DREAM – Slice #5 — IRISH`s Story

irish-dream-2

D R E A M

With EXO’s Byun Baekhyun and OC’s Lee Hyerin

Supported by EXO Members and OC

A fantasy, supranatural, school-life romance, slight!mystery story rated by PG-16 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved


Dream? You’re just like a dream for me.”


Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || [NOW] Chapter 5

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Hyerin!”

Auw! Ya! Ya! Lepaskan! Aku tidak bisa bernafas! Uhuk uhuk!”

Aku segera melepaskan tangan Seolmi dari leherku. Heran sekali kenapa ia memelukku dengan cara mencekik seperti itu. Dia berniat membagi kesenangannya denganku atau malah membuatku menderita?

“Aku tidak percaya kau mengerjakan tugas itu sendirian,” ucap Seolmi

Mwo? Wae? Kau pikir aku di ajari oleh siapa huh?” kataku

Seolmi merengut.

“Jadi… benar kau yang mengerjakan?” tanyanya

“Tentu saja! Memangnya Jongin yang mengerjakan?” kataku tidak terima

Seolmi tertawa pelan.

Ani… Aku hanya tidak menyangka saja, ternyata kalau rajin, kau pintar juga.” ucapnya membuatku menyernyit bingung.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Eh? Kau belum lihat nilai di buku tugasmu? Jawabanmu itu benar semua! Hebat sekali kan? Untuk pertama kalinya kau dapat nilai sempurna!” ucap Seolmi dengan nada meledek yang sangat kental dalam suaranya.

“Ya ya ya. Terima kasih. Sindiranmu baik sekali.” ucapku kesal

Mwo? Aku tidak menyindirmu bodoh!”

“Lalu? Apa namanya? Menghina?” ucapku

Aish! Mana buku tugasmu?” tanpa seizinku, Seolmi langsung mengobrak-abrik tasku dan mengambil buku tugasku.

“Lihat? Kita dapat nilai sempurna!” ucap Seolmi membuatku memandang ke arah nilai di buku tugasku.

Whoah! Apa seongsaengnim senang kena rabun? Bagaimana bisa nilaiku jadi begini? Ini pasti kesalahan.” ucapku tak percaya karena nyatanya nilai sempurna benar-benar ada di buku tugasku.

Aigoo!” Seolmi kembali mencekikku dengan lengannya

Ya! Ya! Lepaskan!” ucapku sambil memukul-mukul pelan tangan Seolmi

Aish, kau ini! Aku kan senang, pada akhirnya aku punya teman yang pintar.” ucapnya membuatku merengut.

“Memangnya selama ini kau tidak senang berteman denganku?” kataku

Ani ani. Maksudku, aku semakin senang karena nyatanya kau ternyata pintar. Kau harus lebih rajin lagi belajar Hyerin-ah! Jadi kita bisa dapat nilai sempurna terus!”

Mwo? Itu namanya tindakan menguntungkan di satu pihak. Aku yang belajar, dan kau mencontek. Tsk, mana adil.” gerutuku

Ya! Kau kan sering belajar di rumahku!” ucap Seolmi kesal

Aish, arraseo arraseo. Aku akan belajar lagi nanti.” ucapku

Jinjja? Kau akan mengalahkan Sunmi kan?” ucap Seolmi dengan nada pelan

“Hah? Sunmi?” aku membelalak membayangkan wajah Sunmi—murid terpintar di kelas kami itu.

Aish, pasti kau bisa! Aku ingin kau jadi rangking satu di kelas untuk semester ini! Untuk semester ini saja!” ucap Seolmi.

Aku memperhatikan wajah Seolmi, Ia tampak benar-benar berharap jika aku bisa lebih rajin belajar dan bisa mengalahkan Sunmi.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Mana hasil ujianmu?”

Aku mendongak. Tidak biasanya orang ini peduli pada hasil ujianku.

“Untuk apa?” kataku

“Mana!”

Aku berdecak pelan, dan mengeluarkan kertas ulangan harianku.

“Hanya 80!? Selama ini kau tidak belajar huh!? Bagaimana bisa nilaimu hanya 80!?”

PLAK!

Aku terjerembap jatuh saat orang itu dengan kasar menamparku dan hebatnya membuatku jatuh menabrak tembok.

“Apa-apaan kau!?” teriakku marah

PLAK!

Satu tamparan kasar lagi bersarang di pipiku.

“Jangan sampai ada nilai seperti ini lagi di ujianmu!”

Aku memandang benci orang itu. Betapa Ia sangat membencikan. Betapa aku sangat ingin Eomma berpisah saja dengan orang it—tidak… Eomma akan sangat terluka jika tahu aku bertengkar lagi dengan orang itu.

“..Hyerin, nak, Eomma mohon, jangan bertengkar dengan Appa mu lagi..”

“..Dia satu-satunya orang yang bisa membiayai sekolah kalian nak..”

“..Bisakah kau menganggapnya sebagai Appa mu? Dan jangan berdebat lagi dengan nya? Hyerin.. Eomma mohon..”

Aku berusaha mengatur nafasku, walaupun rasanya aku sangat ingin berteriak marah pada orang itu. Aku tahu Ia sudah keluar dari rumah. Dan aku masih sangat tidak terima pada perlakuannya.

Tapi, jika aku mengadu pada Eomma, orang itu akan punya lidah yang sangat pintar untuk berkelit dan membohongi Eomma. Dan Eomma… akan percaya padanya.

Lagi-lagi fakta itu membuatku sedih. Kenapa Eomma lebih percaya padanya di bandingkan aku? Kenapa Eomma percaya pada orang lain? Dan tidak percaya pada anaknya? Eomma… Kenapa Eomma memperlakukanku seperti ini…

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

PLAK!

Appa! Geumanhae!”

“Kau! Sekarang kau berani pulang dengan membawa nilai lebih buruk!”

Aku berusaha menahan diriku untuk tidak berteriak marah melawan nya. Hal ini akan membuatnya semakin mendapat alasan untuk memarahiku.

“Hyerin tidak salah!” ucap Jongin membelaku

“Diam kau! Aku tidak sedang bicara padamu! Dan kau! Hyerin! Perbaiki nilaimu! Aku tidak mau melihat nilai seperti ini! Aku mau melihat nilai sempurna! Jika tidak, sekolahmu hanya akan berakhir di sini!”

Appa!”

“Diam!”

Aku memandang orang itu. Dia sudah berjalan seolah tidak terjadi apapun. Dan Ia membanting pintu dengan cukup keras.

Neo gwenchana?” tanya Jongin

Nan gwenchana. Apa dia memarahimu juga?” tanYau pada Jongin

Jongin menggeleng.

Aniyo. Aku dapat nilai sempurna untuk ulangan ini.” ucap Jongin sambil membantuku berdiri.

“Aku sangat benci orang itu.” ucapku

Jongin mengusap puncak kepalaku.

“Belajarlah sedikit lebih giat, aku yakin kau bisa dapat nilai sempurna Hyerin-ah.” ucap Jongin membuatku berdecak kesal

“Dan membawa nilai sempurna ke rumah, lalu dia bisa pamer pada Eomma dan bilang ‘lihat, karena didikanku sekarang dia sudah bisa mendapat nilai sempurna di ujian nya!’ hah. Aku ingin muntah membayangkan sikap sok nya di depan Eomma.” ucapku sambil membereskan bukuku yang berserakan di lantai

Jongin tertawa pelan.

“Kau sangat ahli menirukan suaranya.” ucap Jongin ringan

“Ya. Aku benar-benar terlihat seperti anaknya kan?” ucapku semakin kesal

Geurae. Sekarang bicaramu mirip dengan nya,” Jongin tergelak, membuatku segera menatapnya tajam.

Ya!”

“Aku hanya bercanda. Jangan sensitif begitu, kau sedang periode bulanan ya?” tanya Jongin semakin membuatku ingin melemparnya dengan buku yang ada di tanganku

“Diam!”

“Nah, kau benar-benar mirip dengan nya!” Jongin tertawa keras, dan dia pintar karena sudah berlari menyelamatkan dirinya ke lantai atas sebelum aku menjadikan nya korban dari buku yang ada di tanganku.

“Dasar menyebalkan…”

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Eomma dengar kau dapat nilai jelek Hyerin…”

Aktifitas mengunyahku langsung terhenti. Dia pasti mengadukan nya. Hah. Sekarang dia terlihat seperti anak kecil berusia lima tahun yang mengadu pada ibunya jika balon nya pecah.

“Perbaiki nilaimu Hyerin.” ucap orang itu, tidak dengan nada berteriak yang Ia siapkan live untuk kami saat Eomma tidak ada di rumah.

“Hmm.”

“Hyerin,” tegur Eomma

“Ya…” ucapku malas

“Lee Hyerin!”

Sekarang aktifitas makanku terhenti. Aku memandang Eomma. Aku tahu Eomma marah padaku.

Eomma, sejak kapan kita membicarakan hal seperti ini saat makan?” ucapku membuat Eomma mengerjap cepat, tersadar.

Berdebat saat makan bukanlah hal yang biasa kami lakukan.

Eomma mu hanya berpesan padamu supaya kau belajar lebih rajin.”

Aku mengabaikan ucapan orang itu. Tidak ingin mendengarkan lebih tepatnya. Dia pandai bermuka dua. Dasar bunglon.

“Kau dengar Hyerin?” bunglon itu mengulang ucapan nya

Aku segera meletakkan sendok dan sumpitku di meja.

“Aku kehilangan nafsu makanku karena orang banyak bicara ini.” ucapku sambil beranjak meninggalkan meja makan.

Aku melangkah naik ke kamar. Apa bunglon itu akan banyak bicara di setiap acara makan bersama kami? Betapa membosankan nya. Membayangkan nya saja aku sudah mual. Mungkin lebih baik jika aku tidak ikut makan bersama.

Daripada harus membuat Eomma marah padaku, dan membuat bunglon itu tersenyum senang karena memenangkan perang semu antara dirinya dan aku. Semua hal disini mulai memuakkan.

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Berharap jika aku tertidur, dan nanti membuka mataku lagi, bunglon itu sudah lenyap dari bumi. Atau setidaknya dia tidak lagi menjadi bunglon. Atau aku berharap semoga saat Ia tengah sibuk menjadi bunglon, kepalanya terbentur pada benda keras dan membuatnya hilang ingatan. Dan ta-da! Dia tidak lagi menjadi bunglon.

Atau mungkin, jika dia kembali mengulang ritual mengomel saat makan nya, aku berharap Ia tersedak sendok atau pun sumpit yang membuatnya di vonis tidak bisa bicara lagi. Dan ta-da! Hidupku akan bahagia selamanya.

Bukankah doaku sangat tidak masuk akal? Hah…

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

“Hyerin, kapan kau mau makan bersama lagi di ruang keluarga?” tanya Eomma suatu hari saat aku tengah sibuk di kamarku.

“Aku akan makan jika bunglon itu bisa berhenti bicara saat di meja makan.”

Memang sudah tiga minggu lebih ini aku tidak makan di ruang keluarga karena malas berurusan dengan bunglon itu. Biar saja dia mau mengomel selama apapun di meja makan, asalkan aku tidak mendengarnya, aku baik-baik saja.

“Dia kan melakukan itu karena dia peduli padamu…” ucap Eomma

Appa dulu tidak seperti itu.” potongku cepat

“Hyerin…”

Eomma. Tidak bisakah Eomma mengerti betapa aku sangat benci padanya? Kenapa Eomma selalu memihaknya? Kenapa aku selalu terlihat salah? Eomma… apa aku benar-benar anakmu?”

PLAK!

Aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit dan sedihku karena Eomma menamparku.

“M-Mianhae Hyerin… Eomma tidak bermaksud—”

Nan gwenchana. Bunglon itu juga sering memukulku seperti ini. Dan Eomma tidak minta maaf atas hal itu.” ucapku memotong ucapan Eomma

“Apa dia—”

Eomma tidak percaya padaku kan? Gwenchana. Bunglon itu memang seseorang yang sangat baik di mata Eomma.” ucapku

“Hyerin…”

Eomma jebal… Jangan paksa aku untuk menyukai sesuatu yang aku tidak suka.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hubunganku dengan Eomma tidak terlalu baik setelah pertengkaran kecil kami di malam itu. Entah bunglon itu sudah mengeluarkan jurus apa lagi untuk membuat Eomma percaya padanya dan bahkan tidak mencoba mengajakku bicara.

Padahal dulu… saat aku bertengkar dengan Eomma, Eomma akan dengan cepat memperbaiki keadaan di antara kami. Dan mengingat bahwa sekarang Eomma ku sedang berada di bawah pengaruh seekor bunglon, niatku untuk mengajak Eomma bicara langsung hilang.

Bunglon itu pasti ikut bicara kan? Dan aku malas mendengar bunglon bicara.

Kurasa, keretakan hubunganku dengan Eomma sedikit berdampak positif untukku. Karena aku tidak harus mendengarkan siapapun bicara, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kamar.

Dan karena tidak punya kegiatan apapun untuk di lakukan, aku akhirnya belajar. Karena bunglon itu masih terbangun sampai larut malam, aku jadi tidak berniat untuk tidur, karena dia pasti akan bicara macam-macam pada Eomma jika tahu aku sudah tidur.

Jadi, aku terus terjaga sampai bunglon itu tidur, dan baru aku bisa tidur dengan tenang. Keadaan biologis ku jadi kacau. Aku jadi tidur di atas jam 1 malam, dan harus bangun sebelum jam 5. Karena bunglon itu bangun di jam 5 dan dia bisa saja memulai harinya dengan mengomeliku.

Sangat membosankan dan memuakkan. Tapi anehnya, karena kebiasaanku yang berubah secara tiba-tiba, sebuah keajaiban terjadi di ulangan harian kali ini. Seperti yang Seolmi harapkan. Nilaiku mengalahkan Sunmi. Hebat sekali!

“Aku masih tidak percaya kau mengalahkan Sunmi!”

“Ya ya ya. Biasa saja. Anggap saja ini sudah saatnya Sunmi mengalah padaku.” ucapku ringan pada Seolmi yang seharian ini terus membuntutiku kemanapun.

Bukan berarti selama ini Ia tidak membuntutiku. Ia selalu bersamaku, hanya saja, hari ini Ia bahkan mengikutiku sampai ke toilet hanya untuk terus bicara tentang ketidak percayaan nya karena aku berhasil mengalahkan Sunmi.

“Seolmi-ah… Berhentilah bicara terus, aku pusing mendengarnya…” ucapku menyerah saat Seolmi terus bicara tanpa henti saat kami berjalan pulang bersama.

“Apa aku bicara terus?” Seolmi berucap polos

“Kau bicara tanpa henti sejak tadi pagi.” kataku

“Ah, mianhae. Aku terlalu senang,” ucapnya

Aku tertawa pelan.

Gwenchana. Kau bisa bicara lagi. Teruskan teruskan.”

Dan Seolmi pun dengan tanpa berdosa terus melanjutkan kata-katanya.

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Setidaknya aku jadi bisa bernafas lega karena ujian kali ini tidak berhasil mengalahkan Sunmi. Aku jadi tidak perlu mendengarkan ocehan Seolmi lagi. Tidak. Aku belum bisa bernafas lega. Aku belum bertemu bunglon itu. Dan dia pasti akan mengomel lagi.

Eh? Sangat jarang aku melihat Eomma ada di rumah saat siang hari seperti ini. Kemana perginya bunglon itu?

“Aku pulang.” ucapku sambil masuk ke dalam rumah

“Kau tidak ada kelas malam?” tanya Eomma

Ani,”

“Hyerin,”

Nae Eomma?” aku memandangnya

Mianhae, Eomma tidak seharusnya memukulmu seperti itu,” rasa sesak mendadak menyelimuti perasaanku. Membuatku mengatur nafasku.

“Aku yang minta maaf Eomma, aku tidak seharusnya membentak Eomma seperti itu,” kataku pelan

Eomma harusnya ingat, kau sangat tidak bisa jika di paksa untuk menyukai sesuatu…” ucap Eomma kembali membuatku sesak.

Ani, harusnya aku yang ingat, Eomma sangat menyukai bunglon—maksudku, orang itu.” ucapku

“Kau menyebutnya bunglon?” tanya Eomma

Mian,” aku memandang Eomma kaget saat Ia tertawa.

Eomma tidak pernah tahu kau akan memberinya julukan begitu, kau sudah makan Hyerin-ah? Eomma tadi membuat puding kentang,” ucap Eomma

Jinjjayo?”

Kurasa, keadaan jadi membaik antara aku dan Eomma. Karena sekarang kami duduk berdua di ruang makan, seperti yang dulu sering kami lakukan.

“Hyerin-ah,”

Nae Eomma?”

Eomma tadi masuk ke kamarmu, dan melihat-lihat foto di kamarmu,” ucap Eomma. Aku membalasnya dengan angguk-anggukan paham.

“Memangnya ada apa Eomma? Ada foto yang aneh?” tanyaku

Ani, hanya saja, dulu, rasanya banyak fotomu bersama empat atau lima temanmu, dan kenapa sekarang hanya satu saja?”

“Maksudnya?” aku menyernyit

“Apa kau hanya punya satu teman dekat sekarang?” tanya Eomma

“Oh, Eomma bicara soal foto-fotoku dan Seolmi?”

“Seolmi? Namanya Seolmi?” kata Eomma

“Shin Seolmi. Aku memang dekat dengan nya akhir-akhir ini.” ucapku

“Lalu teman-temanmu yang lain?” tanya Eomma

“Masih seperti biasanya. Hanya saja aku sangat dekat dengan Seolmi.”

“Ah… Eomma mengerti…”

Eomma,”

“Ya?”

“Lebih cantik siapa? Aku atau Seolmi?”

Aku memandang Eomma yang sedang tampak berpikir keras.

“Lebih cantik temanmu itu.”

Jawaban Eomma langsung membuatku merengut. Heran nya, Eomma tertawa saat melihat ekspresiku.

Aish, Eomma, tidak ada yang lucu.” gerutuku

“Tentu saja lucu. Lihat, ekspresimu sekarang lucu sekali,”

Kurasa seperti ini kekesalan yang Seolmi rasakan saat aku mengerjainya.

“Oh, Eomma, ada yang aku ingin bicarakan pada Eomma,” kataku

“Apa itu nak?” wajah Eomma sekarang berubah serius

Eomma, aku ingin laser…” ucapku pelan

“Laser? Laser apa?” aku ingin tertawa geli, wajah Eomma sangat mirip denganku, dan melihat Eomma bingung seperti ini membuatku membayangkan wajahku sendiri saat geli.

Ige…” aku menunjuk kacamataku

“Oh! Eomma juga sudah membicarakan nya dengan Appa mu. Dia bilang lebih baik jika kau sedikit memperbesar matamu juga,” Eomma terkekeh geli

Mwo!?” aku segera terkesiap

Aish, kau ini sudah besar, sudah waktunya kau coba cari kekasih,” ucap Eomma segera membuatku merengut

Eomma. Aku tidak bercanda.” ucapku kesal

Eomma juga tidak bercanda. Liburan semester ini kita akan ke dokter mata? Arrachi?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku memandang pantulan diriku di cermin. Memperhatikan perubahan yang sudah terjadi pada diriku. Aku tidak lagi mengenakan kacamata, dan sekarang mataku terlihat sedikit lebih besar daripada biasanya.

Aku memperhatikan ujung rambutku yang ber-highlight kuning, warna kuningnya sudah mulai pudar, mungkin aku akan berpikir untuk mengecat ulang rambutku nanti.

“Kau berkaca terus sejak kemarin,” aku tersadar saat mendengar suara Jongin di belakangku

Mwo? Aku tidak berkaca terus.” bantahku, memangnya iya aku berkaca terus?

“Ayo berangkat,” ucap Jongin dan kusahuti dengan anggukan

Aku terpaksa harus menelan kekecewaan saat nyatanya Seolmi mengabaikanku seharian ini. Karena selama liburan aku sama sekali tidak mengabarinya? Tidak memberitahunya dengan rencana liburanku?

“Seolmi-ah?”

“Hm?”

“Kau marah?” tanYau

“Untuk apa?” ucapnya tanpa memandangku

Sama sekali tidak sama dengan Seolmi biasanya. Saat Ia selalu memandang ke arahku ketika aku bicara. Dan sekarang Ia mengabaikanku.

Mianhae,” ucapku

“Untuk apa?”

“Karena aku tidak mengabarimu selama liburan,”

Gwenchana.”

Aku memandang Seolmi saat Ia melangkah keluar kelas, meninggalkanku. Kurasa Ia akan pergi ke perpustakaan, mengingat Ia membawa beberapa buku di tangan nya.

Kurasa aku bisa bicara padanya saat pulang sekolah.

“Hyerin-ah!”

Aku segera menoleh saat beberapa gadis di kelasku memanggilku.

Wae?”

Ani, kau terlihat cantik dengan mata seperti itu,”

Jinjja?” aku memandang mereka tak percaya

Jinjjayo. Kau terlihat berbeda tanpa kacamata,”

Dan pembicaraan itu pun berlanjut. Walaupun rasanya aneh karena mereka jarang bicara padaku, dan rasanya sedikit menyenangkan saat mereka bicara padaku seperti ini.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Setidaknya kesenangan itu hanya terasa saat kami sama-sama di sekolah. Karena saat bel panjang berbunyi, kami tidak lagi bisa membicarakan sesuatu yang membuat pikiranku teralihkan dari Seolmi.

Sekarang aku kembali bertanda tanya karena sikap Seolmi yang masih mengabaikanku sampai pulang sekolah. Ia bahkan tidak mengajakku pulang bersama, seperti yang biasa Ia lakukan. Walaupun aku terbiasa pulang dengan nya tanpa harus bicara apapun, tetap saja Ia berbicara begitu, dan sekarang rasanya aneh ketika Ia mengabaikanku.

“Shin Seolmi!”

Untuk pertama kalinya dalam pertemanan kami aku berteriak begitu keras dengan memanggil nama lengkapnya. Dan Seolmi menghentikan sepedanya, dengan cepat aku mengayuh sepedaku, dan langsung berhenti di sebelah Seolmi.

Neo mwohaneungeoya?” ucapku

Mwo?” Ia menyernyit memandangku, membuatku tertawa sinis padanya.

“Kau berpura-pura bodoh atau apa? Kau mengabaikanku seharian ini.”

“Aku tidak mengabaikanmu. Kau hanya terlalu sibuk dengan mereka.”

Nugu? Anak-anak di kelas?”

“Siapa lagi. Kau sudah sangat sibuk dengan mereka. Aku tidak mau mengganggu waktu mu.”

Ucapan Seolmi segera membuatku tersadar.

“Kau marah karena aku tidak memberitahumu tentang hal ini kan? Karena kau tidak jadi orang pertama yang tahu tentang ini. Iya kan?”

Ani, aku tidak marah karena hal itu, atau karena apapun,”

“Baiklah. Itu artinya kau marah karena aku banyak bicara dengan mereka.” ucapku

“Aku tidak marah.” Seolmi mulai mengayuh sepedanya, membuatku memandangnya tak percaya.

“Baiklah! Kalau begitu jangan pernah bicara padaku lagi!”

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Aku bukanlah seseorang yang mudah mengancam, dan jika aku sudah mengancam, akan sangat kecil kemungkinan nya aku tidak membuktikan ancamanku. Seperti ancamanku beberapa minggu lalu pada Seolmi.

Sudah beberapa minggu aku mengabaikan nya, dan aku bahkan pindah duduk dari tempat ku biasanya. Beberapa orang, ani, hampir seisi kelas menganggap aneh hal ini. Karena biasanya aku selalu bersama Seolmi. Sekarang, aku bahkan mencari jalan lain untuk jadi jalurku saat pulang.

Sebenarnya ada perasaan bersalah yang melingkupi hatiku saat tidak bicara pada Seolmi, aku merindukan nya, merindukan tindakan kekanak-kanakkan nya. Aku rindu saat dimana aku bisa mengerjainya habis-habisan.

Aku rindu saat Ia memintaku menemaninya ke toko buku, atau saat Ia mencontek tugasku. Jadi rangking pertama di kelas sekarang bukanlah hal menyenangkan untukku. Pertama, karena nyatanya bunglon itu lah yang senang, kedua, karena aku tidak lagi bisa mendengar Seolmi bicara non-stop untuk memujiku.

Aku rasa Seolmi merasakan hal yang sama. Karena, saat Ia tidak bersamaku, Ia masih kesulitan mencari teman. Aku rasa Seolmi punya sedikit gangguan saat harus beradaptasi dengan lingkungan. Ia sangat sulit untuk mendapat teman dekat.

Memikirkan hal itu sekarang membuatku geli.

Aku sempat berpikir bahwa Seolmi itu aneh. Tapi, mengingat bahwa aku berteman sangat dekat dengan nya, bukankah itu artinya aku juga orang aneh? Astaga. Menggelikan sekali. Tapi, kembali ke fakta bahwa sekarang kami tidak bicara, aku benar-benar merasa aneh. Seolah ada yang hilang dari hidupku.

Dan terutama adalah karena, aku tidak bisa menjaga Seolmi. Memastikan Ia tidak terjebak dalam masalah. Hal yang selama ini selalu aku lakukan, saat aku memastikan bahwa Ia berada di depanku, dan akan aman dari bahaya.

Aku tidak tahan untuk terus mengabaikan nya. Aku harus bicara pada Seolmi. Tidak peduli jika Ia mungkin mengaba—

“Hyerin…”

Aku menoleh kaget. Dan terbelalak saat Seolmi berdiri di dekat mejaku. Memandangku ragu, sesekali matanya memandang sekeliling, seperti itu lah tindakan Seolmi saat Ia panik.

Mwo?” kataku berusaha terdengar dingin, walaupun sebenarnya aku ingin tertawa geli, karena kebetulan sekali Seolmi sudah berniat duluan untuk bicara padaku, padahal tadinya aku ingin memulai untuk bicara.

“Aku mau bicara,” ucap Seolmi

Arra, kita bicara di meja,” ucapku, mengambil tas ku dari bangku yang selama beberapa minggu ini tempati, dan membawa tas ku ke tempat asalku, di sebelah Seolmi.

Aku memandang Seolmi saat Ia masih bergeming di tempat yang sama, memandangku bingung. Dan seketika itu juga membuatku tertawa geli.

Neo mwohaneungeoya? Ayo ke sini, kita bicara.” ucapku sambil duduk di tempatku

Seolmi melangkah cepat, dan duduk di sebelahku. Ia memandangku, lama. Pasti dia akan bertanya dengan nada sesedih mungkin dan sangat penuh rasa bersalah.

“Apa kau marah padaku?” tanyanya dengan nada yang sudah ku prediksi

“Sangat marah,” ucapku

Jinjja?”

Aku mengabaikan ucapan Seolmi. Menunggu Ia bicara lagi.

Mianhae…”

Aku memandang Seolmi. Wajahnya sekarang penuh dengan rasa bersalah. Dan aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Ia pasti ingin menangis. Seolmi selalu menangis jika masalah nya tidak bisa Ia selesaikan.

“Aku tidak marah Seolmi-ah.” ucapku membuat nya mendongak

Kojimal,”

“Aku tidak berbohong.” ucapku

“Kau tadi bilang bahwa kau marah,” ucapnya membuatku terkekeh geli

“Kau seperti tidak tahu aku saja,” kataku berhasil membuat Seolmi merengut kesal

“Kau mengerjaiku!” katanya sambil memukul lenganku dengan buku

Auw! Ya!!”

“Apa sakit?” tanya Seolmi

Aku menjitaknya pelan.

“Bodoh, mana bisa pukulan mu membuat ku sakit huh? Kau kan tidak punya tenaga sama sekali.” kataku

Seolmi terkekeh pelan.

“Jadi kita berbaikan?” tanyanya

“Memangnya kapan kita bertengkar?” tanyaku balik

“Tapi kau tidak duduk disini selama beberapa minggu.” kata Seolmi pelan

Wae? Itu karena aku tidak mau memberimu contekan.”

Mwo!?”

“Apa? Apa? Kau berani marah padaku huh?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Hyerin,”

Nae Eomma?”

“Kau akan masuk ke SMU mana setelah ini?”

Nan? Aku akan masuk ke Jinsok, nanti aku akan mendaftar bersama Seolmi.” ucapku bersemangat

“Eh? Bukankah sekolah itu sekolah bergengsi?” tanya Eomma

Geurae. Sekolahnya sangat bagus. Aku dan Seolmi pernah kesana, dan kami ingin masuk ke sekolah itu bersama.”

“Apa masuk ke sana ada test nya?” tanya Eomma lagi

Aku mengangguk cepat.

Nae, tapi, aku kan sudah rajin belajar, nanti aku akan belajar bersama Seolmi. Supaya kami berdua bisa masuk ke SMU itu,”

“Ah… Begitu…”

“Memangnya kenapa Eomma bertanya?” kataku sambil memandang Eomma, tidak biasanya Eomma bertanya soal sekolahku.

Dulu saja Eomma tidak bertanya padaku aku akan masuk ke sekolah mana.

“Sebenarnya… Eomma ingin memasukkanmu ke sekolah model…”

Nde?” aku langsung terbelalak tak percaya

“Iya… Sekolah model yang ada di Busan itu, yang terkenal. Eomma ingin kau sekolah disana Hyerin-ah…”

Keundae, Eomma… Aku sudah janji pada Seolmi jika kami—”

“Tidak apa-apa. Kau bisa mencoba tes di SMU itu, dan Eomma juga Appa mu akan mendaftarkanmu di sekolah modelnya.”

“Bagaimana jika aku di terima di SMU itu?”

“Memangnya kata siapa kau akan di terima?” Eomma bertanya balik padaku, tapi terasa sebagai perkataan ‘Kau tidak akan lulus Hyerin’ di telingaku.

Eomma akan menyuruh bunglon itu untuk tidak membuatku lulus tes kan?” kataku langsung

Mwo? Eomma tidak bilang begitu,”

“Tapi Eomma ingin berkata begitu,”

Ani, aigoo, Hyerin, Eomma hanya bilang Eomma ingin kau sekolah di sekolah model. Itu saja. Kau boleh ikut tes di SMU itu, Eomma akan tetap mendaftarkanmu,”

Walaupun aku di terima di SMU itu, Eomma tidak akan datang untuk ke sana kan? Aku hanya akan ikut tes nya saja kan?

Eomma… Kenapa Eomma selalu memaksaku untuk jadi sesuatu yang tidak aku inginkan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku memandang Seolmi yang sedang tampak serius menekuni bukunya. Tes kami hanya tinggal beberapa bulan lagi, dan Seolmi sudah sangat bersemangat untuk tes ini. Tes yang akan kami berdua lakukan bersama-sama, seharusnya.

Aku tidak ingin memberitahu Seolmi jika aku tidak akan menempuh tes ini bersamanya, tapi aku tidak bisa terus membohonginya. Ia bisa sangat marah jika aku berbohong padanya.

“Seolmi-ah…”

Wae Hyerin-ah? Eh, kemari, aku mau bertanya soal ini,”

“Apa?” kataku sambil duduk di sebelah Seolmi

Begitulah yang terjadi selama beberapa hari ini. Berapa kali pun aku berusaha mengajak Seolmi bicara untuk membahas soal hal ini, Ia malah sibuk menanyaiku tentang rumus-rumus yang Ia tidak mengerti.

“Seolmi-ah…”

“Hyerin, kau mengerti soal ini?” tanyanya kembali mengabaikanku

“Seolmi-ah, aku ingin bicara.” kataku

“Bicara apa? Bicara saja, tapi setelah itu kau jelaskan tentang rumus ini, arrachi?”

Aku memandang buku yang masih di pegang Seolmi dengan serius.

“Kenapa kau tiba-tiba belajar seserius ini?” tanyaku berusaha memulai pembicaraan yang akan menyakitkan bagi kami berdua ini.

“Tentu saja supaya aku bisa lulus seleksinya. Kau kan sudah pintar sekarang, sudah mudah bagimu untuk lulus tes.” ucap Seolmi

“Jinjja? Kau sangat ingin kita satu sekolah ya?” ucapku dengan nada berusaha menggoda Seolmi, namun gagal, karena pertanyaanku justru membuat Seolmi memandangku, menyernyit.

“Kau tidak biasanya bertanya begini. Ada apa Hyerin?” tanyanya

Kurasa ini saat yang tepat untuk bicara padanya dengan jujur.

“Seolmi-ah, aku sangat ingin kita masuk ke SMU itu bersama-sama… Keundae…”

“K-Kenapa?” nada bicara Seolmi sekarang berubah, kekecewaan sudah terdengar sangat jelas dalam nada bicaranya.

Ia sudah terluka bahkan saat aku belum menceritakan padanya tentang hal yang sebenarnya patut membuatnya terluka.

“Hyerin? Kenapa?”

Aku memandang Seolmi. Akan jadi semarah apa dia?

“Aku… tidak akan masuk ke SMU itu. Aku akan masuk sekolah model di Busan.” ucapku dengan nada sepelan mungkin

Nde?”

Mianhae Seolmi-ah…”

“Jadi… kita tidak akan satu sekolah?”

Jeongmal mianhae…”

Seolmi segera menutup bukunya, dan menunduk. Lalu mengangguk-angguk pelan.

“Seolmi-ah? Gwenchanayo?” tanyaku

“Kita harus bicara… nanti sepulang sekolah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kurasa Seolmi bilang Ia akan bicara padaku saat pulang sekolah. Tapi nyatanya Ia mengayuh sepedanya sangat kencang ketika kami seharusnya bersepeda beriringan.

“Seolmi! Shin Seolmi!” panggilku

Tapi Seolmi mengabaikanku, Ia terus mengayuh sepedanya dengan kencang, membuatku dengan kekuatan penuh berusaha mengayuh sepedaku menyusul Seolmi.

“Aku membencimu Hyerin! Aku benci kau!!” teriak Seolmi membuatku seketika menghentikan laju sepedaku

“Kenapa kau membenciku karena kesalahan yang tidak aku buat!?” teriakku

Seolmi menghentikan sepedanya, dan berbalik ke arahku. Seolmi terbelalak, dan wajah Seolmi langsung berubah panik.

“Awas Hyerin!!!”

TTTTIIIIIIIIIIIIINNNNNN!!

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

“Hyerin-ah…”

“Hm?” ucapku pada Seolmi saat aku tengah berbaring di teras rumahnya, membiarkan angin meniup rambutku.

“Aku sangat menyesal…”

“Untuk apa?” ucapku sambil membuka mataku

“Karena aku… kau jadi tidak bisa masuk di sekolah model…”

Aku tertawa pelan.

Gwenchana. Aku malah senang, karena tidak harus masuk ke sekolah itu. Jadi sekarang kita bisa sama-sama masuk ke SMU itu,” ucapku, berusaha membuat Seolmi berhenti merasa bersalah akan hal yang beberapa bulan lalu membuatku harus menelan kenyataan pahit.

Kecelakaan yang menimpaku di hari pertengkaranku dan Seolmi, membuatku harus menerima jika sekarang aku tidak bisa lagi bersepeda seperti yang biasanya aku dan Seolmi lakukan. Bahkan untuk berjalan terlalu jauh saja kakiku sudah sangat nyeri.

Aku samar-samar mendengar Seolmi menangis. Membuatku mengerjap cepat, tidak ingin menangis. Karena aku Yain Seolmi akan semakin menangis.

Siapa yang ingin hidup tanpa bisa berjalan normal? Siapa yang ingin bisa berjalan tapi tidak bisa merasakan kaki kanan nya?

Nan gwenchana… Kau tidak usah menangis Seolmi-ah…”

Keundae… Gara-gara aku… Kakimu…”

Ish… Sudah jangan kau pikirkan. Yang penting kan, sejak itu kita tidak pernah bertengkar lagi,” aku tertawa pelan.

Memang nyatanya, sejak kejadian itu, kami tidak pernah sekalipun bertengkar. Jika aku sudah membantah, Seolmi akan memilih untuk diam. Mengalah padaku. Ia masih terlalu di lingkupi perasaan bersalah.

Untuk apa Ia terus merasa bersalah saat nyatanya Ia tidak salah? Supir mobil itu lah yang salah. Tidak. Aku yang salah. Karena aku berhenti mendadak di tengah jalan.

“Aku yakin kau sangat benci padaku Hyerin-ah…”

Mwo? Kau bicara apa huh? Aku tidak membencimu sama sekali.”

Kojimal… Anak-anak di kelas bilang bahwa kau pasti sangat benci padaku. Kau pasti marah padaku… Aku teman yang jahat…”

Aish, Seolmi-ah, kalau aku membencimu, aku pasti sudah mencari teman lain. Anggap saja, ini pertanda, bahwa kita tidak boleh bertengkar lagi. Dan kita harus bersama-sama terus.” kataku padanya

“Tidak mungkin kau tidak marah sedikitpun… Kalau hari itu kita tidak bertengkar… Mungkin… Mungkin saja kau tidak akan—”

Jebal… Jangan mengingat kejadian itu lagi… Seolmi-ah…”

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Aku memandang pantulan diriku di air sungai. Tanpa sadar, air mataku terjatuh pelan. Dan tak lama, aku mulai terisak.

Karena alasan apa?

Karena terlalu banyak luka yang harus aku dapatkan dalam hidupku. Kehilangan Appa ku… Kehilangan sosok Eomma ku karena Ia terus bersama dengan bunglon itu… Dan kehilangan kakiku.

Aku sekarang harus terus berjalan kaki saat pulang, dan beristirahat selama beberapa lama di tikungan tempat kecelakaan itu terjadi, karena kakiku akan terasa sangat nyeri jika aku tidak istirahat di pertengahan jalan.

Walaupun Seolmi selalu ada di sebelahku, dan terus memberondongiku dengan perasaan bersalahnya, tetap saja… aku tidak bisa menunjukkan pada Seolmi seberapa banyak aku terluka.

Ia tidak bisa untuk melihat orang lain terluka.

Seolmi terlalu baik untuk hal itu. Dan aku tidak mungkin memaksanya untuk tahu betapa banyak aku terluka karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupku.

Bahkan selama ini, aku lah yang jadi pelindung Seolmi. Kemanapun kami pergi, jika kami akan perg ke tempat yang ku perkirakan akan ada bahaya… Seolmi harus ada di belakangku, karena aku harus jadi orang pertama yang memastikan bahwa tidak ada bahaya di tempat itu yang bisa menyakiti ku ataupun Seolmi.

Jika kami pergi ke tempat yang menyenangkan, Seolmi harus ada di depanku. Karena aku ingin melihat bagaimana reaksi Seolmi saat Ia ada di tempat menyenangkan itu. Dan aku sangat ingin… Seolmi berbalik… walaupun untuk sekedar tersenyum padaku, menunjukkan padaku tentang bagaimana senangnya dia.

Hal yang selama ini tidak pernah Seolmi lakukan. Tapi tidak bisa membuatku marah padanya. Karena nyatanya Ia terkadang terlalu senang, dan tidak jarang Ia meninggalkanku sendirian, larut dalam kesenangan nya.

Sangat berbeda denganku. Saat kami pergi bersama, dan jika Seolmi tertinggal di belakangku, aku akan menunggu, walaupun sampai satu jam, sampai aku memastikan jika Seolmi akan ada di jarak pandangku. Tapi Seolmi… Ia tidak pernah sekalipun menungguku. Ia sering mengataiku lambat, padahal dirinya lah yang lambat.

Adilkah ini untukku? Adilkah bagiku untuk tidak marah pada Seolmi ketika pertengkaranku dengan nya membuatku harus kehilangan kakiku? Kehilangan sebagian dari hidupku karena cacat yang aku punya sekarang bahkan membuat Eomma kecewa terhadapku?

Adilkah bagiku untuk menanggung kesalahan dari hal yang tidak aku lakukan?

“Ternyata aku benar…”

Aku berbalik. Terkesiap saat tidak melihat siapapun di belakangku. Aku memandang sekitarku, berusaha menemukan sosok yang bicara padaku.

Neo nuguya?” ucapku

“Kau masih hidup… Padahal harusnya mobil itu menabrakmu sampai kau mati.”

Mwo? Kau bicara apa huh!?”

“Kurasa… Aku hanya perlu mengambil orang-orang yang ada di dekatmu saja…”

Apa yang Ia bicarakan? Siapa dia? Kenapa Ia bicara padaku? Apa Ia mengenalku? Dan kenapa Ia mengatakan bahwa seharusnya mobil itu membuatku terbunuh?

“Sampai bertemu lagi… Lee Hyerin.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kalian akan kemana?” tanYau saat melihat bunglon dan Jongin bersiap seolah mereka akan pergi ke suatu tempat.

“Aku dan Appa akan memancing. Kau jaga rumah oh? Eomma akan pulang nanti jam 5.” ucap Jongin

“Memancing? Jarang sekali…” gumamku pelan

“Ayo cepat!” teriak bunglon itu dari luar

“Aku pergi dulu.” Jongin mengusap puncak kepalaku cepat, lalu Ia melangkah keluar.

Entah karena aku terlalu curiga pada bunglon itu, atau mungkin karena memang terjadi hal yang buruk, pikiranku tidak bisa tenang karena sampai empat hari, Jongin maupun bunglon itu tidak kembali.

Eomma juga tampak sama paniknya denganku, karena ponsel bunglon itu tidak bisa di hubungi. Apa terjadi sesuatu yang buruk pada mere—ani, pada Jongin?

Aku tidak peduli pada bunglon itu, aku peduli pada saudara angkatku yang sudah bersamaku sejak kami sama-sama kecil. Masa bodoh jika bunglon itu hilang dari peradaban di bumi. Hal pertama yang harus aku pastikan adalah Jongin harus baik-baik saja.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ini sudah hari ke delapan sejak dua orang itu tidak kembali ke rumah. Dan Eomma sudah melapor pada polisi. Apa yang terjadi pada mereka?

PIP. PIP.

Aku segera mengangkat telepon Eomma saat nama inspektur yang menangani kasus hilangnya Jongin dan bunglon itu menelpon.

Yeoboseyo?”

“Apa ini nyonya Park?”

“Ya. Ini anaknya, Lee Hyerin. Apa inspektur menemukan sesuatu?” tanYau

“Ah, ya. Kami sudah menemukan dimana mereka.”

“Dimana? Mereka ada dimana?”

“Seorang kepala polisi di Gangnam menemukan sebuah mobil yang kecelakaan kira-kira seminggu yang lalu. Dan menemukan satu orang yang selamat dari kecelakaan itu. Ciri-ciri nya sangat mirip dengan salah satu orang yang nyonya Park cari…”

“S-Siapa?” tanyaku, tanpa bisa ku bohongi, suaraku bergetar hebat

“Tuan Park Jaehyun. Ayah anda.”

“L-Lalu… bagaimana dengan yang satunya? Anak laki-laki seusiaan dengan saya?”

“Kami tidak menemukan anak laki-laki itu dimanapun. Juga tidak ada tanda-tanda di mobil jika anak itu terpelanting keluar saat kecelakaan. Dari keterangan saksi di Gangnam, saat kecelakaan terjadi, mobil itu hanya berisi satu orang. Jika Anda tidak keberatan, kami akan—”

Semuanya terasa hening di pendengaranku. Jongin… Jongin…

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Aku tidak merasa marah jika Seolmi bicara pada anak lain selain aku. Hanya saja, aku merasa aneh ketika Ia bicara pada Kyungsoo. Kenapa Seolmi tiba-tiba bicara pada Kyungsoo?

Dan mereka terlihat akrab. Ini aneh. Sungguh. Aku terhenti saat melihat ada tiga orang gadis keluar dari rumahku, membuatku langsung bersembunyi di balik sebuah pohon.

“Dia tidak ada disini. Padahal aku yakin disini rumahnya.”

“Benar. Setidaknya kita sudah melenyapkan sedikit masalah.”

“Baguslah, ayo pergi.”

Aku memandang bingung tiga orang yang tadi bicara begitu keras seolah tidak ada orang lain yang mungkin akan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Saat tiga orang itu sudah berjalan jauh, aku keluar dari persembunyian sementaraku, dan berjalan cepat ke rumah. Kenapa mereka tadi masuk ke rumahku? Apa mereka pencuri? Memangnya, apa yang bisa mereka curi dari ruma—

Eomma!!”

Aku mematung saat melihat Eomma ada di lantai. Terbaring… berlumuran darah…

Eomma! Andwae! Eomma!!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku tidak membunuh Eomma ku! Tidak mungkin aku membunuh Eomma ku sendiri!”

“Tapi kau satu-satunya yang menemukan Eomma mu. Sudah akui saja kejahatanmu Lee Hyerin…”

Kojimal! Aku tidak membunuh Eomma! Aku tidak membunuh Eomma!!”

Harus berapa juta kali aku berteriak pada polisi-polisi ini dan mengatakan bahwa aku tidak membunuh Eomma!?

Kenapa mereka menuduhku melakukan hal yang sama sekali tidak aku lakukan? Dengan alasan apa? Hanya karena aku adalah orang pertama yang menemukan tubuh Eomma?

Kojimal!

Aku tidak membunuh Eomma!

EommaEomma ku…

“Hiks…”

“Lihat, apa kau menangis karena menyesali perbuatanmu?”

“Aku tidak membunuh Eomma! Kalian tidak bisa menuduhku membunuhnya! Mana mungkin aku membunuh Eomma ku sendiri! Eomma satu-satunya keluarga yang aku punya!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak adil bagiku saat mereka menuduhku sebagai pembunuh Eomma. Tapi lebih tidak adil lagi bagiku saat mereka tidak berusaha mencari siapa pembunuh Eomma yang sebenarnya.

Siapa? Siapa orang yang tega membunuh Eomma? EommaEomma ku…

Tanpa sadar, aku mulai menangis lagi, tangisan histeris yang selama beberapa hari ini tidak bisa aku hentikan.

Uljima… Hyerin-ah…” ucap Seolmi berusaha menenangkanku, tapi aku tidak bisa tenang.

“Bagaimana bisa aku tenang saat tahu Eomma ku terbunuh secara misterius!?”

“Hyerin…”

Aku sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Dadaku terasa sangat sesak. Aku memukul-mukul dadaku, berusaha menghilangkan rasa sakit yang menusukku begitu dalam. Membuatku merasa seolah mati dan menyusul Eomma adalah hal terbaik untuk saat ini.

Eomma mu tidak akan suka melihatmu seperti ini…”

Dan ucapan Seolmi justru membuatku semakin menangis. Aku bahkan belum sempat minta maaf pada Eomma ku atas semua sikap kasar dan kurang ajarku yang pernah terjadi di depan nya.

Aku belum sempat mengatakan pada Eomma bahwa aku merindukan nya, merindukan nya sebagai sosok Eomma yang aku kenal dulu… bukan Eomma yang percaya pada semua ucapan bunglon.

Aku rindu Eomma… Aku sangat rindu padanya…

“Hyerin…”

“Seolmi-ah… Aku ingin mati saja rasanya…”

Ya! Neo michyeoseo!?”

“Untuk apa aku ada disini jika Eomma sudah tidak ada…”

“Hyerin, jangan bicara begitu. Kau tahu apa yang selalu Eomma mu pesankan padamu kan? Kau ingat kan?”

“Aku sudah lupa semua hal…”

Eomma selalu berpesan padamu… Seburuk apapun takdir memperlakukan kita, kita tidak boleh menyerah, apalagi berpikir untuk mati. Kau ingat kan? Kau selalu bercerita tentang hal itu jika kau ke rumahku,”

Keundae Eomma…”

“Hyerin… Masih ada aku… Aku akan melindungimu Hyerin…”

Eomma…”

Dan untuk ke sekian kalinya di hari ini, aku kembali menangis sesenggukan. Entah sampai kapan aku akan sanggup untuk menangis. Kurasa… aku akan sanggup untuk menangis bertahun-tahun, asalkan penyesalanku bisa ku tebus.

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

Hidupku seolah perlahan-lahan semakin terpuruk sejak kehilangan Jongin dan juga Eomma. Aku hanya hidup dengan bunglon sekarang, dan dia semakin bisa bertindak kasar padaku. Secara otomatis Ia akan sangat memperhatikan nilaiku, dan aku tidak bisa untuk tidak mengalahkan nilai Sunmi di kelas. Aku belajar sampai dini hari, dan tidur sebentar, terbangun karena teriakan bunglon itu membangunkanku, dan tidak ada kesempatan lain bagiku untuk tidur selain di kelas.

Karena aku sering tidur di kelas, waktu ku untuk bicara bersama Seolmi semakin berkurang. Kami sudah tidak sering bicara dan menghabiskan waktu kosong bersama, karena aku selalu merasa sangat mengantuk di kelas, dan Seolmi bilang lebih baik aku tidur dan menjaga kesehatanku.

Hal seperti ini Seolmi bilang menjaga kesehatan?

Tidak tahukah Seolmi bahwa aku sangat ingin untuk pergi dari rumah bunglon itu dan menjauh dari radar kehidupan nya?

Harapan yang sia-sia.

Beberapa kali berusaha lari dari bunglon itu dan tertangkap, lalu mendapatkan pukulan darinya, sudah menjadi alarm bagiku bahwa bunglon itu mengincarku. Entah atas dasar apa. Karena Ia begitu dendam padaku yang selalu melawan nya?

Apa dia berpikir aku akan bisa kalah darinya?

Dia salah.

Aku akan terus melawan nya. Membuatnya marah tapi tidak bisa mencegahku. Dia hanya membutuhkan nilai-nilaiku yang sempurna kan? Aku akan memberikan nya nilai yang selalu sempurna, tapi jangan harap aku akan mematuhi aturan nya yang lain.

“Hyerin-ah? Kau masih tidur?”

Aku membuka mataku saat mendengar suara Seolmi.

Ani, aku tidak tidur,” ucapku pelan, kami sekarang tengah berhenti di bawah sebuah pohon di persimpangan jalan, persimpangan pemisah rumahku dan Seolmi. Karena kakiku yang tidak bisa untuk berjalan terlalu jauh, atau bahkan mengayuh sepeda begitu jauh, aku dan Seolmi hampir setiap hari berhenti di persimpangan ini.

“Kau tidak tampak baik akhir-akhir ini,” ucap Seolmi

Aku tersenyum kecut.

“Kau sudah tahu kenapa kan?” ucapku

Seolmi menghela nafas pelan.

“Aku tidak pernah tahu jika Appa tirimu sejahat itu,” ucap Seolmi

Gwenchana. Aku bisa melawan nya.” ucapku berusaha menenangkan Seolmi

Seolmi memandangku, lalu menggenggam tanganku, tersenyum, seolah membagi kekuatan nya denganku, yang menurutku memang berhasil, Seolmi satu-satunya yang aku punya sekarang, dan melihat Seolmi masih ada bersamaku, membuatku jauh merasa lebih baik.

Gomawo…” ucapku

“Aku tidak melakukan apapun,” Seolmi merengut, memandangku curiga

Gomawo karena kau menjadi temanku,” ucapku

“Teman? Hanya teman? Apa bedanya aku dengan Sunmi?” Seolmi sekarang tampak marah, berpura-pura, pastinya.

“Tentu saja berbeda. Kau teman terbaikku, Seolmi-ah.” ucapku

“Kita akan mendaftar di sekolah yang sama kan?” ucap Seolmi

Aku mengangguk.

“Yap. Dan aku berharap kita akan satu kelas,” ucapku membuat Seolmi terkekeh pelan

“Walaupun kita tidak sekelas aku akan selalu mengunjungi kelasmu,” ucapnya

“Dan kita harus terus pulang bersama.” tambahku

Geurae.”

“Seolmi-ah…”

“Ya Hyerin?”

“Kau tidak akan meninggalkanku kan?” ucapku

Nde? Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja tidak,” ucap Seolmi membuatku terdiam. Apa yang mungkin bisa terjadi padaku jika Seolmi tidak ada?

Ani… Hanya memastikan saja,” ucapku

Seolmi menepuk-nepuk punggung tanganku.

“Kita akan berteman sampai kapan ya Hyerin-ah…”

“Sampai mati.”

Mwo?” Seolmi tersentak

“Benar kan? Sampai mati. Sampai kita sudah sama-sama jadi nenek-nenek,” aku tertawa pelan, membayangkan apakah harapanku akan bisa menjadi kenyataan.

“Oh, geurae geurae… Kita berteman sampai mati.”

Keundae…”

“Kenapa Hyerin-ah?”

Ani. Kurasa akan lebih baik kalau kita berteman selamanya saja, jangan hanya sampai mati.”

Seolmi baru saja akan membuka mulutnya saat kami sama-sama tersentak ketika mendengar suara ledakan begitu keras di dekat tempat kami berada.

“Suara apa itu Hyerin-ah?” ucap Seolmi takut

“Dasar penakut. Ayo kita lihat.” ucapku sambil menarik Seolmi

KeundaeKeundae…”

Ppaliwa!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku menarik Seolmi untuk berjalan cepat, Ia jadi semakin lambat jika sedang panik atau takut seperti sekarang. Dan gerakan lambat Seolmi sangat tidak sesuai dengan usahaku untuk bergerak cepat. Jadi, dia menyebalkan.

Omo!”

Aku dan Seolmi sama-sama terperangah saat melihat beberapa bagian di kota sudah hancur. Dan jalanan juga retak parah. Sangat mengerikan! Dan aku terperangah saat melihat ada raksasa di tengah kota!

Apa aku sedang bermimpi? Atau ada penyerangan alien ke bumi? Kenapa berita tidak membahasnya tadi pagi!?

“Apa ada alien?” ucapku kaget, aku melangkah mendekati salah satu jalan yang terbelah, tapi aku terkesiap saat seseorang menarikku dengan cepat.

“Pergi dari sini!”

“Kyungsoo!?” aku dan Seolmi memekik hampir bersamaan

“Disini berbahaya! Cepat pergi!”

Kyungsoo menarikku dan Seolmi untuk menjauh dari tempat itu, padahal benakku penuh terisi oleh tanda tanya tentang kejadian itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Seolmi

Kami sekarang berada di sebuah ruangan kecil, dan pencahayaan nya hanya berasal dari lilin yang ada di ruangan itu.

“Diamlah,” kata Kyungsoo

Tanpa perlu di komando, aku dan Seolmi sama-sama mematung ketika mendengar suara keributan sangat keras di luar ruangan. Aku merinding saat mendengar suara erangan kesakitan. Apa sesuatu yang buruk sedang terjadi?

Bodoh. Sudah jelas sesuatu yang buruk sedang terjadi. Maksudku… apa yang sebenarnya terjadi?

“Kyungsoo,” aku memulai saat tidak terdengar lagi suara berisik di luar ruangan

“Kenapa kalian ada disana?” ucap Kyungsoo mendahului pertanyaan yang ingin aku ungkapkan padanya

“Jalan itu jalan yang biasanya kami lewati saat pulang,” ucapku pada Kyungsoo

“Apa yang terjadi? Kau pasti tahu kan?” kataku

Kyungsoo diam. Begitu juga dengan Seolmi.

“Seolmi? Kau tidak penasaran?” ucapku pada Seolmi

Seolmi memandangku, lalu menggeleng pelan.

Mwo?”

“Kalian melihatnya?”

“Hah? Melihat apa?” tanyaku, mencecar Kyungsoo dengan pertanyaan baru karena pertanyaan lamaku belum juga di jawabnya.

“Kau melihatnya.” ucap Kyungsoo padaku, membuatku segera teringat pada sosok raksasa di tengah kota itu.

“Apa kau bicara soal raksa—”

“Dia Appa ku.”

Mwo!?” aku memekik kaget

Tapi Seolmi bereaksi berbeda denganku. Dia diam. Seolah…

“Kau sudah tahu tentang ini Mi-ah?” ucapku sambil memandang Seolmi

Seolmi tampak tergeragap.

“M-Mwo? Ani.”

Kojimal. Shin Seolmi, kau selalu seperti ini saat berbohong.” ucapku

“M-Mianha—”

“Kita masih punya urusan setelah ini. Do Kyungsoo, kau makhluk apa? Kenapa merusak kota? Kenapa Appa mu seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” ucapku pada Kyungsoo

Kyungsoo tertunduk.

“Ada banyak orang yang sepertiku dan Appa. Dan mereka… menipu Appa. Membuat Appa jadi marah…”

“Dan… marahnya Appa mu… Membuat kota jadi—”

“Ini salah mereka. Mereka tidak seharusnya memaksa Appa ku untuk menggunakan kekuatan nya padahal nyatanya mereka hanya menipu Appa ku.” aku tahu dari nada bicaranya, Kyungsoo sangat marah.

Aku memandang Seolmi, sudah yakin dia tahu tentang semua hal ini. Dan dia… menyembunyikan nya dariku!

“Kurasa keadaan nya sudah lumayan aman. Apa rumah kalian berdua masih jauh dari tempat ini?” tanya Kyungsoo

“Tidak.” ucapku

Arraseo. Aku akan antarkan kalian berdua pulang.” kata Kyungsoo

“Tidak perlu. Aku harus pulang bersama Seolmi.” ucapku

Kyungsoo memandang kami berdua bergiliran, seolah paham pada perang kecil yang tercipta di antara kami.

“Ah, arraseo… Berhati-hati lah di jalan…” ucap Kyungsoo

Aku segera menarik Seolmi keluar dari ruangan itu, dan dia menurut padaku, semakin kentara jika Ia sedang menyembunyikan hal ini dariku, dan sekarang merasa bersalah. Saat keluar dari ruangan kecil itu, aku terperangah. Keadaan kota sudah sangat kacau. Khususnya di tempat kami berada. Aku masih bisa melihat bangunan tinggi di sekitar tempat ini.

“Kau sudah tahu tentang ini?” ucapku

Jeongmal mianhae. Aku sudah berjanji pada Kyungsoo untuk tidak memberitahu siapapun, dan aku—”

“Sejak kapan?”

“Hah?”

“Sejak kapan aku jadi orang bodoh yang kau bohongi?” ucapku pada Seolmi

Seolmi terdiam.

“Shin Seolmi!”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

57 Comments Add yours

  1. suretodream says:

    ooohh,, oke sekarang semua jelas,, aku ngerasa kyk baru aj dapet pencerahan tentang cerita mereka,, ternyata hidup hyerin berliku banget :0

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD pencerahan wkwkwkwkwkwk ini semacem aku selama empat chapter jadi jalan yang sesaat

      Like

  2. tyazputri says:

    wow ternyata begono, ngenes banget hidupnya hyerin.
    misteri kyungsoo udah, tinggal misteri chanyeol. sama hilangnya seolmi.
    waiting. . . .

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD aduh misterinya masih banyak yang harus aku ungkap ini keknya XD

      Like

      1. tyazputri says:

        bisa2 jd film laga ‘misteri hilangnya seolmi’
        wakakaka,irish suka maen misteri2 sih

        Like

  3. IRISH says:

    Reblogged this on IRISH SHOW.

    Like

  4. Pas baca chap ini aku baru ngeh bukannya di akademi ada orang yang bernama kai
    Ini ceritanya kai sama jongin orang yang berbeda ya
    Dan ini kenapa cuman keluarga hyerin yg diserang hyerin, eommanya sama jongin sedangkn appa tirinya engga

    Sepertinya ada sesuatu tentang keluarga hyerin ini, apalagi itu orang misterius siapa jg

    Aduh hyerin tolong ngerti itu si seolmi kan udah janji ama kyungsoo klobuat emgga ngebocorin rahasianya, masa nanti bilang2 ama km,hehhe

    Ditunggu aja next chapnya irish

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      ENAKNYA dibuat sama apa engga ini XD bhahahahahahhaah yang jelas ada sesuatu laahh XD

      Liked by 1 person

      1. Kalau sama bisa bikin gempar nih

        Klo ga sama mungkin itu kai adalah salah satu orang2 yg kebetulan mirip jongin,hahahahha

        Like

  5. Ohhh,ternyata gitu alasan hyerin selalu tidur dikelas. Satu persatu pertanyaan akhirnya terjawab dan timbulah pertanyaan baru Uehehehe . Ditunggu next chap kak irish. HWAITING!!!

    Like

    1. IRISH says:

      XD alhamdulillah aku bisa tebar clue satu persatu walaupun lama XD

      Like

  6. Nadia says:

    Okelah, chap ini akhirnya menjelaskan beberapa pertanyaan 😀
    Dan, bentar… Kai sama Jongin beda ga sih dsni? Kkkk~~~

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD berasa chapter ini jalan yang benar masa

      Like

  7. SHINERSB says:

    EHEM. kak rish nge post tanpa cuap-cuap dan rasanya hambar. kok ku jadi sedih,padahal lalo ada cuap-cuap mungkin bakal ngebahas tentang bunglon itu 😂
    btw,kak rish rest well!!♡

    Liked by 1 person

    1. Aihara says:

      Eh iya ya…
      Pantes rasanya ada yang kurang:’)

      *btw, maaf ya jb jb ^^v

      Liked by 2 people

      1. IRISH says:

        XD kamu kejaaammM~~

        Like

    2. IRISH says:

      OIYA, tumben ya XD aku lagi susah mengetik kemaren, mau bikin cuap-cuap kok butuh perjuangan sekali XD padahal sibunglon lumayan buat di aniaya di cuap2 XD wkwkwkwk thanks yaa nanti kucuap2 deh XD

      Liked by 1 person

  8. Aihara says:

    Chapter ini udah panjang 😀
    Terus, di sini aku bener-bener masuk di masa lalu Hyerin yang notabenenya rumit banget, kasihan sama dia :’)
    Entah kenapa selalu ngerasa aneh sama Seolmi, pembawaannya mengganjal, dia selalu aneh gitu deh menurutku

    Nah, Hyerin marah tuh
    Masih banyak misteri yang belum terpecahkan
    Gimana ya kelanjutannya??

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      masa lalu sama masa sekarangnya hyerin ini emang abnormal XD wkwkwkwkwkwk kenapa sama seolmi, dia abnormal juga kah XD

      Like

  9. nurnie says:

    Wahhh mkin bguss . Tp baek kq gc kluarr schh .
    Nextt kak . Fighting

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD baek kusimpen di saku~

      Like

  10. leehagi says:

    Kak irishh,
    Sepertinya cabe bbh gak tayang disini jongin jangan2 makluk imirtal juga abis ngilang gitu wkwkwkkw
    Aku tunggu lanjutannya ya, karena tbcnya ngeselin di saat yg tepat banbet wlwkwk
    Cepet sembuh ka. Semangatttt♥♥♥

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD tayangnya bbh di pending dulu karena masih ada part spesial buat dia XD wkwkwkwkwkwk tbc nya greget kan

      Like

      1. leehagi says:

        Aduduhh gak sabar part spesialnya, ia greget banget tbcnya kak irish emang spesialis tbc greget deh

        Liked by 1 person

      2. IRISH says:

        XD buakakakakkaka ntar kubikin ff judul tbc yang tbc nya lebih greget XD

        Like

      3. leehagi says:

        Tbc aja semuanya wkwkwkkw

        Liked by 2 people

      4. IRISH says:

        XD kan isinya serba tbc ntar

        Like

  11. anggunrania says:

    sempet buka part sblumnya krn lupa hahaha dan baru ngeh ini kilasan balik memori hyerin dulu dan baek ga muncul sklipun.
    Jongin sbenarnya di mana, sosok yg ingin mmbunuh hyerin dan jg pembunuh ibunya plus motifnya, itu yg masih jd pertanyaan
    Ditunggu lanjutanya

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD buakakak untungnya kamu inget, ah itu semua masih misteri yang belum jelas kapan akan kuungkap nya XD

      Like

  12. ziuziu says:

    baru ngeuh kalo chap ini masih nyeritain masa lalu nya hyerin, beberapa sih udah di tanyain sama reader lain di atas. tentang jongin sama kai itu sama ga sih? dan entah aku lupa atau emang blm di ceritain knp keluarga nya hyerin di serang tp engga dngn si bunglon. ah baekhyun ga muncul sana sekali disini dan misteri lain blm terpecahkan walaupun menurut ku yg chap ini juga masoh nanggung. update soon yaaaaa, hwaiting!!

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD buset dah, ini kai/jongin jadi gajelas y, minta ditendang emang XD wkwkwwkwkkwk bunglon oh bunglon~~

      Like

  13. min yoonmi says:

    sumvah kak, yoon ikut ngerasain yg hyerin rasain sampe nangis2 XD
    pikiran hyerin penuh imajinasi2 jahat ya kalo benci sama bunglon XD
    ini jongin ngilang ke alam lain itu jadi kai?
    entah kenapa ya kak yoon ngira appanya hyerin itu makhluk lain juga kek appanya kyungsoo
    ini kak irish jooss bgt bahasanya waktu author’s eyes sama hyerin’s eyes bisa beda gituuu (Y) ^v^)9 mangaaatss buat next kaaak~

    Like

  14. Syuga_1004 says:

    안녕 thor,sebelumnya maaf baru bisa komen di chap ini karena keasikan baca hehehe^^
    Ini ff keren,fantasy kaya gini aku suka banget,gaketebak
    Masa lalu hyerin menyedihkan,well entah kenapa aku berasumsi kalo appa tirinya itu yang ngebunuh eomma hyerin,
    Kai itu jongin kan?mysteri bangett,ditunggu chap selanjutnya^^

    Like

  15. 변체 says:

    tragis banget hidupnya hyerin??
    kasiyaaaaaan…

    next kak.. fighting

    Like

  16. zzhafiiiiiiiiiiiiiiirishhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh XD says:

    akuuu ketawaaa passss hyeriinn doainnnn bunglonnn ituuuuuuu kesedakkkk sumpittt/ sendokkk dan yang 1 nyaaa wkwkkwkkwk

    Wowooooooo jonginnnnnnnnnn hlangggggg,,, apa dia dibawa samammamaaa komplotannyaaa baekhyunnnnnn krna mau nylametinnyaaaa darii si bunglonnnn ituuuu trusssss skrnggg namanyaa brubahhhh jadiiii KAIIIIIII ???? KLOOOOOO BENERRRR KNPAAAAAAAA DIA G NGENALINNNN HYERINNNNNNNNNN?? APAAAAAA OTAKNYAAAA UDAH KE CUCIIIIII/ DIAA PURA2 LUPAAAAAAA???????

    ,,,,, apaaa bunglonnn ituuuu bkann manusiaaaaaaa?????
    Wowowooooo siapaaaa yanggggg ngomongggg ga ada suaraaa sama hyeriinnn saat di sungaiii???? dia menginginkaannnn hyerinn meninggal,,,,, apaa diaaa si bunglonnnnnnnnnnnn?? Ahh iyaa apaaaa,,,,,,,

    APAAAAA YANGGGG NABRAKKKKK HYERINNNN ITUUUUU?????????
    AKUUU JADI INGET WKTUUU PRTMA KLII HYE KTMUUU Sma channn,,,, chankan di kejarrr amaa orangggg//ga tau deh siapaaa// apaa orang ituu yang nyelakaiinnnnnn hyeee???? Gagagagagagagagagggagagagagaga tauuuuuu dehhhhh

    Makinnn kesni makin pnasarammmm wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwwkkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

    Trusss seolmiiiiiiiiiii???? wowowowoowwowo diiaaaa tahuuuuuuu semuanyaaaaaaaaa….. Makinnn penasarann nih amaaaa seolimiiii

    Truss eommanyaaaa dibunuhhhhh????? Cewekk 3 ituuu siaapapapapappaapaaaa???? Apaaa diaaa yangg nabrakk hyerinnnnn??????? Lahhhhh si bunglonnnnn ga drumahhh apa waktuuuu eommanyaaaaa dibunuhhhh,?,,,,,,,
    Bner2 si bunglonnn iniii

    Wowowowowoowowow penasaran bangetttttttttttttt

    Irishhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh kamuuuuuuu ga ONNNNNNNNN APAAA DIII WAAAAAAAA,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      Zhaf, demi apa pala ane udeh migren tambah migren baca komen ente penuh huruf kepslok dan berulang-ulang…………..
      UDEH jan diketawain, ntar ente kualat, keselek sendok………kualat itu ada loh XD wkwkwkwkwkwkwk
      Enggak ._. ane gamau jelasin kenapa jongin ilang, malez zekali karena nanti ceritanya semakin panjang lebar kali tinggi dan jadi rumus volume~~
      Lebih baik kai beda aja ya sama ongin HAHAHAHAHAHAHHA XD
      Ah jawab aja bunglonnya manusia apa bukan :v
      Zhaf-_- ngaps coba si bunglon curcolan sama hyerin di tepi sungai, gak keren amat masa, padahal si bunglon kan keren munculnya Cuma buat ngamuk2 doang~~
      Seolmi biarlah menjadi misteri~ misteri dua dunia~ wkwkwkwkwk maap zhaf wa ane jarang buka sekarang huhu, mau pegang hape itu sesusah liat TLP loh~

      Like

      1. zhafiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii says:

        Ya Allahhhhh,,,, maapkannnn akuuuu yang membuattt kpalaaaa sang authorrrr migrennnnn wkwkwkwkwkkwkwkwk
        Tanpaa ente jelasinn jigee ni ff udahh panjang kaliii kubussss /L.O.L/
        ,,,,,, yahhh mungkinn ajaaa jonginnn mau lebih gauuulll dipanggillll dengan name kayiiiii ,,, wkwkkwkwk
        Demi apa punn tuh si bunglonnnnn knpee pngenn bangettttt ane tenggelamin di sgtga bermudaaahhhh
        Si bunglonnnn ,, apeee maunyeee ,, demia apa punnn,,, pengen anee injek2 ,,,,, wkwkkwkwkwkw

        Holalallallalllalala seolmiiiiii manusia duaaa duniaaaa sekaliannnnnnn wokakkakakakkakakakakkkk

        TLP /////APAANNN RESHHHHH???
        Maapinn ketidak tahuannn kuhhhhhhhhhhhh

        Liked by 1 person

      2. IRISH says:

        iye zhaf santai aja XD ane kemaren bacanya tengah malem pas ngantuk2 jadi gagal fokus ngeliat tulisan banyak XD wwkwkwkwkwk
        jangan doong, aa’ bunglon ini peran ga berguna jadi jangan di bully XD wkwkwkwkwkw
        TLP telpon zhaf XD wkwkwkwkwk

        Like

  17. kirito says:

    Huwaaaa kerennya suka banget sama hyerin… wah wah wah jangan jangan kai itu jongin yah hmmm… chanyeol yg ngebunuh yah? Makanya dia merasa bersalah?? Dududu next chap kak irish semangat!!!

    Like

  18. byunjungie says:

    aloooh IRISH,aku udh baca ff ini dri part 1,tapi aku baru komentar di part ini :v,mianhe irish,aku terlalu penasaran dengan kelanjutannya jdi aku putusin buat komentar di chapter yg ini :v,sejauh ini aku mulai mengerti dengan maksud ceritanya,orang yg ditolong hyerin di pos penjagaan itu chanyeol kan?,dan jongin itu apa dia kai? ‘-‘,dan bunglon itu kok bukan dia aja yg mati -_-,hyerin nya kasiaaan,dan hyerin itu manusia biasa kan?,aaaaaah aku penasaran part selanjutnya irish,ditunggu part selanjutnya,fighting!!!!

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      buahahahahah gapapa XD aku tabah menerimanya kok wkwk XD HOOH XD BUSET ADA YANG BISA NEBAK SYUKUR ALHAMDULILLAH YA ALLAH XD wkwkwkwkwkk enaknya jongin/kai dibikin sama apa engga ya XD wkwkwkwkwk thanks yaaa

      Like

  19. Ane says:

    Pertama baca langsung ke chap 5😂
    Apes banget ya hidupnya si hyerin, the realnya hidup ngenest😂
    Btw ane tertawa diatas penderitaan seorang tokoh fiksi lmao😂😂😂😂😂

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD buset kamu sadis sekali baca langsung ke sini XD

      Like

  20. tari says:

    Seperti biasa irish pasti selalu bikin kejutan,keren tau ditunggu selanjutnya yaaaaa hwaiting ^^

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD aduh kejutan macem ulang tahun ya huahahhaah

      Like

  21. Violin says:

    Keren, lanjut thor. Fighting 😊
    Tapi kenapa ff ini lama belum dilanjut? Padahal bagus loh, maaf ya kak baru ninggalin jejak disini. Sebenernya Chanyeol itu kenapa? Seolmi siapa? Baekhyun juga kenapa? Apa jangan2 Baekhyun suka sama Hyerin? Kek nya iya deh. Trus si bunglon nya gg mati aja, bunglon jahat amat sii ama Hyerin. Moga2 bunglon cepet mati. Aminn

    Next chap thor, fighting 😊, oiya jangan lupa next chap nya one and only, soalnya aku suka banget. Mian banyak permintaan 😂😂😂

    Liked by 1 person

    1. IRISH says:

      XD iyupp sabar yaahh XD nanti begitu ada waktu aku post lanjutannya XD wkwkwkwkkw thanks yaa

      Like

  22. kimKimIsti says:

    Rupanya begitu. Lanjut aja deh biar gak migren.

    Like

  23. denia says:

    Wahhh aku mendadak kangen baekhyun nihh
    Hmm pasti yang bunuh eommanya hyerin orang orang yang masuk ke rumahnya dia tuh
    Huft aku penasaran sama orang yang berusaha mau bunuh hyerin tapi karena gagal malah menghilangkan orangorang disekitar hyerin

    Like

    1. IRISH says:

      XD buakakakakaka kamu kangen baekhyun doang ini huhuhu aduh aku ga sabar post lanjutannya XD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s