” Joo Hyun menatap adiknya lekat.

“Kau juga. Kau harus segera menikah, eonni.”

“Heeii! Fokuslah saja pada skripsimu, jangan urusi aku,” Keduanya pun tergelak.

“Kita harus rayakan ulang tahunmu.”

*

Selesainya Baekhyun dan Joo Hyun berjalan-jalan, mereka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Baekhyun langsung membantingkan tubuhnya ke sofa dan membiarkan tas-tas belanjaan mereka tergeletak begitu saja.

“Ah, kalian sudah pulang?” tanya ibu mereka sambil mencari sesuatu.

“Nde,” jawab mereka bersamaan. Ibunya pun tak menghiraukan jawaban putra-putrinya. Baekhyun pun dibuat penasaran oleh ibunya.

“Ibu ada urusan melayat sebentar. Jika kalian lapar, makanlah makanan yang ada di meja makan. Ibu pergi dulu,”

SLAM!

Baekhyun memejamkan matanya sejenak. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Eonni, aku juga ada urusan mendadak. Aku pergi dulu, ya,” Joo Hyun hanya menganggukkan kepalanya sambil menegak air minumnya.

*

Baekhyun berjalan ke minimarket langganannya. Ia tidak tahu kenapa, tetapi ia ingin sekali pergi ke sana meski ia tidak sedang ingin belajar atau mengerjakan skripsinya. Dari kejauhan, Baekhyun melihat bingkisan tergeletak di atas meja. Baekhyun pun mendekatinya.

“Untuk Baekhyun,” Baekhyun membaca tulisan di atasnya. “Apa mungkin ini dari Ran?”

Baekhyun memutuskan untuk bertanya pada penjaga kasir. Mungkin saja ia tahu.

“Permisi. Apa kau tahu siapa yang meletakkan ini di sana?”

“Ya. Seharian tadi ada gadis yang biasa membeli dua soda di sini. Ia duduk di sana seperti menunggu seseorang. Beberapa jam setelahnya ia pulang,” tutur sang kasir. Sudah jelas dia Ran. Baekhyun pun langsung berlari dengan membawa kado yang diberikan Ran.

*

Sesampainya di rumah Ran, Baekhyun mendengar suara tangis di dalamnya. Baekhyun pun masuk lewat halaman belakang. Banyak orang di sana. Ia mengintip dari jendela. Ia melihat ibu Ran tengah menangis sambil memeluk foto Ran.

“Baekhyun-aah,” Baekhyun terperanjat.

“Eomma?”

“Apa yang membuatmu ke sini?”

“Jadi ibu melayat ke Ran?” Keduanya diam sambil menatap ibu Ran yang masih menangis.

“Eommonim,” Seorang gadis cantik dengan balutan dress hitam di bawah lutut berjalan dari arah ibu Baekhyun.

“Ah, Lee Ryn. Kenalkan, ini putraku Baekhyun,” Baekhyun masih mematung melihat ke dalam rumah Ran.

“Baekhyun-ahh.”

“Bisa kau antarkan di mana Ran sekarang?”

*

Baekhyun dan Ryn sudah berdiri di hamparan tanah yang luas. Suasana kesedihan menyelimuti mereka. Mereka hanya bisa mendengar angin semilir bertiup masuk ke indra pendengaran mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun lirih nyaris tak terdengar oleh Ryn.

“Seperti yang kau lihat. Dia sudah dipanggil oleh Tuhan,” Baekhyun masih mencoba menahan pertahanannya agar tetap kukuh.

“Ceritakan mengapa ini semua bisa terjadi!” Ryn menatap Baekhyun sendu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke gundukan tanah di bawahnya.

“Ran mengidap kanker otak stadium akhir. Kami sekeluarga terlambat mengetahui penyakit ini pada tubuh Ran. Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami hanya disuruh untuk berpasrah dan menunggu waktu kepergiannya tiba,” Tangis Baekhyun pun pecah. Ia tak bisa menahannya lagi.

Sekarang Baekhyun tahu. Mengapa Ran takut dokter, mengapa ia tak bisa kuliah, mengapa ia pucat saat terakhir kali mereka bertemu, Baekhyun tahu semua penyebabnya.

“Mengapa kau tampak tak bersedih?”

“Aku? Aku sudah merelakan Ran sejak lama. Jika dia memang harus kembali ke Sang Pencipta, ya, memang itu takdirnya. Kita tidak bisa menyangkal takdir, Baekhyun-ssi,” yang diucapkan Ryn itu benar.

Baekhyun mencoba membuka bingkisan kado yang diberikan Ran. Ia mendapati kertas kecil di sana.

“Saengil chukkae hamnida Baekhyun-aah! Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi. Ya, mungkin kau sudah lupa. Kau bocah laki-laki yang kumaksud saat di rumah pohon waktu itu. Saat pertama kali kita bertemu, aku sudah feeling itu kau. Tapi sepertinya kau sudah lupa. Maaf aku hanya bisa memberikan ini. Ini memang tak seberapa, tetapi semoga berharga. Kau harus menjaganya ya. Kau juga harus mentraktirku lain waktu. Haha, saengil chukkae!;)”

Jadi benar feelingnya selama ini. Ran adalah teman kecilnya waktu itu. Bodohnya, kenapa ia bisa lupa. Tangisnya pun semakin kencang. Tak peduli ada Ryn disampingnya.

*

9 tahun kemudian

Baekhyun keluar dari ruang operasinya. Kemudian ia membuang pakaian operasinya dan melepas masker yang ia kenakan. Ia merogoh ponsel dari sakunya.

“Aku sudah selesai operasi. Aku tunggu di basement,” Baekhyun pun langsung berlari setelah mendapati pesan dari istrinya.

Setelah berganti pakaian, Baekhyun langsung pergi ke basement seperti yang istrinya katakan. Dari kejauhan, Baekhyun bisa melihat istrinya itu tengah bersandar di mobilnya.

“Lee Ryn-aah,” Baekhyun melambaikan tangannya. Ryn pun hanya tersenyum.

Ya, setelah sembilan tahun yang lalu mereka bertemu lagi untuk pertama kalinya, mereka pun banyak menghabiskan waktu bersama. Sampai pada akhirnya, Baekhyun melamar Ryn dua tahun yang lalu. Mereka sudah dikaruniai seorang anak perempuan.

“Kita pergi sekarang?”

*

Baekhyun memarkirkan mobilnya ke tepian. Mereka keluar dari mobil dan langsung disambut angin yang dingin. Baekhyun melepas jasnya lalu menyampirkannya ke tubuh sang istri.

Baekhyun membawa buket bunga dan kantong plastik berisi soda-minuman-kesukaan-Ran. Sambil menggenggam tangan istrinya, mereka berjalan ke areal pemakaman.

“Halo Ran. Aku datang,” ujar Baekhyun sambil jongkok dekat dengan batu nisan berukir nama Ran. Ia meletakkan soda dan buket bunganya.

“Hari ini tepat sembilan tahun kau meninggalkan kami. Aku hanya bisa mengatakan hal ini untuk kesekian kalinya. Maaf dan terima kasih. Maaf karena pernah jahat padamu dan lupa jika kita adalah teman kecil. Dan terima kasih, kau sudah memberikan kesempatan untukku bertemu dengan istriku, Ryn,” Ryn tampak terenyuh mendengarnya.

“Kau adalah adik ipar terbaik. Sampai jumpa di lain kesempatan. Aku akan mentraktirmu soda lain waktu,”

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s