MEMORIES OF ROSE [#1 – Rude] – Fitri Aulia

 ff

 Memories Of Rose

 

Author : Fitri Aulia

Main Cast : Kim Seo Hyun | Byun Baekhyun | Oh Sehun

Support Cast : Lu Han | Do Kyungsoo | Park Chanyeol | Kim Jongin | Lee Ae Yoon

Length : Chaptered

Rating : PG -15

Genre : AU, School Life, Romance, Angst, Hurt/Comfort, Family, Friendship

Recommended Song : ♬ Shawn Mendes – Stitches

2016 © Present

Poster by :

Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan dalam adegan tertentu merupakan ketidaksengajaan.

Note : Don’t be silent readers, and plagiarism. And don’t copy paste this story without my permission. Cerita ini juga terinspirasi dari beberapa ff lain, drama dan juga film. Satu lagi, cerita ini adalah fiction, fantasy liar dari khayalan saya. Jadi jangan dianggep serius. Maaf  juga kalo misalnya ada typo dan diksi yang ga tepat, soalnya aku hanya manusia biasa. Jadi maaf banget kalo banyak kekurangan dari ff ini, karena ini juga ff pertama aku.

H A P P Y   R E A D I N G
E N J O Y !

* * *

 

  1. Kim Seo Hyun

 

seohyun

 

Bagi Baek Hyun, Seo Hyun adalah segalanya. Sikapnya yang pendiam dan misterius semakin membuat Baek Hyun tergila-gila padanya, gadis berparas cantik yang memiliki sorot mata dengan jutaan kesedihan di dalamnya.

Salah satu murid tingkat kedua kelas E yang hanya masuk kelas 30 menit dalam seminggu, itupun hanya untuk mengisi absen dan tidur, siswi terbodoh di angkatannya. Hampir tidak mahir dalam segala bidang. Sifatnya yang lebih menuju ke arah negatif membuat dia memiliki predikat sebagai siswi terburuk di sekolahnya. Tak memiliki teman, dan tak dikenal oleh siapapun, bahkan teman sekelasnya sendiri.

Tapi namanya diketahui seantero sekolah, Hanyoung Foreign Language High School yang berada di Seoul, ibukota Korea Selatan.

Kim Seo Hyun, gadis misterius yang berhasil membuat Baek Hyun penasaran padanya.

Kim Seo Hyun, gadis beruntung yang merupakan cinta pertama seorang Byun Baek Hyun.

 

  1. Byun Baek Hyun

 

Baekhyun-Singles

 

Bagi Seo Hyun, Baek Hyun tak lebih dari sekedar pengacau dalam hidupnya. Keberadaannya selalu diwaspadai oleh Seo Hyun.

Wajahnya yang sangat tampan dan kekayaannya yang tak dapat diperkirakan membuat Baek Hyun menjadi most wanted di sekolahnya. Senyumnya yang menawan membuat dia digilai para gadis -kecuali Seo Hyun-. Belum lagi otaknya yang begitu cemerlang dan mahir dalam segala bidang, siswa tercerdas di Hanyoung Foreign Language High School. Prestasinya tersebar dimana-mana.

Murid kelas A. Salah satu siswa teladan yang selalu di elu-elukan oleh sekolahnya. Jika orang yang baru mengetahui tentangnya akan menganggap bahwa dia adalah pria yang sempurna.

Si tampan yang berkuasa di Hanyoung Foreign Language High School. Sang Student council president dan juga merupakan ketua angkatan untuk angkatannya. Kekurangannya hanya satu: Karakternya yang begitu dingin membuat dia dijuluki sebagai pangeran es di sekolahnya.

 

  1. Oh Se Hun

 

sehun

 

Sehun adalah salah satu dari anggota Tim Kedisiplinan yang terkenal sadis dan tak tanggung-tanggung menghukum ‘mangsa’ yang berhasil dia tangkap. Dia adalah murid tingkat pertama yang selalu menjadi incaran para senior perempuannya maupun yang seangkatan dengannya. Bahkan mereka yang mengaku mencintai pria ini rela menjadi murid nakal demi mendapat perhatian darinya.

Meskipun begitu, dia adalah pribadi yang baik dan begitu peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Dia adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya meninggal ketika Sehun berumur 6 tahun dengan kasus yang belum terselesaikan hingga saat ini dan meninggalkan warisan yang tak terhitung jumlahnya

Cita-citanya adalah menjadi detektif untuk mencari tahu apa penyebab kematian kedua orang tuanya.

Seumur hidupnya, Sehun hanya mencintai Kim Seo Hyun seorang. Gadis yang selalu ia lepas dan ia biarkan ketika dia hendak membolos.

 

  1. Kim Na Na

 

park bo young

 

Na Na adalah kakak perempuan Seo Hyun. Dia berusia 19 tahun. Ke tempat mana pun dia selalu ceria dan juga tersenyum meskipun memiliki masa lalu yang buruk. Namun kekurangannya yang fatal tetap membuat dia menjadi pembawa kebahagiaan bagi Seo Hyun, dan juga.. Lu Han.

 

  1. Lu Han

 

luhan_forbes_china_v2

 

Si cantik Luhan yang dewasa diantara yang lainnya. Sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum membuat para gadis menyukainya.

Dia memang tidak sepintar Baek Hyun, tapi soal musik dia ahlinya. Dengan tangannya yang terampil dia mampu memainkan segala alat musik. Suara emasnya mampu membuat setiap makhluk yang mendengarnya diam membisu. Dia merupakan putra kedua dari pasangan penyanyi yang begitu legendaris di China. Dan tentu saja bakatnya ini diturunkan dari orang tuanya.

Sama seperti Baek Hyun, dia tak pernah digosipkan dekat dengan gadis manapun. Tapi setidaknya dia pernah jatuh cinta sekali seumur hidupnya pada gadis remaja yang ‘ tidak normal ‘ ketika ia masih anak-anak.

 

  1. Kim Jongin

 

kai

 

Tipe pria yang selalu menghamburkan kekayaannya hanya untuk bersenang-senang. Dia sering sekali tersenyum hanya untuk menggoda para gadis agar terperosok jatuh ke dalam pesonanya.

Namun tingkat kepintarannya sangat jauh dibawah Baek Hyun. Atau bisa dibilang dia yang paling bodoh diantara yang lainnya. Cita-citanya menjadi DJ kelas dunia, tapi bakatnya yang sesungguhnya adalah melukis. Dia mampu melukis benda apapun yang berada di hadapannya, ataupun hal yang berada di khayalannya.

Namun pada kenyataannya, dia hanya mengejar satu gadis seumur hidupnya, Park Yoon Hee, guru Kimianya yang begitu kejam dan tak kenal kata ampun.

 

  1. Lee Ae Yoon

 

eun ji

 

Satu-satunya gadis yang berada di antara pertemanan mereka. Menari adalah hidupnya, dia seorang ballerina berbakat yang bermimpi untuk melanjutkan sekolahnya di Juilliard kemudian menjadi ballerina kelas dunia. Sama seperti yang lainnya, dia juga dilahirkan dengan sendok emas di mulutnya, diperlakukan bak tuan putri sejak lahir. Dia juga putri tunggal dari ketua yayasan Hanyoung High School.

Dia konyol, semua orang tahu itu. Rasa humornya begitu tinggi, sering tersenyum dan juga tertawa. Banyak pria yang mendekatinya, namun selalu berujung babak belur karena gadis ini begitu ganas dan tak suka di dekati pria yang baru dikenalnya.

Ke tempat manapun, selalu ada Kyungsoo yang menemaninya, meskipun mereka sering sekali bertengkar. Entah Ae Yoon yang mengikuti Kyungsoo, atau Kyungsoo yang mengikuti Ae Yoon. Namun mereka sama sekali tak bisa dipisahkan.

Bagi Ae Yoon, Kyungsoo adalah saingan terberatnya dalam bidang apapun, bahkan gadis ini selalu menganggap jika Kyungsoo adalah musuh terbesarnya. Namun dia memiliki satu sifat buruk yang tak ada satu orang pun tahu, yaitu keegoisannya untuk memonopoli Kyungsoo sendirian.

 

  1. Do Kyungsoo

 

do

 

Do Kyungsoo, Ketua Tim Kedisiplinan yang begitu di kagumi oleh para siswi. Anak bungsu dari 9 bersaudara, satu-satunya anak laki-laki yang berada di keluarganya. Dan satu-satunya pria yang sampai detik ini masih bertahan untuk berada di sekitar Ae Yoon. Dia pria yang baik, dan juga konyol. Kyungsoo juga sangat menghormati kedudukan seorang wanita akibat sering mendengarkan ocehan kedelapan kakak perempuannya.

Sering bertengkar dengan Ae Yoon, dan dia menikmati setiap pertengkaran mereka.

Dia selalu merasa tak memiliki bakat apapun, semuanya serba biasanya. Namun dia pandai sekali memasak karena Ae Yoon selalu memaksanya agar mau memasakkan makanan aneh yang tak pernah ia makan sebelumnya. Dia juga peracik kopi handal, semua jenis kopi yang dia buat rasanya seperti racikan barista kelas dunia. Karena itu, Ae Yoon selalu mengusulkan agar Kyungsoo mau menjadi barista, tapi ide itu di tolak mentah-mentah oleh Kyungsoo.

Dia tidak memiliki mimpi, tidak punya tujuan hidup. Dan tak tahu rencana masa depannya seperti apa. Yang hanya ia tahu dan ia inginkan adalah, bahwa ia ingin selalu berada di samping Ae Yoon untuk melindungi gadis itu.

 

  1. Wu Yi Fan

 

wu yi fan

 

Pria berumur 21 tahun yang sudah kehilangan arah hidupnya, tak punya alasan untuk hidup, dan menderita depresi berat. Dia adalah kakak laki-laki Seo Hyun, meskipun tak ada hubungan darah dengan keluarga Seo Hyun, dia sudah dianggap sebagai keluarga.

Dulu, sebelum peristiwa yang membuatnya hancur itu terjadi, dia adalah anak yang cerdas dengan segudang prestasi. Tapi sekarang, dia adalah pecandu alkohol dan juga pria yang emosional.

 

***

 

 ” Ikut aku. ” Dua tangan yang menyentuh kedua bahunya itu menggiringnya ke sisi lain di ruangan tersebut, kemudian berhenti.

 ” Lihat, gaun pemberianku cantik bukan? “

Seorang anak laki-laki yang mengenakan setelan jas lengkap itu berdiri tepat di belakang punggung seorang anak perempuan. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada satu tempat, dimana sebuah cermin berukuran besar yang memantulkan diri mereka masing-masing. Anak laki-laki itu tersenyum bangga, memerhatikan gaun cantik yang begitu elegan membalut tubuh mungil anak perempuan itu. Gaun yang berwarna putih dengan hiasan bunga di bagian atasnya, roknya mengembang, kemudian sebuah pita coklat muda berukuran sedang melingkar di pinggangnya. Tak ketinggalan, sebuah mahkota bunga yang warnanya di dominasi putih dan hijau itu melingkar di puncak kepala anak perempuan itu.

 Rambut coklat kehitamannya yang bergelombang dibiarkan tergerai, aroma shampoo strawberry menguar di indera penciuman anak laki-laki itu, membuat jantungnya berdegup kencang. Anak laki-laki itu semakin melebarkan senyumnya ketika melihat mata anak perempuan itu tampak berbinar-binar.

 Kemudian, mata jernih Baek Hyun beralih pada setangkai bunga mawar merah yang tengah di pegang oleh tangan kanan anak perempuan itu. Membuat perasaannya semakin membuncah karena bahagia. Mawar merah itu, pemberiannya. Anak perempuan itu sangat menyukai mawar merah.

 Sedetik kemudian, anak perempuan itu mengangguk, ” Ini cantik sekali, Tuan. Aku merasa.. Aku merasa seperti Tuan Putri. Terimakasih, Tuan Muda. ” Senyumnya mengembang.

 ” Seo, aku perintahkan padamu, mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan Tuan Muda. Panggil aku Baek Hyun. “

 ” Tapi Tuan, bukankah- “

 ” Aku akan menghukummu jika kau tidak menuruti perintahku, Seo. “

 ” Ba-baiklah. “

 Kemudian senyum manis yang mengembang di bibir mungil gadis itu berubah. Raut wajah bahagianya kini tergantingan oleh raut wajah yang tidak dapat diartikan. Suasana di tempat tersebut berubah menjadi mencekam, kini tirai-tirai itu menutupi semua jendela, tempat itu gelap, hanya ada cahaya yang berasal dari ventilasi ruangan.

 Dan posisi mereka berdua berubah. Anak laki-laki yang bernama Baek Hyun itu berada di sudut ruangan, dan anak perempuan itu berdiri di hadapannya. Di sudut kegelapan itu, dimana rasa takut, marah dan kesedihan bercampur, perasaan yang begitu pekat dari dua orang yang berada di tempat itu. Baek Hyun yang berdiri dengan rasa takut yang luar biasa, dan seorang anak perempuan dihadapannya dengan perasaan sedih dan marah yang mendominasi. Kini, anak perempuan itu meremas mawar merah pemberiannya, menghancurkannya hingga beberapa helai kelopak itu jatuh ke lantai.

 ” Baek Hyun! Aku sangat membencimu. Jangan pernah kau berani muncul lagi di hadapanku. “

 Setelahnya, dengan tatapan kebencian yang begitu kentara, anak perempuan itu melempar mawar merah yang kini sudah tak berbentuk lagi ke arah Baek Hyun kecil, dan meninggalkannya yang masih terpaku di tempatnya sendirian. Dengan air mata yang telah memenuhi kelopak matanya, dia memandang punggung anak perempuan yang sukses membuat hati kecilnya remuk. Dia hancur, hingga kepingan terkecil yang tak akan pernah bisa kembali dibangun.

 Dan malam itu, malam kehancurannya, untuk yang pertama kalinya, seorang Byun Baek Hyun yang egois dan berkuasa menangis untuk orang yang derajatnya jauh lebih rendah darinya. Untuk seorang anak perempuan yang namanya terlanjur terukir di relung hatinya. Untuk seorang anak perempuan yang merupakan pembawa kebahagiaan dan juga kesedihannya.

 ” Jangan tinggalkan aku sendiri, Seo. “

 

” Jangan tinggalkan aku, Seo! ”

Kemudian, dengan keringat yang mengalir di pelipisnya Baek Hyun terbangun dari tidurnya. Dengan wajah pucat dan jantungnya yang berdetak dengan cepat. Dan juga, tambahan rasa sakit yang kembali melukai hati kecilnya. Nafasnya berderu, dia yang tak sengaja tertidur di sofa menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh keringat dengan tangan kirinya. Tubuhnya bergetar hebat, dia mengerang frustasi.

Mimpi itu kembali menghantui dirinya. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi itu selalu rutin mengunjungi malamnya.

” Jangan, jangan pernah membenciku. Kapan aku bisa muncul di hadapanmu lagi, Seo? ”

 

***

Di gang sempit yang berada di samping salah satu gedung yang berada di pusat kota, terdengar suara gaduh yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa ngilu. Pencahayaannya yang begitu minim, dan angin dini hari yang berhembus cukup kencang, sepertinya siapapun akan berpikir 2 kali untuk melewati gang itu.

Bugh!

Lagi-lagi pria malang yang sedang dikeroyok oleh 5 orang bertubuh kekar kembali mendapatkan pukulan yang mendarat di perutnya. Kekuatannya yang tak sebanding dengan mereka berlima, membuat pria itu hanya pasrah sejak awal, belum lagi pengaruh alkohol yang begitu kuat membuat dirinya tak bisa melawan sedikitpun.

” Rasakan ini! ” Ucap salah satu pria bertubuh kekar, dia mengarahkan pukulannya ke arah pipi pria itu kemudian tertawa, diikuti oleh ke empat temannya yang lain.

” Heh, dengar ya. ” Dia menarik kerah pria malang itu.

” Tuan kami memberi waktu dua hari, jika kau tak mampu melunasi hutangmu, tak akan ada ampun bagimu lagi. ” Ucapnya lagi. Kemudian dia kembali mendaratkan pukulannya di wajah pria malang itu dan pergi bersama teman-temannya, menertawakan pria itu seolah dia hanyalah sampah tak berguna.

Kemudian dia tertawa. Wu Yi Fan, pria malang yang habis di pukuli itu tertawa pelan. Dia menyenderkan tubuhnya pada dinding, dengan ibu jarinya dia mengusap ujung bibirnya seraya meringis kesakitan, ” Sial, mati saja kau. ” Umpat pria itu pelan.

Dia memejamkan kedua matanya pelan, memfokuskan rasa sakit di sekitar wajahnya yang lebam agar terbiasa. Setelah dirasa cukup, dia akhirnya beranjak bangun dari tempatnya, berjalan terhuyung karena pengaruh alkohol dan juga luka di tubuhnya.

 

***

 

” Seo Hyun, Seo Hyun. ”

Perlahan, mimpi indah yang tengah ia nikmati mulai kabur digantikan oleh dunia nyata ketika ada suara lembut yang memanggil namanya. Gadis bernama Seo Hyun yang tengah tertidur pulas di kasur kecil tipis di bawah lantai itu membuka kedua matanya perlahan, kemudian tersenyum. Mendapati seorang gadis yang berusia dua tahun di atasnya itu tengah memanggil-manggil namanya dengan wajah yang kusam, rambutnya yang sudah tak berbentuk, piyama merah muda kebesaran membungkus tubuh mungil gadis itu. Dia tetap terlihat cantik meski dengan penampilan yang tak karuan, lebih dan sangat cantik jika dia tidak sakit.

” Eonni, aku masih ingin tidur. ” Bisik Seo Hyun dengan suara seraknya. Dia menarik selimut biru cerahnya dan membelakangi tubuh kakak perempuannya. Kim Na Na, itu namanya.

” Seo Hyun, aku ingin bubur. ” Rengek Na Na, dia mengguncang tubuh adiknya, membuat Seo Hyun menahan tawa, menyenangkan sekali berpura-pura seperti ini.

” Aku ingin bu..bur. ” Sedetik kemudian Na Na terisak, membuat dada Seo Hyun sesak, membuat hati kecilnya berteriak.

Gadis berumur 17 tahun itu menyingkap selimutnya dan menatap kakak perempuannya dengan tatapan terluka, seperti baru teringat kembali dengan kenyataan sesungguhnya. Kenyataan bahwa kakak perempuan yang amat ia sayangi sakit, kenyataan bahwa kakak perempuannya ini adalah gadis berumur 19 tahun yang bersikap seolah ia anak perempuan berumur 9 tahun, kenyataan bahwa kakak perempuannya ini menderita gangguan jiwa. Kenyataan yang begitu menyakitkan untuk Seo Hyun.

Dia depresi berat. Itu adalah penyebab awal mengapa Na Na berujung seperti ini. Ketika kecelakaan 5 tahun yang lalu menjadi awal bagi kehancuran keluarganya, satu per satu anggota keluarganya melangkah di luar jalur yang seharusnya. Ayahnya yang meninggal karena kecelakaan itu, ibunya yang harus menjadi kupu-kupu malam karena harus menghidupi ketiga anaknya, Wu Yi Fan -kakak laki-lakinya- yang berubah menjadi pecandu alkohol dan seorang yang emosional, serta Kim Na Na -kakak perempuannya-yang depresi berat setelah itu berubah menjadi gadis gila.

Kecelakaan tragis itu, membuat Na Na tak mampu menerima kenyataan bahwa ia telah ditinggalkan oleh Ayah yang amat ia sayangi. Kemudian, masa kanak-kanak Na Na yang dipenuhi oleh kebahagiaan mengambil alih jiwa Na Na, dia berubah sepenuhnya menjadi anak kecil yang selalu ceria, berusaha membuat memori baru tentang masa kanak-kanaknya agar memori lama yang begitu memukau itu tergantikan. Membuat hati kecil Seo Hyun merasa seperti tercabik, harus menjadi saksi hidup di tengah keluarganya yang berantakan.

” Jangan menangis, Eonni. Jika Eonni menangis, maka aku juga akan menangis. Eonni mau aku menangis? ” Tanya Seo Hyun lembut. Tangisan Na Na mereda, dia menatap Seo Hyun dengan matanya sudah basah, kemudian menggeleng pelan.

” Baik, ayo kita masak bubur! ” Sahut Seo Hyun semangat, dia mengangkat tangan kanannya kemudian tersenyum lebar. Na Na tertawa, memerhatikan Seo Hyun yang begitu semangat. Setelah Seo Hyun membereskan kasurnya, ia bangun dan mulai memasak bubur untuk kakak perempuannya, di dapur yang berukuran kecil itu mereka tertawa dan saling bercanda, berbagi kebahagiaan di pagi hari dengan begitu sempurna.

” Astaga Eonni! Aku telat sekolah! ” Seru Seo Hyun, ia terperanjah kaget ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan waktu dimana seharusnya ia sudah pergi menuju sekolah. Na Na hanya bisa tertawa seraya menyantap buburnya. Kemudian dengan gerakan secepat kilat Seo Hyun merapikan peralatan masak yang baru saja ia cuci ke tempatnya dan berlari ke kamar. Mengenakan seragam sekolahnya tanpa peduli kerapihan, ia membereskan buku-bukunya dan berjalan menuju pintu, mengenakan sepatu sambil menenteng tas hitamnya.

” Eonni, aku pergi dulu. Siang nanti aku akan pulang dan membawa makanan, Eonni jangan lakukan sesuatu yang aneh, ya! ” Teriak Seo Hyun di ambang pintu.

Kemudian dia berlari menuju jalan raya dengan begitu cepat, rambut hitam kecoklatannya yang tak sempat di sisir terbang seiring dengan ia berlari, beberapa orang yang tengah melakukan aktivitas pagi menatap gadis itu dengan heran.

Langkah Seo Hyun terhenti ketika ia berada di pinggir jalan raya, dia menghitung uang yang ia miliki di dalam saku blazer biru dongkernya dan berdecih. Hanya cukup hingga sampai ke sekolah, desahnya dalam hati.

” Mungkin pulangnya aku bisa jalan kaki. ” Gumam Seo Hyun pelan.

Setelah selesai menghitung uang, dia menolehkan kepalanya ke kanan serta ke kiri, kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya, masih ada 10 menit lagi. Dan sampai saat ini tak ada satu pun bus yang lewat menuju sekolahnya.

” Tak masalah jika telat. Yang penting aku masuk sekolah. ” Bisiknya kepada dirinya sendiri.

Kemudian dia teringat sesuatu dan tersenyum lebar, ” Tak masalah jika aku belum mandi. Aku bisa mandi di sekolah. ” Bisiknya kembali.

Setelah beberapa menit berlalu, bus menuju sekolahnya berhenti tepat di hadapannya, gadis itu menaiki anak tangga bus dan berjalan menuju deretan bangku paling belakang sebelah kiri, ia menyenderkan kepalanya ke jendela dan memerhatikan beberapa orang yang berlalu lalang di jalanan. Sedetik kemudian gadis itu memejamkan kedua matanya karena ia masih terlalu lelah untuk membuka kedua matanya saat ini.

 

***

 

Perlahan, Seo Hyun membuka kedua matanya yang sudah terpejam untuk beberapa lama. Dia memerhatikan sekelilingnya, bus ini sudah kosong, penumpang yang lain sudah turun dan menyisakan beberapa orang termasuk dirinya. Ia melirik ke luar jendela, sebentar lagi ia akan sampai ke sekolahnya.

Hanya telat 40 menit. Pasti gerbang sudah di tutup. Dan satu-satunya jalan masuk menuju sekolahnya adalah dinding belakang sekolah. Mungkin hanya Seo Hyun satu-satunya siswi yang paling tenang ketika dia sadar bahwa dia telat 40 menit, dia hanya duduk dengan tenang di tempatnya, menikmati pemandangan aktivitas orang-orang yang mulai sibuk dengan pekerjaannya.

” Hanyoung High School! ” Teriak supir bus.

Seo Hyun mulai membereskan tasnya, kemudian bangkit dari tempatnya. Ia berjalan melewati deretan bangku dan turun dari bus itu. Beberapa orang terlihat memperhatikan gerak-gerik gadis itu karena penampilannya begitu mencolok. Rambutnya yang kusut karena belum di sisir sama sekali, kemeja putihnya yang tak dimasukkan ke dalam rok, belum lagi kerahnya tampak tak rapih, kemudian blazer dan roknya yang begitu kusut. Astaga, gadis ini habis darimana?

Dengan langkahnya yang santai dia berjalan menuju ke belakang sekolah, sebelum dia memanjat pagar, dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada siapapun yang akan menangkapnya basah atas perbuatannya yang benar-benar tak terpuji itu.

Perlahan tapi pasti, Seo Hyun memanjat pagar itu. Ketika dia berada di puncak dia menjatuhkan tas hitamnya, dan dia berhenti. Gadis itu menghentikan perbuatannya ketika matanya menangkap seorang pria yang tengah berdiri di dalam gedung, tampaknya ia tengah memerhatikan Seo Hyun dari balik jendela yang berukuran besar itu.

Dia lagi, pikir Seo Hyun.

Seo Hyun, setiap dia memanjat pagar ini pasti selalu ada pria itu. Seo Hyun sama sekali tak mengenalnya, ” Sial, aku mau turun. Apa dia tidak tahu jika aku mengenakan rok sependek ini? ” Gerutu Seo Hyun kesal. Kemudian dia menaruh telunjuknya di bibirnya untuk menyampaikan maksudnya agar pria itu tak memberi tahu siapapun soal kejadian ini, kemudian mengisyaratkan kepada pria itu bahwa ia akan turun dari pagar ini.

Dan hal yang membuat Seo Hyun kesal setengah mati adalah reaksi pria itu. Awalnya dia memang terkejut, tapi setelahnya dia berbalik dengan wajah datarnya, dan Seo Hyun menerjunkan tubuhnya ke tanah, karena dia terlalu sering melakukan hal seperti ini, gadis itu mendarat begitu mulus. Dan setelahnya, ia pun langsung berjalan menuju kelasnya, kemudian mengeluarkan kamus tebal akan beralih fungsi menjadi bantal dan membuat tidurnya nyaman di meja yang berada di pojok paling belakang itu.

 

***

 

Byun Baek Hyun. Lagi dan lagi, sepertinya dia terlalu larut oleh berkas-berkas yang harus ia selesaikan sebelum hari menjelang sore. Kepalanya berdenyut, dia mendesah pelan, kemudian menyenderkan tubuhnya ke sofa. Memejamkan kedua matanya perlahan.

Oh, andaikan dia adalah murid biasa.

Mungkin saat ini ia sedang bermain sepakbola bersama teman-temannya yang lain di lapangan. Bukan di ruangan yang begitu luas yang di sekelilingnya di penuhi buku yang sangat membosankan itu. Warna dindingnya putih, didominasi oleh jendela dengan ukurannya yang cukup besar. Terdapat dua buah papan tulis besar yang dipenuhi tulisan-tulisan menyebalkan itu, sengaja dijadikan pusat ruangan dan di tempelkan di dinding. Sofa abu-abu dilengkapi mejanya, kulkas dan juga dispenser, serta sebuah meja berukuran besar yang biasa digunakan untuk pertemuan dengan anggota OSIS lainnya. Belum lagi ruangan persegi kecil yang di khususkan untuk menyimpan arsip sekolah.

Beberapa bulan lagi, dan masa jabatannya sebagai Ketua OSIS habis. Hari itulah yang sangat ia nantikan, ingin menikmati kelonggaran hidup lebih banyak lagi. Tapi bukan berarti dia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Oh bahkan dia adalah Ketua OSIS terbaik dari yang sebelum-sebelumnya. Targetnya yang selalu berhasil dan kinerjanya yang begitu memuaskan membuat dia dianggap pahlawan oleh seluruh warga sekolahnya, Hanyoung Foreign Language High School, salah satu sekolah menengah atas terbaik di Korea Selatan.

Belum lagi kecerdasannya yang begitu diimpikan oleh semua pelajar. Prestasi yang telah ia sumbangkan semenjak menginjak tahun pertama sudah tak terhitung jumlahnya. Dan jangan lupakan soal ketampanannya. Semua gadis normal pasti tak akan menolak pesona pria yang satu ini.

” Baek Hyun? ”

Merasa namanya dipanggil, Baek Hyun membuka kedua matanya dan langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya wanita paruh baya yang mengenakan blazer hitam serta rok selutut, warna putih mendominasi rambutnya yang di gulung ke atas, suara dari high heels setinggi 5 cm itu memenuhi ruangan, memecahkan keheningan.

” Ah, Park Songsaenim. Selamat siang. ” Sapa Baek Hyun seraya beranjak dari tempatnya kemudian berdiri, membungkuk memberi hormat kepada wanita iu.

Wanita yang sering dipanggil Park Songsaenim itu tidak menjawab. Dia memerhatikan penampilan Baek Hyun dari atas ke bawah dan sebaliknya. Kemejanya kusut dengan kedua tangan kemeja yang digulung sampai siku, dasinya longgar, rambut hitam legamnya berantakan, dan blazer biru dongkernya yang kini disampirkan di kepala sofa. Dan jangan lewatkan kantung matanya yang mulai menghitam.

Baek Hyun yang merasa diperhatikan berdehem pelan, merasa tidak nyaman, ” Maaf penampilanku berantakan. ” Ucapnya gugup.

” Tadi malam kau tidak pulang? Astaga, aku sudah memperingatkanmu untuk jangan bekerja terlalu keras. Kau butuh istirahat, nak. ” Ucap Park Songsaenim lembut, dia berjalan menuju dispenser dan mengambil minum disana, menyodorkannya kepada Baek Hyun.

” Terima kasih. ”

Kemudian mereka bercakap-cakap mengenai masalah sekolah. Membahas apa saja yang perlu ditangani dan bagaimana menanganinya. Kemudian, dengan senyuman yang begitu lembut Park Songsaenim meninggalkan ruangan itu, kembali menambah masalah yang dihadapi Baek Hyun.

Tapi Baek Hyun menerimanya dengan lapang, ini sudah menjadi tugasnya sebagai Ketua OSIS, Baek Hyun sudah tau konsekuensinya. Dan Baek Hyun takkan pernah patah semangat.

Tapi yang tadi itu, senyumannya yang lembut, kepeduliannya yang tinggi, dan tutur katanya yang begitu halus. Tidak, Baek Hyun belum gila jika dia menyukai wanita tua itu.

Dia hanya teringat ibunya.

 

***

 

Seo Hyun dengan seragamnya yang berantakan itu tengah berjalan sendirian menyusuri koridor yang tampak padat tersebut. Penampilan gadis itu begitu mencolok dan mengundang perhatian.

Beberapa murid yang tak sengaja menangkap bagaimana gaya gadis itu berbisik dengan teman-temannya, membicarakan gadis yang tengah berjalan gontai sendirian, dengan wajah yang pucat dan matanya yang merah. Tak ada seorang pun dari mereka yang mengetahui nama gadis itu, bahkan mereka merasa tak pernah melihat gadis itu.

Seo Hyun tersenyum kecut. Memang miris menyadari jika tak ada satu pun murid yang mengenal dirinya. Dia tahu jika dia memang sudah menyia-nyiakan masa sekolahnya, tidak membuat banyak teman seperti yang lainnya. Tapi tolong jangan salahkan dirinya, dia memang sering membolos, dan hal itu membuat dia jarang berpartisipasi dengan kegiatan di sekolahnya. Ini semua karena keadaannya.

Kenyataan bahwa dia harus membolos untuk bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan dia dan kakak perempuannya membuat hatinya teriris.

Gadis itu melambatkan langkahnya dan mendorong gagang pintu yang cukup besar itu. Dia kembali mempercepat langkahnya seperti sebelumnya. Seo Hyun berdecih pelan ketika matanya menangkap pemandangan yang begitu menyebalkan baginya. Hampir setiap meja di kantin ini sudah di tempati oleh yang lainnya. Seo Hyun yang masih memerhatikan keadaan di sekelilingnya itu sambil membawa kotak makanan terus melanjutkan langkahnya, dia berjalan menuju sudut ruangan, dan duduk di meja kantin yang berada di pojok, tempat itu selalu kosong, karena memang tak banyak murid yang ingin duduk di pojokan seperti itu.

Seo Hyun membuka kotak makanannya, mulai memakan bekal yang sempat ia siapkan ketika membuat bubur bersama Na Na tadi pagi. Sambil makan, dia menggoyangkan kedua kakinya. Merasa tidak nyaman dengan keramaian di kantin ini. Kedua matanya pun menyusuri setiap sudut tempat ini, hingga kemudian matanya terpaku pada sosok pria yang tengah berkumpul bersama teman-temannya.

Itu Byun Baek Hyun.

Seo Hyun yang notabenenya bukan siapapun di sekolah ini kecuali sebagai siswi biasa kini merasa seperti beralih profesi menjadi pencuri. Diam-diam, dari sudut matanya ia memerhatikan seorang pria yang sangat berpengaruh di sekolah ini, sang ketua OSIS. Dan juga ketua angkatannya. Pria tampan yang dilihat dari sisi manapun terasa begitu sempurna, pria menawan yang digosipkan tak pernah mendekati gadis manapun, sang pangeran yang dikenal memiliki sifat sedingin es, yang semakin membuat para gadis menggilainya.

Dia Baek Hyun.

Dan Seo Hyun yakin kini pria itu juga tengah memandangnya dari salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Membuat gadis itu merasa risih.

Seo Hyun yang menyadari bahwa jarak meja kantin yang ia tempati dengan yang pria itu tempati terpaut jauh berusaha menepiskan perasaan itu, mungkin saja Baek Hyun tengah memandangi orang lain, tidak mungkin seorang Baek Hyun tengah memerhatikannya bukan? Tak mungkin pria yang paling diinginkan di sekolah ini mau memandang dirinya yang paling tidak diinginkan di sekolah ini bukan? Dan Seo Hyun kembali mengubah pikirannya, kini ia tidak yakin jika Baek Hyun sedang menatapnya.

BRAK!

Suasana kantin itu menjadi hening. Semua mata menoleh ke sumber suara, mereka menatap ngeri siapa pelaku yang berani menggebrak meja di tengah suasana yang ramai itu. Seo Hyun yang mulai menyuapkan makanannya itu terlonjak kaget dan menghentikan niatannya, sama seperti yang lainnya, pandangan gadis itu juga tertuju ke sumber suara.

Di sudut kantin seberang, sang Ketua OSIS dengan wajah datarnya berdiri setelah menggebrak mejanya dengan begitu kuat. Teman-temannya yang juga duduk semeja bersamanya memandang pria itu aneh. Dia menunjukkan wajah datar yang membuat siapapun pasti akan lari ketakutan.

Kemudian pria itu beranjak dari tempatnya, bersama dengan seorang pria yang merupakan ketua tim kedisiplinan yang bernama Kyungsoo. Mereka berdua berjalan menuju ke sisi ruangan yang lain. Semua mata mengikuti langkahnya, tapi tidak dengan Seo Hyun, dia lebih memilih untuk menyantap makanannya sebelum waktu istirahat habis, tanpa penasaran kemana mereka berdua akan pergi, tanpa ingin tahu apa alasan mereka berdua pergi dari meja kantin mereka.

Tanpa tahu bahwa bencana sedang menunggunya.

Hingga mereka berdua menghentikan langkahnya, berdiri di samping meja di sudut ruangan yang hanya di tempati oleh seorang gadis yang tengah menikmati bekalnya, memandangi Seo Hyun dengan tatapan yang begitu tajam dan mengerikan.

Baek Hyun melempar sebuah buku yang cukup tebal ke arah gadis itu, membuat kotak makan Seo Hyun terjatuh ke lantai dengan isinya yang berceceran.

Gadis itu terlonjak, dia langsung menoleh ke arah pria yang melakukan hal itu padanya. Didapatinya Ketua OSIS yang tengah berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana, wajahnya datar tapi tatapannya begitu tajam dan membuat siapapun akan bertekuk lutut kepadanya. Membuat tubuh Seo Hyun bergetar, membuat penglihatan gadis itu buram karena kelopak matanya yang telah dipenuhi oleh air mata.

” A-apa maksud..nya i-ini? ” Bisik Seo Hyun pelan, sangat pelan, namun begitu terdengar hingga ke penjuru ruangan karena suasana disini yang begitu sepi. Suaranya bergetar, nafasnya tercekat, dia menatap Baek Hyun dengan pandangannya tak percayanya.

Ini jelas pembullyan.

Dan seumur hidupnya, Seo Hyun tak pernah membayangkan jika orang pertama yang akan membullynya adalah ketua OSIS. Bahkan ia sama sekali tak pernah menyangka jika ia akan di bully seperti ini. Apa salahnya? Apa hubungannya dengan pria itu?

” Ikut aku sekarang. ” Ucap pria itu dingin. Dia menarik pergelangan tangan kanan gadis itu dengan kasar, membuat Seo Hyun hampir terjatuh karena tarikan pria itu yang begitu mendadak. Seo Hyun berusaha memberontak, tapi Baek Hyun tetap tak mengidahkannya. Langkah mereka berdua diikuti oleh Kyungsoo.

Seo Hyun, gadis itu tanpa sadar menjatuhkan bulir bening itu dari sudut matanya ketika ia melihat bahwa kotak makan beserta isinya sudah berceceran di lantai, teronggok seperti sampah. Membuat hatinya terasa seperti baru saja disayat. Makanan yang ia dapat dari hasil jerih payahnya sendiri, makanan yang ia dapat dari kerja paruh waktunya, makanan yang ia dapat sendiri hingga harus membolos. Bagi orang lain mungkin makanan itu seperti sampah, tapi itu sangat berharga untuk Seo Hyun. Sangat berharga.

Kemudian Seo Hyun menatap lurus ke arah pria itu, menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Hatinya meletup-letup, merasa panas ketika pria itu menyentuh pergelangan tangannya. Dia tidak rela jika pria kejam ini menyentuh anggota tubuhnya. Dia sungguh membenci pria ini.

” Kau tak perlu sekasar ini padaku! ” Teriak Seo Hyun kemudian, dia menarik tangannya dengan sekuat tenaga. Membuat pria itu berhenti, menoleh ke belakang dan memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Pria itu menyipitkan kedua matanya, memerhatikan wajah pucat gadis itu yang dipenuhi oleh air mata, kemudian tersenyum miring, ” Aku tidak peduli jika menurutmu ini kasar atau tidak. Tapi jika ada seseorang yang menyebabkanku dalam masalah akan kuperlakukan dia dengan kasar. ”

Dan setelah itu, Baek Hyun kembali menarik tangan Seo Hyun dengan kasar. Menyeretnya entah kemana. Membuat Seo Hyun dipenuhi rasa takut, membuat Seo Hyun dipenuhi oleh bermacam-macam pemikiran buruk tentang apa yang akan terjadi ke depannya.

 

***

 

Seo Hyun, dengan damai ia terlelap di sebuah sofa di dalam ruang kedisiplinan setelah ditinggal 2 jam oleh Baek Hyun dan Kyungsoo, tidurnya begitu nyenyak, peristiwa mengerikan tadi seolah sama sekali tak mengganggu tidurnya.

Setelah Baek Hyun menyeretnya ke ruangan ini, pria itu hanya melempar tubuh Seo Hyun ke sofa, kemudian sebuah panggilan yang ditujukan kepada pria itu menyelamatkan Seo Hyun. Baek Hyun hanya bisa mengumpat karena panggilan yang berasal dari speaker sekolah yang sengaja di simpan di setiap penjuru sekolah itu menggagalkan niatan yang entah apa ia rencanakan untuk gadis itu. Kemudian, Baek Hyun meninggalkan Seo Hyun, begitupun dengan Kyungsoo, mengunci Seo Hyun sendirian di ruangan itu. Membuat Seo Hyun tak tahu harus melakukan apa.

Dan akhirnya ia terlelap. Hingga saat ini.

Tanpa menyadari jika Baek Hyun kini sudah kembali dan duduk di sofa yang berada di hadapannya, tepatnya di seberang maja. Dia meletakkan kaki kirinya di atas meja, sedangkan kaki kanannya berada di atas kaki kirinya. Matanya tertumbuk pada Seo Hyun yang tengah terlelap di sofa yang letaknya di ujung ruangan. Pandangan Baek Hyun terpaku lama di wajah cantiknya, begitu polos ketika ia sedang terlelap. Membuat pria itu tenggelam ke dalam lamunannya.

Perlahan, dua pasang bulu mata tebal itu terangkat. Dia meregangkan tubuhnya, masih belum menyadari akan sosok kehadiran yang baru saja dibencinya.

” Katakan, apa kau menikmati tidurmu? ”

Suara itu. Seo Hyun sepertinya mengenal suara itu. Dia pun menoleh ke sumber suara. Didapatinya seorang pria yang tengah tersenyum miring ke arahnya. Sedetik kemudian Seo Hyun membulatkan kedua matanya dan langsung bangun dari tidurnya, menegakkan tubuhnya di sofa berwarna coklat muda itu.

” Ah, sepertinya kau tak menyesal karena aku telah menyeretmu ke tempat ini. ” Ucap pria itu kemudian, dia menurunkan kedua kakinya, masih mempertahankan senyum mengerikannya.

” Apa maksudmu sebenarnya? ” Tanya Seo Hyun pelan.

Kemudian pria itu tertawa kecil, membuat Seo Hyun mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian, dia melempar sebuah buku ke arah Seo Hyun. Gadis itu memperhatikan buku dengan sampul berwarna abu-abu itu. Buku yang sudah menjatuhkan kotak bekalnya.

Mereka sama-sama diam. Seperti tak ada yang berniat untuk menghancurkan kesunyian ini dari salah satu mereka berdua.

” Itu buku yang memuat catatan kenakalanmu sejak kau berada di tingkat satu. Hebat sekali, seorang gadis yang terlihat seperti gadis baik-baik memiliki catatan kenakalan terbanyak diantara murid nakal lainnya. ”

Seo Hyun mendongak, matanya melirik pada buku yang memuat catatan kenakalannya. Kemudian ia memberanikan diri untuk menatap sang pemilik manik mata coklat kehitaman itu, begitu jernih dan memukau.

Pandangannya beralih untuk mengeksplorasi seluruh lekukan wajah milik pria itu. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil, wajahnya yang tirus, garis mata, hidung, dan bibirnya terlihat begitu istimewa. Dan jangan lupakan soal rambut hitam legamnya yang sengaja dibiarkan berantakan.

Jika dilihat sekilas pria itu begitu… Sempurna. Terlalu sempurna sehingga Seo Hyun tak berani memberi kesempatan pada hatinya untuk mengagumi pria yang juga sedang memerhatikannya. Dilihat dari sisi manapun seperti tak ada kekurangan dari pria ini

Sang Ketua OSIS, seseorang yang baru saja gadis itu tetapkan sebagai salah satu orang yang paling ia benci itu tengah menatapnya.

Dan Seo Hyun tak mampu mempertahankan kontak mata diantara mereka berdua. Dia mengalihkan pandangannya, menuju ke luar jendela. Memperhatikan koridor yang begitu sepi tanpa adanya lalu lalang para murid yang biasa memadati koridor tersebut.

Seharusnya sekarang Seo Hyun sedang tidur di auditorium, bukan duduk di hadapan pria asing dengan tatapan yang mengintimidasinya.

” Bagaimana caranya kau bisa masuk ke sekolah ini? ” Tanyanya kembali, dengan nada yang begitu dingin, dan raut wajahnya yang begitu datar.

Seo Hyun tak peduli dengan pertanyaan bodoh itu. Dia hanya ingin keluar, dia hanya ingin melarikan diri dari tempat ini, ” Bisa bicara ke intinya? Apa yang ingin kau bicarakan? ” Tanya Seo Hyun, tanpa menatap Baek Hyun sekalipun.

Baek Hyun menganggukkan kepalanya berulang kali, mengerti atas permintaan Seo Hyun. Dia pun bangun dari kursinya, menyebrangi meja dan berjalan menuju gadis itu, kemudian duduk di meja itu. Membuat pandangan Seo Hyun mau tak mau harus mengikuti pergerakan pria itu.

” Kau tahu, berapa kali namamu kosong di daftar hadir? ” Tanyanya dingin, matanya sibuk memerhatikan catatan itu.

” Itu bukan urusan- ”

” Aku tak akan menyeretmu kesini jika itu bukan urusanku. ” Potong pria itu cepat. Dengan telapak tangan kanannya ia menangkup kedua pipi gadis itu. Baek Hyun mencondongkan kepalanya, mempersempit jarak diantara mereka berdua.

Hanya tersisa beberapa sentimeter. Membuat mereka berdua dapat merasakan deru nafas yang menerpa permukaan wajah masing-masing. Membuat Baek Hyun dapat menghirup aroma tubuh Seo Hyun yang tidak terlalu mencolok. Dan membuat Seo Hyun mau tak mau harus menghirup aroma parfum dari pria itu.

” Apa-apaan. ” Gerutu Seo Hyun tak terima. Baru saja dia hendak melayangkan kedua tangannya untuk mendorong pria itu agar menjauhinya. Tapi Baek Hyun menyadarinya, dia mencengkeram kedua pergelangan Seo Hyun agar tak memberontak padanya dengan tangan kirinya

” Dengar, jangan membuat masalah lagi. Aku tak peduli tentang hidupmu, tapi- ”

Baek Hyun menghentikan kalimatnya, tatapannya yang sebelumnya datar kini berubah menjadi tajam. Seo Hyun merintih pelan, cengkeraman Baek Hyun di kedua pergelangan tangannya semakin mengencang.

” Tatap aku, nona. ” Titahnya pelan, nada bicaranya terdengar lembut, namun tegas dan berhasil menghipnotis Seo Hyun agar mau memandang ke arahnya.

” Lepaskan aku sekarang juga. ” Kata Seo Hyun tajam.

Pria itu berdecih, dia memiringkan kepalanya, kemudian menampilkan seringaian jahatnya, ” Kau tahu apa yang membuatku sangat marah? ”

Seo Hyun menggeleng, menunggu jawaban dari Baek Hyun.

Dia masih mempertahankan senyum mengerikannya, ” Karena aku diharuskan mengatasi masalah seorang gadis yang hanya masuk kelas 4 kali dalam sebulan, dan itu akan membuat semua waktuku terbuang dan targetku akan kacau. Kau pikir sekolah ini milik nenek moyangmu? ” Seo Hyun terdiam, enggan sekali rasanya ia berada di ruangan ini.

” Masa depanmu kini berada di tanganku. Jika sekali saja kau tak mendengarkan apa yang aku katakan maka kau akan di keluarkan dari sekolah ini. ”

Rentetan kalimat itu membuat Seo Hyun tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya bisa diam dan menatap Baek Hyun dengan pandangan tidak percayanya. Apa urusannya dengan pria asing di hadapannya itu sehingga dia harus di keluarkan dari sekolah?

Kemudian Baek Hyun melonggarkan cengkeraman tangannya, Seo Hyun dengan mudah mengambil kedua tangannya dan mendorong dada pria itu. Dia terhuyung ke belakang seraya berdecih, sedikit gusar atas perlakuan yang tak pernah siapapun lakukan padanya.

Dan setelahnya, Seo Hyun beranjak dari tempatnya dengan perasaan yang begitu kesal, ia melangkahkan kedua kakinya menuju pintu, menghentakkannya dengan kasar. Tapi, seorang gadis manis berkuncir dua dengan poni rata yang menutupi seluruh dahinya tengah berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum kepada Seo Hyun, membuat Seo Hyun mau tak mau memaksakan senyumannya, padahal ia sama sekali tak ingin tersenyum.

” Baek Hyun, aku sudah menaruh berkas yang kau inginkan tadi malam. Jangan sampai hilang, ya! ” Seru gadis itu seraya tersenyum lebar, tanpa menunggu respon dari Baek Hyun, gadis berkuncir dua itu langsung berbalik dan kembali meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.

Seo Hyun memutar kenop pintu, tetapi ia menghentikannya karena pria itu lagi-lagi kembali mengeluarkan kalimat yang semakin ingin membuat Seo Hyun untuk menghabisinya.

” Ah, satu lagi, kau akan kuawasi secara langsung, jadi tentu saja aku akan berada di sekitarmu. ”

Kemudian Seo Hyun membanting pintu dengan kasar, dia menghentakkan kakinya sebagai pelampiasan rasa kesalnya yang tak tersalurkan.

 

***

 

Matahari sudah mulai berada di atas kepala. Sinarnya yang begitu menyengat membuat para penghuni rumah enggan menginjakkan kakinya meskipun hanya sampai halaman. Di salah satu pemukiman yang cukup padat, terdapat seorang gadis dengan paras cantik berjalan mengendap-endap di jalan, rambutnya tampak kusut tak terawat, dia hanya mengenakan piyama berwarna merah muda yang tampak kebesaran di tubuhnya. Na Na, hanya gadis itu yang sangat menyukai piyama merah muda.

Beberapa orang yang berpapasan dengannya memerhatikan Na Na bingung, di dalam hati mereka sebagian besar bertanya ‘ apa yang sedang dilakukan gadis itu? ‘

Atau lebih tepatnya, ‘ apa yang dilakukan gadis berpiyama di siang bolong seperti ini? ‘

Tapi, sepertinya Na Na tak mengidahkan tatapan aneh untuk dirinya, dia terus berjalan mengendap-endap, seperti ada sesuatu yang ia takuti. Hingga ia melihat sebuah rumah berpagar kuning, gadis itu tersenyum lebar dan berhenti tepat di depan rumah tersebut.

Gadis itu membuka pagarnya dan berjalan dengan sangat hati-hati, menuju ke bagian halaman yang dipenuhi banyak bunga.

” Aigoo, apa yang kau lakukan disini, Na Na? ”

Gadis itu terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya, dia menundukkan kepalanya, kakinya bergetar, dia ketakutan.

” Ambil saja bunga mawarnya. Untuk Seo Hyun kan? ” Tanya seorang wanita dengan suara lembutnya, warna rambutnya didominasi putih, wajahnya terlihat cantik meskipun ia sudah berkeriput.

Gadis itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar, ” Untuk Seo Hyun. ” Ucapnya riang. Kemudian, dia memetik satu tangkai mawar dengan hati-hati, takut merusak bunga yang akan ia berikan untuk Seo Hyun.

Dan setelah itu dia meninggalkan rumah berpagar kuning dengan perasaan bahagia, berjalan riang seraya bernyanyi seperti anak kecil, sesekali ia menghirup aroma mawar yang malah membuatnya bersin, dan dia tertawa.

Sama seperti sebelumnya. Beberapa orang yang berpapasan dengan gadis itu menatapnya aneh. Berusaha menjaga jarak dari gadis ceria itu.

” Lalala, untuk Seo- ”

” Mawar ini terlalu bagus untukmu, Na Na! ”

Seorang anak laki-laki menyambar bunga mawar yang di pegangnya, kemudian menginjaknya tanpa meninggalkan rasa bersalah. Dia tertawa, diikuti beberapa teman yang sebaya dengannya. Membuat Na Na terdiam di tempatnya, dengan manik matanya yang begitu indah dia melihat mawar merah yang kini sudah tak berbentuk. Sedetik kemudian, dia terisak pelan, semakin lama tangisannya semakin menjadi. Dia berlari meninggalkan sekumpulan anak-anak itu yang kini menertawakannya dengan begitu kencang.

Dia berlari tanpa memerhatikan jalan, wajah cantiknya kini tampak berantakan, dan tanpa dia duga dia menabrak seorang pria berseragam sekolah hingga membuat dirinya hampir terjatuh jika saja pria itu tidak menahan tubuhnya.

” Nona, kau baik-baik saja? ”

Na Na mendongak, dengan penglihatannya yang kabur karena air mata dia hanya bisa melihat wajah pria itu samar-samar.

” Mengapa.. Kau mena..ngis? Apa karena aku? ” Tanya pria itu khawatir.

” Bunga untuk Seo Hyun, sudah hilang. ” Ucap gadis itu di sela-sela tangisannya. Dia mendorong dada pria itu yang mendekapnya, dan kembali berlari, meninggalkan pria itu yang masih menatapnya dari kejauhan.

 

***

 

Mendapat sekali peringatan langsung dari Ketua OSIS tidak menjadi masalah bagi Seo Hyun. Peringatan dari Park Songsaenim saja tidak pernah ia idahkan, mengapa ia harus peduli soal peringatan dari Ketua OSIS?

Setidaknya itulah yang ada di pikiran Seo Hyun. Gadis yang tengah berkeliling sekolah untuk sekedar memastikan apakah Tim Kedisiplinan sedang berpatroli atau tidak itu tampaknya tidak gentar sama sekali. Sekarang sudah memasuki jam pelajaran ketujuh, tapi bukannya memasuki kelas, ia malah santai berjalan di koridor sepi itu. Pria sialan yang merupakan Ketua OSIS sekolahnya itu membuat moodnya buruk. Sangat buruk hingga ia enggan menginjakkan kedua kakinya di dalam kelas yang begitu membosankan itu.

Langkah Seo Hyun terhenti, dia mengecek saku blazernya dan hanya menemukan paper clip dan uang koin, ” Eonni pasti sudah kelaparan karena menungguku. Aku harus pulang. ” Gumam gadis itu pelan. Kemudian ia melanjutkan langkahnya kembali, menuju taman belakang gedung auditorium yang selalu sepi.

Taman itu selalu terawat, dengan pepohonan tua yang berada di sekitarnya, dan beberapa jenis bunga yang cantik, belum lagi tanaman hijau yang sengaja di bentuk seperti miniatur.

Sebelum dia memanjat pagar, gadis itu menyempatkan diri untuk mengambil setangkai bunga mawar yang baru mekar kala itu. Dia tersenyum memandangnya, dengan cekatan ia membuang tangkainya yang berduri dan menyimpan bunga itu ke dalam saku blazernya.

” Apa yang sedang kau lakukan? ”

Seo Hyun menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang pria jangkung yang tengah berdiri beberapa meter darinya. Pria itu, kemudian kain yang melingkar di lengan kirinya. Seo Hyun melebarkan kedua matanya, dia Kyungsoo, ketua tim kedisiplinan, mengapa ia bisa berada disini?

” Kau berniat membolos lagi? Tak akan kubiarkan. ”

” Aku.. Ada urusan yang harus kuselesaikan. ” Ucap gadis itu terbata.

” Kau pikir aku akan percaya begitu saja? ” Katanya. Kyungsoo berjalan perlahan menuju gadis itu, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

Seo Hyun mulai mendapat sinyal bahaya dari dalam dirinya. Ini gawat, pasti pria itu akan menyeretnya ke ruang kedisiplinan. Atau yang lebih parahnya lagi, gadis itu akan dibawa ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran yang akan membuatnya mati kutu disana. Tidak, Seo Hyun tidak peduli dia adalah ketua tim kedisiplinan atau bukan, dia hanya harus melarikan diri dari tempat terkutuk ini, dia tak ingin kakak perempuannya kelaparan karena dirinya tak pulang hingga sore.

” Kau tak akan pernah bisa mencegahku. ” Ucap Seo Hyun pelan, ia mulai melangkahkan kakinya mundur seiring langkah Kyungsoo yang menuju ke arahnya.

” Coba saja. ” Pria itu menyeringai, seringaian yang menandakan bahwa gadis itu akan segera mendapat bahaya.

Kemudian, Seo Hyun berbalik dan langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan pria itu, berlari sekuat tenaga agar pria menyebalkan itu tak berhasil menangkapnya.

Kyungsoo, yang masih berdiri di tempatnya itu menghela nafas panjang, ” Baek Hyun akan marah besar jika dia tahu bahwa gadis itu membolos lagi. Dan yang kena imbasnya pasti bukan hanya aku, Baek Hyun akan menyiksa gadis itu habis-habis. Astaga, aku tidak tega hanya membayangkannya saja. ” Ucap pria itu khawatir.

Setelah itu Kyungsoo mengejarnya, berlari dengan kecepatan yang terbilang sangat cepat untuk seorang pria. Seo Hyun yang masih berlari sesekali menoleh ke belakang dan mengumpat. Sial! Ternyata larinya cepat juga, batin Seo Hyun.

Rambut coklat kehitamannya terbang, begitupun dengan rok pendeknya yang sangat menyebalkan. Ketika ia sudah mendekati pagar, gadis itu melompat dan menaiki pagar dengan lihai. Tapi entah sejak kapan, Kyungsoo sudah berdiri di bawah sana, menarik tas hitamnya yang bertengger manis di balik punggungnya.

” Jangan berani mencoba membolos lagi. Baek Hyun akan marah besar jika dia tahu. ” Peringat Kyungsoo. Seo Hyun menyipitkan kedua matanya, dari jarak yang cukup jauh itu dia bisa melihat raut wajah khawatir pria itu. Mengapa dia harus khawatir?

Seo Hyun mengumpat, dari puncak pagar itu dia berusaha merebut tas hitamnya, tapi sepertinya pria itu tak ingin menyerah. Kemudian Seo Hyun menarik tas hitam itu dengan sekuat tenaga. Membuatnya tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, dan dia terjatuh, dengan posisi dimana punggungnya yang akan mendarat terlebih dahulu.

Tanpa tahu bahwa bencana di bawah sana sudah menantinya.

Gadis itu memejamkan kedua matanya, dia menjerit ketakutan, kedua tangannya memeluk erat tas hitam yang berhasil ia rebut. Seo Hyun pasrah, jika terjadi sesuatu pada dirinya mungkin setelah ini ia akan meminta ganti rugi pada pria sialan itu, membuatnya menyesal dan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Oh astaga, betapa konyolnya pemikiran gadis itu.

Dan setelah itu..

Bukan, bukannya ia mendapat luka atau mendarat dengan tidak mulus. Dia mendarat dengan sangat mulus, begitu mulus hingga ia harus jatuh di pelukan seseorang yang rela menahan berat tubuhnya.

Mereka berdua terjatuh, tubuh pria itu mendarat diatas aspal, sedangkan tubuh gadis itu sukses menindih tubuh seorang pria yang tampak mengaduh kesakitan. Kemudian, Seo Hyun meringis kecil karena kepalanya terbentur dada pria itu, tapi sebuah pertanyaan memenuhi benaknya. Jadi siapa pria yang telah menjadi pangeran penyelamatnya?

Setelah itu, Seo Hyun menolehkan kepalanya ke arah pria itu, dan terhenyak.

Pria itu, ternyata pria yang bernama Baek Hyun itu yang sudah menyelamatkannya, rela menggantikan tubuhnya dari aspal yang keras itu. Seluruh tubuhnya bergetar. Ternyata yang mendekapnya erat itu bukan pangeran penyelamatnya, melainkan pangeran kegelapan yang siap mengacaukan hidupnya.

” Sayangnya, kau tertangkap olehku. Setelah ini, kau tidak akan selamat, Kim Seo Hyun. ” Desis Baek Hyun tajam.

 

***

 

TBC

 

Hohoho. Akhirnyaaa, aku berhasil nyelesaiin chapter 1. Aku tau ini lamaa, maafin aku yaaa~~. Oke sebenarnya aku mau ngembangin konflik sesungguhnya di chapter 1 ini, jadinya rada lama gitu, mana inspirasi akunya stuck disitu situ aja, terus…. Pas udah selesai ngetik aku tahu itu kepanjangan. Terus ffnya jadi aku bagi deh, sisanya dimasukin ke chapter 2, tapi pas aku baca-baca lagi, ternyata ff yang aku buat itu karakter Baekhyun nya ga sesuai sama yang aku rencanain, jadi aku rombak lagi. Aduh maaf ya Baekhyun nya aku nistain di ff ini, tapi sebenernya karakter Baekhyun ga kasar kok, baik banget malah, cuma rada protektif gitu hehe. Nah, gara-gara itu jadi makin lama deh ngepost nya, aduh maaf yaa.

Ehm, buat kalian yang udah baca makasih yaa udah nyempetin waktunya. Aku harap kalian mau mengapresiasi cerita ini dengan kritik, saran, maupun komentar. Panjang pendek aku hargain kok. Makasih yaaa.

 

Regards,

 

Fitri Aulia

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. zhafi says:

    haiii fitriiii,, salam kenalll yaaaaa 🙂 ,,, aku suka ff mu,,,,
    Oyaaa menurtkuu karakter baek dsni tetep dingin kaya intro nyaa,,, jangan brubah bgtu dia ktmu sama seo ,,, kalopun dia jatuh cinta sama seo,, dengan cara yang brbda,,, krna aku udah srg baca ff yng awalnya cwonya dngin,,, cool bgt deh,, eh bgtu ktmu cwek yg dia ska brubah 10000 derajattttt….. Jadikanlahh baek dsni cool,, keren,, prince dingin,,, jangan lupakannn eyeliner nya jgaa yaaaaa
    Untuk seo nyaa ak suka tipe cwe kaya gni,,, pnya kakk gila,, wow aku nungguin ff yang kaya gniii,,, suja boloss,,, dan melanggar peraturan ,,,, punya prinsip
    ” peraturan dibuat untuk dilanggar”
    Hahahahaha ini tipe ku bangettt…

    hmmm jangan terlalu banyakkk cinta segi 3 atau segi 4 wkwkwkwkwkw

    Akuuu sukaaa bangettt fitt,,,,
    Okkkk..
    Gmana sarannkuuuu?????
    Smgaa bermanfaat yaaaa

    Oyaa klo ga kbratan bolehkah kita berteman,,???
    Tidak hanya sbtas reader dan authorrr,,, 🙂

    Like

    1. Fitri Aulia says:

      Hai Zhafi, salam kenal juga yaa. Wah, bagus lah kalo suka, hehe, aku seneng jadinya.

      Untuk karakter Baekhyun emang bakal tetep jadi cool sampe ff ini tamat. Tapi mungkin ya ada beberapa moment yang ‘melunturkan’ kerennya cowok ini, hehe. Tapi ga tau juga sih ya, takutnya ntar aku ga nyadar ngetik dan melenceng dari karakter seharusnya, soalnya aku bikinnya suka kebawa suasana gitu kan. Kalo buat Seo Hyunnya emang nakal sih ya, hehe.

      Buat cinta segitiga pasti ada lah. Tapi di ff ini aku sisipin love story selain couple baekhyun sama seohyun ini.

      Makasih buat sarannya, bermanfaat banget kok buat aku, hehe.

      Wow, kenapa enggak? Aku suka temenan sama siapa aja, hehe. Ayo aja aku mah, ga keberatan kok.

      Like

  2. SHINERSB says:

    pangeran kegelapan. HAHA
    Wahhh,khirnya,walaupun ku hampir lupa dengan ff ini-akhirnya di post juga >< ini KEREN banget! ku suka,tapi padahal kl dipanjangin lagi sedikit ga akan masalah-tapi ya,kayak gini juga gpp kok. ditunngu next-nya!! FIGHTING~

    Like

    1. Fitri Aulia says:

      Iya, baekhyun emang pangeran kegelapan disini, wkwkwk. Iya gapapa, santai aja. Serius?? Beneran keren? Makasih yaaa, jadi seneng deh bacanya.

      Aduh ini 7.400 kata, menurut aku itu kepanjangan 😦 hehe, mungkin gara-gara efek selalu baca ff yang tiap chapternya pendek, jadi gini deh.

      Ok, makasih ya udah komentar, makin semangat ngelanjutinnya deh.

      Liked by 1 person

      1. SHINERSB says:

        keren banget! can’t wait ><

        Like

  3. HyunBi says:

    Wah keren ffnya, suka bgt sma jalan ceritanya. Next chapter bisa lebih panjang lagi ga? 😁
    Semangat ya kak lanjutin ffnya!! Dan secepatnya ya ini dilanjutin 😁

    Like

    1. Fitri Aulia says:

      HyunBi haii! Syukur lah kalo suka. Oke, aku usahain bakal lebih panjang dari ini. Iya, semangat kok, semoga ga lama ya, hehe. Makasih udah mau baca^^

      Like

  4. Aihara says:

    Jadi Seohyun sebel sama Baekhyun gara-gara itu ya
    Pasti Baekhyun-nya udah kesel karena poin pelanggaran Seohyun banyak banget kan haha
    Tapi di balik itu, sedih juga sama Kim Nana, dia depresi jadi gangguan, dan anak berseragam yang ketemu dia kayanya Luhan ya?

    Di sini ngga fokus ke masalah peran utama doang ya, kaya drama wkwk

    Like

    1. Fitri Aulia says:

      Ya gitu deh, hehe. Makasih ya udah mau baca^^

      Like

  5. byunbyunb says:

    oh first part,,,
    jadi seo Ada hubungan masa lalu sama baekhyun??? woow keren suka-suka (≧∇≦)/
    wait for next part fighting ヽ(^。^)丿

    Like

  6. Keisha.m.c says:

    Kak bikinnya cepet dong udah gak sabar nihh…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s