The Window

on

Tittle : The Window

Author : Butterflight20

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Sad, Brothership

Length: Oneshot

Rated: PG-13

This Story is mine, please don’t be plagiator

“Hal paling menyakitkan adalah tidak bisa mengungkapkan padahal dapat berbicara, merelakan walaupun sulit dan tersenyum walaupun sakit.”

Sorry For Typo

oOo

 

Butuh waktu selama hampir satu tahun untuk baekhyun memahami perasaannya. 5 tahun yang ia miliki begitu menyiksa batinnya. Selama itulah, mereka hidup bersama. Baekhyun dan Chanyeol. Mereka adalah sahabat dan semua tahu itu. Dimanapun Baekhyun berada disitulah Chanyeol tinggal. Mereka bagaikan pasangan kembar siam yang sulit dipisahkan.

Baekhyun adalah seorang komposer terkenal. Ia banyak menghasilkan karya yang sudah dikenal dipenjuru dunia. Ia seorang pianis muda yang berbakat, Chanyeol sangat bangga pada sahabatnya itu.

Baekhyun adalah orang yang sukses di usia muda, namanya melejit dimana-mana. Tetapi, Baekhyun merasa hampa. Hidupnya terasa kosong. Mencintai seseorang tanpa bisa memiliki. Ia tahu, perasaannya adalah sebuah kesalahan besar. Tetapi, apa yang bisa ia lakukan ketika cinta itu hinggap di dirinya?. Ia pun tahu, bahwa dunia pun enggan menerima perasaan yang ia miliki. Perasaannya mengalahkan hati kecilnya. Ia mencintai seorang pria yang tinggal di samping rumahnya.

 

Park Chanyeol.

 

Ia adalah seorang pria pengangguran yang hanya ingin membuat orang disampingnya bahagia. Ia memiliki lemah jantung. Tetapi, bahkan senyumnya masih lebar seakan ia tak merasakan apa-apa. Segala keperluan Chanyeol, Baekhyun yang urus. Baekhyun yang mengingatkannya makan dan minum obat. Bagi Chanyeol Baekhyun seperti ibunya. Ia akan mengomel jika Chanyeol lupa meminum obatnya atau tidak mengurus dirinya dengan baik. Ia akan khawatir jika Chanyeol mulai meringis. Chanyeol sangat mengagumi sahabatnya. Ia bahkan bisa berceloteh selama dua jam kepada semua orang tentang kehebatan Byun Baekhyun. Sedikit berlebihan. Tetapi, itulah Chanyeol. Seorang pria yang akan melakukan segala cara untuk membuat orang lain tertawa. Itulah kenapa Baekhyun menyukainya.

Memandangnya dari kejauhan sudah menjadi rutinitas, melihatnya tersenyum bahagia adalah sebuah prioritas. Mengabaikan segala perasaan yang ada dalam dirinya, asalkan melihat seseorang yang ia sukai bahagia itu sudah cukup.

Melalui jendela kamarnya, ia mengamati Chanyeol. Semua aktifitas Chanyeol, Baekhyun pantau melalui jendela kamarnya. Ritual sebelum tidur Baekhyun adalah memandang wajah tenang Chanyeol ketika tidur dari kejauhan. Chanyeol mempunyai kebiasaan tidak menutup hordengnya saat ia tidur. Chanyeol pernah mengatakan bahwa, ia suka melihat bintang diluar sana sebelum tidur. Mereka juga saling mengobrol melalui jendela masing-masing menggunakan media kertas serta spidol.

Chanyeol baru saja membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Ia berjalan hendak memilih pakaian, namun ketika melihat Baekhyun tengah melamun dengan kepala bertopang pada tangannya, ia jadi urung. Chanyeol mengambil kertas serta spidol dan menuliskan sesuatu disana.

Ia melambaikan tangannya pada Baekhyun hingga menarik atensi pria mungil itu. Ia menunjukkan tulisannya saat Baekhyun menoleh padanya. “Kau ada masalah?.”

Baekhyun mendengus, ia sedang tidak mood. Dengan malas ia mengambil kertas dan menorehkan tinta hitam itu diatasnya. “Tidak, aku hanya bosan.”

Chanyeol tersenyum tipis, lalu menulis kembali untuk membalas pesan Baekhyun. “Kau ingin keluar bersamaku?.”

“Tidak.”

Chanyeol memberengut. “Turun. Aku menunggumu dibawah 10 menit dari sekarang!.”

Baekhyun menghembuskan napas berat, ia memang sedang tidak mood  bertemu dengan Chanyeol. Jantungnya selalu tidak normal jika bertemu dengan pria itu. Bahkan 10 menit terasa cepat berlalu, Baekhyun dengan wajah tertekuk berdiri dihadapan Chanyeol. Pria jangkung itu menyambutnya dengan senyuman lebar khasnya. Ia merangkul Baekhyun seakan pria mungil itu adalah kekasihnya.

“Ayo bersenang-senang daripada merenung meratapi nasibmu kekeke.” Chanyeol terkekeh diakhir kalimat.

Baekhyun tersenyum diam-diam. Butuh keberanian yang besar untuk mengungkapkan perasaannya. “Ehm.. Chan.” Baekhyun sedikit bergemetar, ia ragu.

“Ya?.”

“Kau suka denganku?.” Baekhyun menelan salivanya. Sungguh pertanyaan yang bodoh. Seharusnya ia tidak bertanya seperti itu. Tetapi semua sudah percuma untuk disesali. Ia hanya ingin sekarang seorang dewi menjemputnya dan membawanya ke surga. Konyol sekali.

“Aku suka dengan Baekhyun.”

Demi dewi fortuna, Baekhyun ingin meloncat ke dasar jurang sekarang juga. Tidak ia sangka bahwa Chanyeol juga menyukainya, ia sangat bahagia. “Wah-”

“-Kalau aku tidak menyukaimu, aku tidak akan berteman denganmu.” Ia memandang Baekhyun diiringi dengan senyum 3 jarinya.

Dan lagi, Baekhyun harus menelan kenyataan pahit untuk kesekian kalinya. “Bukan perasaan seperti itu yang ku maksud.”

“Sebenarnya, aku tengah jatuh cinta pada seseorang.” Ujar Baekhyun. Tangannya terkepal kuat, ia berusaha mengatakan sejujurnya pada Chanyeol. Ia tidak peduli lagi, apapun yang terjadi nanti akan ia fikirkan diakhir.

“Benarkah? Aku juga.” Kata Chanyeol.

Baekhyun mengangguk. Mungkin ini akhir dari hidupnya serta cerita menyedihkan yang ia jalani. “Aku-”

“-kau tahu tetangga cantik disamping rumah kita? Namanya Yoon Chaeyeon. Aku mencintainya, ia cantik dan juga pintar.” Jelas Chanyeol panjang lebar, matanya berbinar ketika mendeskripsikan bagaimana gadis itu. Mungkin dikepalanya saat ini juga dibayangi oleh gadis itu. Rasanya Baekhyun ingin menenggelamkan dirinya dilaut saja.

“Ah gadis itu seorang model terkenal.” Baekhyun tersenyum palsu. Begitulah caranya ia hidup, selama 5 tahun ia menggunakan topeng dihadapan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum riang. “Yeah, aku sangat menyukainya.” Ia berlari bak seorang anak kecil mengejar layang-layang. Ia memang sedikit kekanakan.

“Aku menyukaimu, Chan.”

Chanyeol berteriak sepanjang jalan. “Aku mencintai Yoon Chaeyeon.”

“Aku lebih mencintaimu, Park Chanyeol.”

“Aku akan menikahinya nanti.”

“Bisakah aku yang diposisi itu?.”

Baekhyun hanya dapat menjerit dalam hatinya. Tidak ada yang akan mendengar suara hatinya kecuali tuhan. Dan yang Baekhyun lakukan hanyalah sia-sia.

oOo

Sore itu hal paling tidak diinginkan dalam hidup Baekhyun terjadi. Tetapi, senyuman lebar itu memaksa Baekhyun untuk tersenyum juga. Ia senang jika melihat Chanyeol bahagia, tetapi kebahagiaan Chanyeol menyiksa batinnya.

“Selamat untuk kalian.” Baekhyun berujar lirih.

Chaeyeon tersenyum manis, yeah dia memang anggun. Pantas saja Chanyeol tergila-gila dengannya. “Terimakasih, Chanyeol bilang kau adalah sahabatnya. Maka dari itu kau adalah orang yang pertama kali kami kabari tentang pertunangan ini.” Chaeyeon bersemu merah menatap Chanyeol disampingnya. Tangan mereka saling terpaut satu sama lain.

“Ah, tentu saja. Selamat, semoga kalian bahagia.” Baekhyun tersenyum hambar.

Chanyeol menatap Baekhyun sekilas. Kemudian, ia teringat sesuatu yang penting. “Ah, besok kau akan pentas dipagelaran besar itu ‘kan?.”

Baekhyun mengendikkan bahu. “Ternyata kau ingat, kau akan menonton?.”

“Tentu saja.” Chanyeol mengangguk dengan pasti.

Baekhyun menatap Chaeyeon dengan malas. “Kau juga boleh menonton.”

Chaeyeon mengangguk kecil. “Terimakasih oppa.”

Pada tengah malam, pintu rumah Baekhyun diketuk. Rasanya, ia ingin memaki orang yang bertamu dimalam hari. Mengganggu waktu tidurnya saja. Ia tidak tahu betapa sibuknya Baekhyun akhir-akhir ini. Waktu istirahatnya adalah kesempatan emas paling berharga.

Dan ketika melihat siapa yang bertamu malam itu, Baekhyun jadi urung memakinya bahkan ia dengan senang hati meminta tamu itu memasuki rumahnya. “Ada apa?.”

“Aku meminta bantuanmu.”

“Katakan sajalah.” Baekhyun menghempaskan dirinya disofa. Ia memejamkan matanya yang terasa berat.

“Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untu Chae, jadi bisakah kau buatkan sebuah lagu yang romantis untukku?.”

Mata Baekhyun seketika terbuka lebar. Hatinya seakan ditusuk ribuan belati, rasanya menyakitkan. Baekhyun mendengus, “tentu, aku ini sahabatmu Chan.”

Semua orang tahu bahwa Baekhyun adalah seorang komposer handal, jadi hal seperti ini tidak membutuhkan waktu yang lama.

“Lagu ini cukup manis Baek, bisakah kau berikan ini untukku?.” Chanyeol bertanya ditengah kesibukan Baekhyun menulis lagu. Ia menoleh dan terkejut melihat lagu kesayangannya disentuh oleh orang lain. “Jangan sentuh itu Chan, letakkan kembali atau aku tidak akan pernah berbicara denganmu selamanya.”

Chanyeol memberengut, ia bersungut-sungut. Dengan berat hati ia meletakkan kertas tersebut. “Ancaman mu itu mengerikan.” Bagi Chanyeol, tidak berbicara dengan Baekhyun adalah sebuah petaka. Karena ia tidak betah jika ia harus berjauhan dengan pria mungil itu.

“Pulang sana, aku mengantuk. Dan ini, lagu mu.” Baekhyun meletakkan kertas hasil aransemennya diatas piano, lalu Chanyeol mengambilnya. “Terimakasih Baek, kau sangat baik.”

“Ya, tidak perlu berterimakasih.”

Chanyeol segera keluar dari rumah Baekhyun. Dan seperti biasa, ia akan memandang Chanyeol yang terlelap dari jendelanya. Ia mengulum senyum manis. “Malam Chan, selamat tidur.”

oOo

Pagi-pagi sekali, ponsel Chanyeol berdering. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Baekhyun disana. Ia berlari ke sisi jendela kamarnya, ia melihat Baekhyun berdiri disebrang sana dengan tatapan marah.

“Kau mengambil kertas aransemen laguku semalam?.”

“Yang mana?.” Chanyeol mengendikkan bahu, ia benar-benar tidak tahu dan memang kenyataannya bukan ia yang mengambilnya.

“Kau yang memegangnya saat itu, lalu sekarang hilang.”

“Kau melihatnya kemarin aku meletakkannya kembali, kau bahkan mengancamku dengan ancaman yang mengerikan itu. Aku tidak mengambilnya. Sungguh.” Chanyeol mengacungkan dua jarinya yang membuat Baekhyun menghela napas, Chanyeol adalah orang yang jujur jadi pasti kertas itu terselip dan bukan Chanyeol yang mengambilnya.

“Maafkan aku yang telah menuduhmu.”

“Tidak apa-apa mungkin kau hanya panik.” Chanyeol tersenyum lebar.

“Jangan lupa untuk datang ke pertunjukan spektakulerku.” Baekhyun terkekeh.

“Tentu, tunjukkan yang terbaik. Semangat.” Chanyeol mengepalkan tangannya ke udara berniat memberi semangat. Baekhyun tersenyum dan mengangguk kemudian.

Hari itu, adalah hari paling buruk yang Baekhyun alami. Hari dimana persahabatan yang mereka jalin selama 6 tahun hancur dalam hitungan menit. Chanyeol mengatakan bahwa ia akan datang ke pertunjukannya. Nyatanya omongannya hanyalah bullshit. Baekhyun merasa kecewa.

Dan yang paling membuatnya sakit hati adalah, ia melihat Chanyeol dan Chaeyeon bermesraan didepan rumah Chanyeol. Baekhyun berdiri didepan pintu pagar rumah Chanyeol. Pria jangkung itu menyadari keberadaan sahabatnya. Ia baru teringat sesuatu hal, ia melupakan hal yang besar. Chanyeol menghampiri Baekhyun dengan berlembar-lembar kertas didekapannya.

“Maaf Baek, aku lupa.” Chanyeol bersuara.

Baekhyun tersenyum sinis. “Tentu, aku mengerti bahwa kau telah dibutakan cinta.”

Chanyeol mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?.”

“Kau melupakanku setelah kau bersamanya.” Baekhyun melirik Chaeyeon yang tengah menunduk ketakutan.

Chanyeol mendorong Baekhyun dengan tangan kanannya. “Jangan menyakitinya bahkan seujung kuku. Lagipula apa salahnya, aku hanya tidak menontonmu sekali Baek.” Ia menekankan kata terakhir. “Kau berlebihan.”

Baekhyun menatap kertas yang berada didekapan Chanyeol. Ia merebutnya dan tertawa hambar. “Kau bahkan berubah menjadi pencuri dan pembohong. Ini laguku dan kau mengambilnya diam-diam?.”

Chanyeol tersulut emosi, ia berteriak didepan wajah Baekhyun. “Itu hanya satu lagu Baek, kau bahkan dapat membuat 10 atau lebih yang seperti itu.”

Baekhyun menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak percaya. “Kau tidak mengerti bagaimana pentingnya lagu ini untukku, walaupun aku adalah seorang komposer handal aku tidak akan bisa membuat yang sama persis seperti ini.”

Chanyeol mendecih. “Aku selalu berusaha membuat orang lain bahagia, tetapi tidak adakah orang lain yang melakukan hal yang sama padaku?.” Ucapan Chanyeol terkesan menyindir.

Baekhyun mendengus. “Sejak kapan kau menghitung apa yang kau lakukan pada orang lain? Aku tidak ingin bicara denganmu, kau bukan Chanyeol temanku.” Ia pergi berlalu.

Chanyeol berteriak ketika punggung Baekhyun perlahan mulai menjauh dari pandangannya. “dan jangan pernah menemuiku lagi.”

Chanyeol fikir, semua akan kembali seperti semula. Baekhyun akan melupakan masalahnya dan mengajaknya berbicara. Nyatanya tidak. Fikiran Chanyeol terlalu pendek, ia tidak menyadari sesuatu yang besar telah terjadi. Persahabatan mereka diambang kehancuran. Ia merindukan suara cempreng Baekhyun, kecerewetan pria itu, perhatiannya dan cara ia memperhatikan gerak-geriknya. Selama ini Chanyeol tahu bahwa Baekhyun memperhatikan aktifitasnya dari jendela kamarnya. Maka dari itu ia tidak pernah menutup hordengnya, itulah alasan yang sebenarnya. Ia juga tahu, bahwa Baekhyun menyukainya. Namun ini salah. Maka dari itu, ia akan memutus ucapan Baekhyun yang akan mengungkapkan perasaannya, ia takut jika hubungan mereka menjadi canggung kemudian merenggang. Dan semua ini sudah terlambat. Sekarang, semua ini sudah terjadi. Tidak ada lagi yang mengingatkannya minum obat, menyuruhnya makan dan mengkhawatirkannya. Disudut kamarnya, Chanyeol menangis.

Beberapa panggilan dari Chaeyeon ia abaikan. Bahkan gadis itu sepertinya sudah tidak peduli lagi dengannya. Ketika ia keluar rumah ia mendapati sebuah kotak cincin yang pernah ia berikan pada Chaeyeon dan juga sebuah surat. Gadis itu mengembalikan cincin pertunangannya dan meninggalkan Chanyeol. Ia pergi ke kanada dan tidak akan pernah kembali ke korea.

Sudah hampir satu minggu Baekhyun dan Chanyeol tidak saling berbicara, saling menyapa dan bahkan seperti orang asing. Chanyeol menunggu Baekhyun disisi jendelanya dan pria mungil itu tidak pernah membuka jendelanya, bahkan hordengnya pun tidak pernah dibuka. Begitupun dengan pintu maafnya, mungkin Baekhyun sudah menutupnya. Selama seminggu itu pula, Chanyeol tidak pernah mengurus dirinya. Ia hanya duduk disisi jendela seraya menunggu Baekhyun membuka jendela itu.

Chanyeol merasa nyeri didadanya, ia meringis kesakitan. Ia merangkak meraih tempat obatnya, namun kosong karena obatnya telah habis dari beberapa hari yang lalu. Ia bahkan lupa untuk membelinya. Chanyeol bersandar disisi ranjang dengan memegangi dadanya. Tangannya berusaha menggapai ponsel, ia mengetikkan nama Baekhyun dan sambungan telpon terhubung. Baekhyun tidak langsung mengangkatnya, berulang kali Baekhyun menolak panggilan. Berulang kali pula Chanyeol tak menyerah menelpon Baekhyun. Dan Baekhyun tidak akan pernah mau berbicara dengannya. Maka dari itu, Chanyeol mengirimkannya pesan berbunyi. “Buka jendelamu Baek, untuk sekali saja.” Dan hati kecil Baekhyun terketuk, semua rasa egois terkalahkan oleh kerinduan yang mendalam pada Park Chanyeol. Ia membuka hordengnya dan mendapati Chanyeol berdiri disisi jendela dengan memegangi sebuah kertas bertuliskan. “Terimakasih telah menjagaku, selamat tinggal.”

Baekhyun mengernyitkan dahi, ia berfikir untuk beberapa saat. Semua fikirannya seketika buyar ketika melihat Chanyeol limbung. Baekhyun panik setengah mati, ia tanpa berfikir segera berlari menuju rumah Chanyeol. Dan ia tahu hal yang mengkhawatirkan telah terjadi pada Chanyeol. Ia mendobrak kamar Chanyeol dan menemukan pria itu tergeletak lemah disana. Ia segera memapah Chanyeol dengan uraian air mata. Baekhyun memasukkan Chanyeol kedalam mobil dan segera melajukan mobilnya diatas rata-rata. Bahkan Baekhyun lupa, bahwa ia belum lancar mengemudikan mobil. Selama ini Baekhyun pergi selalu bersama Chanyeol, pria itulah yang akan mengantar Baekhyun. Jika bukan Chanyeol, Baekhyun akan pergi menaiki kendaraan umum atau taksi.

Setelah sampai dirumah sakit, Baekhyun segera meminta petugas disana untuk segera menolong Chanyeol. Baekhyun menangis bersandar diruang tunggu rumah sakit. Ia merasa putus asa selama berjam-jam menunggu Chanyeol diruang ICU. Bahkan dunianya seakan berhenti ketika dokter mengatakan bahwa Chanyeol dalam keadaan kritis. Jantungnya telah rusak dan ia membutuhkan transplantasi.

“Saat ini pendonor jantung sulit didapatkan. Keadaan jantung pasien yang meninggal beberapa saat yang lalu atau 6 jam yang lalu kondisinya buruk dan tidak sehat. Chanyeol butuh pendonor secepatnya.” Dokter menjelaskan panjang lebar. Jantung Baekhyun seakan jatuh ke perutnya. Maka, langkah besar harus ia lakukan. “Bolehkah aku yang mendonorkan?.”

“Tapi anda masih hidup tuan Byun Baekhyun.”

“Ku mohon dokter, aku siap melakukannya. Aku tidak ingin ditinggalkan sahabatku.” Baekhyun berbicara dengan penuh keyakinan.

“Baiklah, tetapi anda harus menandatangi surat inform concern serta persetujuan anda mendonorkan jantung ini atas kehendak sendiri dan bukan paksaan.” Baekhyun menjawab dengan anggukan.

“Tetapi, langkah ini sangat beresiko. Jika proses ini berhasil, maka pasien dapat hidup dengan baik.” Dokter melanjutkan.

Baekhyun mengangguk kecil seraya mengikuti langkah dokter memasuki ruangannya. “Semoga saja tubuh Chanyeol dapat menerima jantungku.”

“Jadi, mulai beberapa jam ke depan aku akan hidup di dalam dirimu Park Chanyeol.”

oOo

Sesuatu yang tidak diharapkan Chanyeol terjadi ketika ia membuka matanya pertama kali. Bukan seseorang yang ia harapkan yang berdiri dihadapannya. Entah, beberapa orang berjas putih dan berbaju serba putih juga ruangan bercat putih. Apakah ia sekarang berada disurga?.

Matanya berpendar ke penjuru arah. Ia menemukan peralatan medis yang berada ditubuhnya dan juga bunyi berisik dari mesin aneh itu terdengar nyaring ditelingnya. Chanyeol baru sadar bahwa ia tengah berada dirumah sakit sekarang.

“Tuan Park.” Sapa dokter pada Chanyeol. Ia menoleh. “Dimana Baekhyun?.” Chanyeol menemukan kejanggalan ketika ekspresi semua orang disana berubah. Apa sesuatu telah terjadi?.

“Apa yang terjadi?.” Chanyeol menitikkan air matanya. Ia sangat panik jika sesuatu telah terjadi pada sahabatnya itu.

“Tidak ada tuan, Baekhyun tadi mengantarmu ke rumah sakit lalu setelah itu pergi.”

Chanyeol tersenyum, ia merasa lega. Mungkin Baekhyun masih marah padanya. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Baekhyun. Ia akan meminta maaf padanya, bahkan ia akan berlutut dihadannya. Ia sudah merindukan sahabat mungilnya itu.

“Dan kami sudah mendapatkan donor untukmu tuan Park. Tubuh anda dapat menerima jantung hasil transplantasi dengan baik, anda dapat hidup dengan baik jika anda menjaga pola hidup anda.”

Chanyeol mengangguk, ia bahagia. Bahkan ia tidak sabar untuk  segera pulang dan mengabari sahabatnya jika ia telah sembuh.

Waktu berjalan sangat cepat tetapi bagi Chanyeol satu hari saja terasa seperti satu tahun. Dan seminggu telah ia lewati, beberapa orang datang menjenguk kecuali Baekhyun. Ia sangat sedih dan ingin menangis saat itu. Tetapi, ia tidak ingin membuat orang lain menangis karenanya.

Chanyeol tersenyum riang ketika mendengar kabar bahwa ia diperbolehkan pulang. Hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke rumah Baekhyun dan menemui sahabatnya. Tetapi ia kecewa ketika pintu rumah itu terkunci rapat. Ia berjalan gontai keluar dari pekarangan rumah Baekhyun.

“Hey, Chanyeol selamat kau telah hidup kembali.” Sapa Kim jinwoon, tetangganya.

Chanyeol tersenyum menerima uluran tangannya. “Terimakasih, oh ya Baekhyun pergi kemana?.”

Jinwoon menatap rumah Baekhyun kemudian berfikir sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. “Ia hidup dalam dirimu.” Kemudian ia menepuk bahu Chanyeol dan pergi berlalu.

Chanyeol menahan lengan Jinwoon. “Apa maksudmu?.”

Jinwoon menghela napas. “Dia sudah pergi dan mendonorkan jantungnya untukmu. Dan ini, kunci rumahnya kau pegang saja.” Jinwoon meletakkan kunci rumah Baekhyun ke telapak tangan Chanyeol. Dan disitulah hidupnya terasa mati.

“Oh ya, kemarin ketika aku ke rumah Baekhyun aku menemukan ini. Disitu ditulis untukmu.” Jinwoon memberikan sebuah amplop yang ditujukan memang untuknya.

“Terimakasih karena telah memberikan kehidupan yang baru untukku, tetapi hidupku bahkan seakan mati tanpamu. Bisakah kita pergi bersama saja?.” Chanyeol menangis memeluk kunci dan amplop itu kedekapannya.

Berhari-hari Chanyeol hanya berdiri disisi jendela menatap kamar Baekhyun. Ia memegang sebuah kertas lagu yang pernah menjadi perdebatan mereka. Lagu itu mengisahkan tentang seseorang yang mencintai tetangga samping rumahnya yang juga menjadi sahabatnya. Ia tahu bahwa lagu itu diciptakan Baekhyun untuk Chanyeol. Lagu itu sangat manis membuat Chanyeol tersenyum dan juga menangis, berharap Baekhyun memainkan piano seraya bernyanyi untuknya. Ia meraih kertas kosong dan menuliskan sesuatu disana. Ia menunjukkannya seolah Baekhyun berdiri disana seperti biasa menanti apa yang dituliskan Chanyeol.

“Terimakasih atas jantung ini.”

Ia membalik kertas.

“Aku akan menjaganya dengan baik.”

Ia membaliknya lagi.

“Aku baru sadar semuanya setelah aku kehilangan.”

Ia membalik kertasnya lagi. Chanyeol menangis tersedu.

“Aku juga mencintaimu.”

Chanyeol limbung dan menangis sejadinya. Ia baru sadar akan perasaannya pada Baekhyun, selama ini ia mungkin mencintai Baekhyun. Hanya saja ia merasa nyaman berada didekat pria itu, ia fikir perasaan itu hanyalah perasaan biasa. Karena menampik dan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah pria normal. Dan semuanya telah terjadi. Chanyeol hanya dapat menatap jendela kamar pria mungil itu seraya berharap Baekhyun berdiri disana dan membuka jendela itu. Tetapi, semua itu tidak akan pernah terjadi untuk selamanya.

End

A/N : ini sebenernya ff project birthdaynya Baekhyun, cuma karena gak bisa post kemarin jadi di post hari ini. maaf kalo banyak kesalahan.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Pingback: FFs | valsxid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s