AndroPhobia—By ALONA

on

1455103212902.jpg

 

ANDROPHOBIA

 

Byun Baekhun – OC’s Anna Cho

 

In OneShot Length, With Romance and Life Genre, Then PG – 15 Rated.

 

Thanks, For AMAZING Poster. By; @FatimaMales

 

 

Disclaimer;

 

 This FF ONLY MINE. I just own the PLOT, not the CAST. If there is a similarity it was a accidental. All the fake in this FF ONLY For the Fake..

 

 

© 2016, ALONA Present


“Kau tau? Ibumu seorang jalang!”

 

“Dasar, anak tidak tau diri, kemari kau!”

 

“Maafkan aku Ayah… Anna tidak salah hiks…”

 

“Tidak salah? Dasar anak tidak berguna! Kemarikan kaki dan tanganmu…”

 

“Ayah, jangan pukul Ibu!”

 

“Diam, kau anak tidak tau diri!”

 

“Jangan pukul anakku HongBin!”

 

“AAAAAA….”

 

Aku kembali berteriak. Mimpi terburuk yang ada dihidupku mendatangiku. Lagi.

 

 

“Anna… Kau tidak apa – apa? Memimpikannya lagi?”Suara Ibu membuatku tenang. Setidaknya tidak seperti tadi. Senyum manis terukir dibibir merahnya. Aku tersenyum meski kaku.

 

“Ibu… Aku membenci Ayah!”Kini giliran aku yang membuat ibu tersenyum kaku. Dia mengelus puncuk kepalaku lembut. Menghantarkan rasa hangat.

 

“Ibu tau! Tapi, jangan begini Anna… Kau membuat Ibu takut!”Aku mengerti apa yang ibu maksud ‘begini’. Aku penderita penyakit tak logis. Penyakit tidak berguna yang hanya bisa membuat Ibu ketakutan dikala itu menyerangku. Tapi, itu akan mereda kala Ibu memelukku. Dan itu berarti aku tidak bisa jauh dari Ibu. Ya, setidaknya sekarang.

 

 

0o0

 

 

Aku, Anna Cho. Anak dari Alysia Erden, dan Cho Kyuhyun. Pria yang tidak pernah kuanggap sebagai Ayahku. 

Aku hidup bersama Ibu, semenjak aku berumur 10 tahun. Dan sejak saat itu, penyakit tidak berguna ini mulai menyerangku. AndroPhobia.

 

Aku benci pada pria. Hingga tidak ada niatan berhubungan dengan pria manapun meski dia kakekku. Aku, tidak menganggap seluruh saudara lelaki yang kedua orang tuaku punya. Itu semenjak ‘kejadian’ mengerikan, yanh sselalu menjadi bayang – bayangku datang.

 

Aku melihat dengan mata kepalaku, Ibu dipukuli oleh pria itu, lalu dilecehkan. Dan bagaimana pria itu memukulku karna aku mengadukannya pada tetangga.

 

Luka itu membekas pada diriku, tepat dihatiku. Meski luka sayatan membekas di leherku, namun hatiku lebih sakit.

 

Aku benci pria.

 

Mereka egois, pemarah, emosi, jahat, dan tidak tau diri.

 

Tapi, dengan bodohnya yang kurasakan bukanlah benci saat melihat atau bersama kaum bernama pria itu. Aku ketakutan, hingga tidak mampu berteriak atau bergerak. Kepalaku sakit, juga seluruh tubuhku, rasanya tersiksa. Memori dimana pria bejat itu memukulku dan Ibu terulang ddan membuatku tiba – tiba merasakan kembali pukulan itu. Ya, itu yang akan terjadi saat aku bersama makhluk bernama Pria itu.

 

Aku berpikir kenapa mereka ada didunia ini? Dan bodohnya pikiran itu hilang saat bersama mereka. Bodoh.

 

Aku tersenyum kecut. Ini sudah 20 tahun aku hidup. Dan 10 tahun aku tidak melihat dunia luar. Melihat bagaimana dunia berkembang dengan cepat.

 

Selama ini aku bersekolah di sebuah sekolah khusus wanita. Dengan guru – guru wanita. Sekolah kpribadian.

 

Aku berjalan menurungi tangga rumahku. Menemui Ibu yang tengah berkutat dengan masakannya.

 

“Kau masak apa Ibu?”Tanyaku. Membuat wanita berkepala 3 itu menengok lalu tersenyum. Aku membalas senyum indahnya, lalu duduk dikursi makan.

 

Kehidupan kami yang mulanya buruk, kini makin membaik. Ibu bekerja sebagai salah sati Chef di restorang terkenal nan mahal. Aku lupa apa namanya. Kami memutuskan untuk tinggal di sebuah apartement yang tidak memungkinkan pria ada.  Kecuali, Room Boy. Tapi toh, kami tidak minta pelayanan mereka. Aku lebih suka membersihkan rumah sendiri.

 

 

Ibu meletakkan Pancakes di hadapanku, lalu menuang susu coklat.

 

“Anna… Apa kau serius? Ibu takut!”Senyum diwajah cantiknya memudar. Tergantikan oleh raut khawatir. Aku suka bagaimana Ibu mengkhawatirkanku.

 

“Aku serius bu… Ini sudah 10 tahun berlalu. Aku sudah tidak kesakitan lagi!”Ucapku tampa ragu. Toh, memang itu benar. Itu fakta.

 

“Tapi Anna… Bagaimana jika tiba – tiba kambuh?”Aku agak menggeram, Ibu membuatku emosi,meski aku tau bahwa Ibu sangat khawatir.

 

“Ibu.. Tenanglah! Aku bisa meminta Amy jika aku sakit!”Terangku. Membuat Ibu berpikir keras. Menimang jawaban terbaiknya.

 

Aku sudah berumur 20 tahun, dan ingin memutuskan kuliah. Aku akan mengikuti keahlian Ibu. Menjadi seorang chef. Tapi, masalahnya universitas ini akan ada prianya. Jujur, aku malas melihat mereka. Enek.

 

“Baiklah… Tapi jika terjadi apa – apa. Kau pindah!”Aku tersenyum. Ibu memang yang terbaik.

 

 

0o0

 

Keringat dingin mengucur di telapak tanganku. Agak gugup, dan sedikit menegangkan.

 

“Kau baik – baik saja Nona?” Amy, supir pribadiku bertanya. Aku hanya mengangguk.

 

Wanita itu berumur 29 tahun. Beda beberapa tahun dengan Ibu, dan beda 9 tahun denganku. Wanita yang baik. Dia seorang janda. Kau sudah tau soal penyakitkukan? Jangan heran kenapa aku memilij supir wanita. Amy bahkan mendukungku, dia bilang lelaki itu merepotkan. Dan egois.

 

Aku turun dari mobil bermerk Chevrolet ini. Melangkah dengan anggun menuju ruang kepala sekolah.

 

 

Disinilah aku, berjalan dikoridor, menuju kelasku. Beberapa pasang mata menatapku. Beberapa pria. Aku mengatur nafas, beserta ekspresi dan detak jantungku. Mencoba membuat pikiranku jernih dan berisi. Tidak kosong. Karna itu kemungkinana penyakit bodoh ini kambuh.

 

“Ruanganmu disini… Tenanh saja, wanita lebih dominan!”kepala sekolah itu berbisik kepadaku. Untung dia wanita. Oh, dia pasti tau. Aish, Eomma…

 

Aku memasuki kelas itu. Suasana hening, toh mereka mengerjakan tugas ddari dosen berkepala botak itu. Sial. Aku gemetar.

 

“Oh.. Hy Nona Choi..”Sapanya.

 

DEG

 

Dengar, aku benci marga Cho.

 

“Kau bisa memanggilku Anna Erden!”Sahutku tiba – tiba. Tentu, untuk membuat pria tua itu melafalkan namaku dengan benar.

 

“Tapi, disini namamu Anna Cho?!”Jawabnua diselingi senyuman, yang bagiku adalah senyum mengejek. Aku hanya tersenyum tenang. Seolah mengalah.

 

“Silahkan tempati tempat yang kosong!”Perintahnya.

 

Aku berjalan menuju tempatku yang berada di deret no.5 lumayanlah, tidak terlalu dibelakang. Bukan untuk menuruti perintah si pria botak itu, tapi karna aku memang pegal dan harus duduk. Beruntungnya, samping kanan dan kiriku wanita, dibelakangku juga. Tapi sialnya didepanku seorang pria pendek.

 

Ck, dia pasti penarik perhatian. Lihatlah rambutnya yang di chat merah maroon. Dan jemari lentiknya yang lihai menulis ini. Pria aneh.

 

 

0o0

 

 

Bel istirahat berdering. Aku hanya duduk dengan menelusupkan wajahku di tumpukan kedua lenganku. Meresapi rasa pusing ini…

 

Aku kambuh.

 

Ok, aku menghirup nafas sebanyak – banyaknya, masih dengan menyembunyikan wajahku. Mencoba mengatur pikiranku. Aku memikirkan bagaimana lezatnya pancakes ibu. Kembali kesituasi. Aku membuka mataku, menatap kerok selutut yang kupakai, membayangkan Ibu memelukku. Ok, ini lumayan.

 

“Kau baik – baik saja?”

 

#Sret.

 

Aku mengangkat wajahku, rentinaku menangkap seorang pria dengan balutan sweater birunya dan celana katunnya, dan jangan lupakan rambut Maroonnya yang terlalu mencolok. Si pria aneh.

 

Pria itu menatapku aneh, seakan bingung dengan diriku yang nampak menjauhinya.

 

“Kau baik – baik saja Anna?”Tanyanya, kini menggunakan namaku. Aku agak merinding mendengar suara Baritonenya.

 

“Pergi…”Bisikku. Rasa sakit mulai menyerangku, kala pria itu mendekat dan hampir menyentuh keningku.

 

Pria itu menaikkan alisnya. Bingung dengan ucapanku. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum, lalu pergi.

 

Aku bernafas lega,Pasalnya para siswa pergi kekantin. Jadi, aku bisa menetralkan penyakitku yang kambuh.

 

 

0o0

 

 

Author P.O.V

 

 

Tak terasa Anna sudah menginjak Universitas dengan berbagai jurusan itu selama 1 bulan. Tapi, penyakitnya tak kunjung reda padahal dia sudah menjalankan terapi?

 

“Anna.. Kau mau kekantin?”Seorang wanita dengan rambut selehernya bertanya yang hanya dijawab gelengan pelan dari sang Empunya nama. Membuat si gadis yang bertanya melengos pergi dengan wajah gemas. Anna tidak pernah pergi kekantin, karna Ibunya sudah membawakannya berbagai bekal yang sudah pasti akan dimakannya kala istirahat.

 

Gadis pemilik rambut berwarna Hitam legam ini hanya menghela nafas lalu mengeluarkan bekalnya, untung para lelaki keluar ke kantin. Dan lebih beruntungnya mereka akan datang saat pelajaran dimulai.

 

“Kau tidak kekantin lagi?”Lelaki berambut Maroon itu bertanya. Membuat Anna merasa pusing kala mendengar suara pria itu. Badannya sedikit ngilu kala dia menatap pria itu, merasa ada yang memukul dirinya. Sialan, Ini kambuh lagi.

 

“AndroPhobia…”Lirij Pria itu. Membuat Anna kaget.

 

“Kau menyuruhku pergi dengan wajah kesakitan! Kau meringis kala Dosen Kim mengajar! Apalagi saat para pria meminta perkelana denganmu! Cukup penjabaran itu menunjukan siapa dirimu!”Jawab pria itu tegas.

 

“Hah?”Sayangnya Anna tidak mendengar ucapan pria itu. Dia sibuk menetralkab jantungnya yang sedang berdetak.

 

“Namaku Baekhyun. Byun Baekhyun… Kuharap kau dapat mengingatnya.. Kau dapat mencariku di gedung kedokteran bila membutuhkan… Aku juga merupakan Psikolog meski aku ikut ektrakulikuler menyanyi dan ya.. Kelas memasak!”Jelas pria itu. Memberi Anna secarik kertas, oh fotocopy kartu mahasiswanya. Pria bernama Baekhyun itu tersenyum tipis, lalu menyentuh dahi Anna, membuat gadis itu terlonjak.

 

 

Anna tidak dapat fokus pada ucapan pria itu. Yang dia tangkap adalah ‘Pria itu bernama Baekhyun, Dan dia psikolog!’. Simple?

 

Kepala Anna semakin berdenyut, menghantarkan rasa sakit pada seluruh tubuhnya, memory kelamnya terputar. Ditambah, jantungnya berpacu saat lelaki bermata sipit itu menyentuh keningnya. Rasanya Sakit tapi… Aneh?

 

Pria itu melangkah, meninggalkan Anna yang sibuk menetralkan penyakitnya.

 

 

0o0

 

 

Hari ini adalah hari setelah Anna tidak masuk 3 hari akibat penyakitnya yang bertambah parah, apalagi dia masih merasakan sentuhan lelaki bermarga Byun itu pada dahinya. Rasanya sakit tapi mampu membuat dadanya berdesir.

 

Gadis dengan rambut coklat ini terduduk dibangkunya, sembari menatap bangku kosong dihadapannya. Biasanya bangku itu diduduki seseorang dan hanya seseorang itu yang selalu menanyai keadaannya.

 

Gadis itu memejamkan matanya, bermaksud berpikir soal tawaran pria itu. Dia mencoba melawan perang batin dan fisiknya.

 

Dan berakhir dengan berdiru lalu melangkah menuju gedung kedokteran.

 

 

Di sana cukup ramai. Terlihat sekali mahasiswa itu seorang dokter muda. Mereka nampak pintar dan jenius.

 

Tak salah jika mereka mulai bekerja dirumah sakit.

 

Anna berjalan dengan kepala menunduk, menutupi wajahnya dengan helain rambut coklatnya. Banyak yang memperhatikannya.

 

Ok, aku belum jelaskan.

 

Anna Cho. Gadis yang sempurna. Lihatlah kaki jenjanhnya yang melangkah anggun. Lihatlah rambut coklatnya yang bergelombang terombang – ombing oleh belaian angin. Dan, jangan lupakan wajah rupawan itu. Anna Cho, gadis yang sempurna. Tapi.. Siapa sangka, dia punya penyakit yang menurutnya-Menurut Anna- tak logis dan gila? AndroPhobia. Ok, lupakan.

 

Itu bukan Phobia. Dia tidak takut. Tapi benci. Beda kan?

 

 

Setelah bertanya dengan beberapa senior wanita,tentu saja. Dia akhirnya menemukan dimana Baekhyun berada. Di ruangan khususnya? Ck..

 

“Ada ap- Oh kau datang?”Pria itu tersenyum. Membuat Anna harus bersiap – siap jikalau ini akan kambuh. Lagi.

 

“Duduklah. Dan santai!”Perintah Baekhyun. Pria itu duduk dibangkunya, diikuti Anna yang duduk disofa,cukup berjauhan dengan Baekhyun.

 

Baehkyun hanya tersenyum geli.

 

“Kau sangat takut-”

 

“Aku benci asal kau tau!”Tegas Anna. Tidak mau salah pelafalan.

 

“Hmm.. Jadi kau benci pada kaumku?”Tanya Baekhyun seraya menghela nafasnya.

 

“Kenapa kau menghela nafas? Tidak suka? Iya!”

 

“Sejak kapan?”Tanya Baekhyun dengan sabar.

 

“10 tahun yang lalu!”Anna mulai merasa dadanya sesak.

 

“Tenang. Kenapa?”

 

“Apanya?”

 

“Kau dilecehkan? Atau…”Bisik Baekhyun, ini seperti dia bicara pada dirinya sendiri.

 

“Aku dipukuli dan melihat pelecehan!”Ini keren.

 

Dari seluruh pasien yang yang berkonsultasi dengannya. Anna adalah yang paling jujur. Hebat.

 

“Apa yang kau rasa-”

 

“Kau pasti tau!”Ketus Anna. Seolah – olah tidak mau berlama – lama dengan Baekhyun.

 

“Baiklah. Kita akan menjalani terapi!”

 

“Apa?”

 

“Terapi. Besok. Jam 8 pagi. Jangan sok mengelak. aku tau kau tidak ada kelas!”

 

What The… Kenapa Baekhyun malah mengaturku-Pikir Anna jengkel.

 

“Bukan mengatur! Tapi mencoba membuatmu sembuh Nona Cho!”Sahut Baekhyun, diselingi senyun meremehkannya.

 

0o0

 

 

Aku mengatur nafasku. Baiklah, udara pada pagi iini cukup dingin. Dan astaga sekarang pukul 8.45 AM. kemana pria menyebalkan itu?

 

“Mencariku?”Tiba – tiba pria cantik itu aada dibelakangku. Ck. sok mengagetkan.

 

“Baik! Mari kita mulai terapinya!”

 

Aku hanya mengerngit. Apa dia berpikir terapi itu sebuah permainan.

 

 

Baekhyun membawaku ke sebuah taman bermain. Apa maksudnya?

 

“Kita akan menaiki salah satu wahana! permainan apa yang paling kau takuti?”Tanyanya.

 

“Entahlah… Aku-”

 

Baekhyun langsung menarikku. Sialan. Aku akan kambuh.

 

Tangan putih pria itu sangat terasa pada permukaan telapak tanganku. Rasanya aneh. Dadaku berdesir.

 

Dia menarikku menuju roaller coaster. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku bukan takut karna wahana itu. Malah aku sangat menyukainya. Tapi, dengan bodohnya, pria bermarga byun ini menggenggam tanganku? Apa maunya? mempermainkanku?

 

“Kau? mau mempermainkanku?”Desis ku pelan. Dia menengok, lalu tersenyum.

 

“Lihat dan rasakan!”

 

Apa maksudnya?

 

Roaller Coaster ini sudah berjalan. Aku diam dengan suara yang terhenti ddi tenggorokan. rasanya.. sakit. Banyak pria disini. dan wanita yang berteriak. Sialan. Aku mengingat suara ibu.

 

“Tenangkan dirimu! Bertahan!”Bisik Baekhyun.Mencoba menenangkanku.

 

“Sa-Sakith!”Jawabku. Dadaku sesak.

 

Beruntung ini sudah selsai. Jadi, aku bisa turun lalu berlari.

 

“Dengar. itu termasuk terapi!”Tiba – tiba baekhyun berteriak padaku.

 

“Terapi? Dengan membuatku berteriak dan kesakitan hah?”Balasku. Menatapnya emosi.

 

“Jangan dangkal dalam berpikir. Aku dokter. Aku tau apa yang harus kulakukan!”

 

Dia kembali menarikku.

 

“Kita akan ke sesi terapi ke-2!”Ucapnya tiba – tiba. Apa maksud pria ini?

 

“Jadi, yang tadi kau bilang terapi?”Ketusku. Pria itu mengangguk lembut.

 

“Kau dokter aneh!”

 

 

0o0

 

 

Dia membawaku ke rumah sakit jiwa? Sialan. Apa dia mau mendaftarkanku?

 

“APA MAKSUDMU? Kau-“Teriakanku terhenti, karna kami -aku dan Baekhyun- berada didepan sebuah kamar rawat.

 

Didalam sana terdapat seorang wanita.

 

Kulitnya pucat. Rambutnya tergerai panjang. Berwarna hitam. Dia.. Cantik. Tapi sayang dia… Gila?

 

 

“Noona..”

 

Apa? Aku..

 

Baekhyun berlari menghampiri wanita itu. Tersenyum lalu mengelus puncuk rambutnya. Apa ini?

 

Wanita itu menengok. Terkaget dengan Baekhyun.

 

“AAA… Pergi kau… Pergi! Dasar adik tidak berguna..hiks.. Kau jahat!”Wanita itu berteriak, Memukul dan mendorong Baekhyun. Sialan, kenapa aku harus kambuh kala mendengar suara teriakan gadis itu?

 

Memori kelamku malah berputar pada adegan saat Ibu berteriak kala dipukul Ayah.

 

Aku terdiam dipojokan. Menjambak rambutku. Tapi; aku masih mendengar suara teriakan sosok wanita itu.

 

“Hiks.. Kau jahat! Kau membuatku dilecehkan oleh pria bejat itu!”Isak wanita itu. Mengeluarkan air mata sebanyak – banyaknya. Lalu berteriak histeris. Tapi, kemana para suster?

 

“Noona… Maafkan aku! Aku menyesal! Tolong jangan menangis! Hentikan!”Aku terdiam. Memandang Baekhyun yang mencoba menenangkan Noonanya.

 

“Hiks.. Kau jahat!”

 

“Aku memang jahat! Maka dari itu maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk menghapus lelaji bejat itu!”

 

“Aku menyayangimu Baek.. Noona menyayangimu!”

 

Aku terharu. Mereka…

 

 

0o0

 

 

“Dia Noonaku. Namanya Taeyeon. Dia korban kekerasan dan pelecehan. Dan tersangkanya adalah Ayahku sendiri!”

 

Aku terdiam mendengar cerita hidup Baekhyun. Kenapa sangat mirip denganku? Kisahnya?

 

“Aku hidup selama 20 tahun dengan rasa penyesalan yang teramat. Perasaan dimana seorang adik tidak dapat menolong kakaknya. Bisa kau bayangkan?”Tanyanya. Manik kelamnya menatapku penuh luka. Aku kasian. Tunggu, dimana rasa sakitku?

 

“Kau berhasil menjalankan terapimu!”Aku menengok. Memandangnya bingung.

 

“Apa kau merasa aneh? Kau tidak sadar?”Aku makin menyerngit. Apa maksudnya?

 

“Lihat sekelilingmu? Dan lihatlah tanganku yang menggenggammu? Kau tidak sakit!”

 

Aku terbelalak. Disekitarku adalah pria. Dan Baekhyun menggenggam tanganku. Dimana rasa sakitku?

 

“Kau dinyatakan sembuh Anna.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Sebuah penyakit bisa hilang dengan rasa kasih sayang. Itu motoku!”

 

Apa maksudnya?

 

Ini… Aneh…

 

 

Ya,begitulah ceritaku. Ini diaryku. Seorang wanita yang menderita penyakit AndroPhobia yang bisa sembuh hanya karna terharu. Kupikir itu rencana Tuhan.

 

Dan lebih menakjubkan, Kala dokter itu bersamaku.

 

Byun Baekhyun. Dokter yang menyembuhkanku dengan rasa kasih sayangnya. Dokter yang membuatku berpikir. Bahwa tidak semua pria seperti itu.

 

 

END?

 

Asfghjiklaompwtsv

 

Apaaan ini? Maafkan saya…

 

Ini adalah FF teraneh dengan END gantung? Hehee…

Intinya Anna sm Baek pacaran gt? Cmn saya susah jelasinnya di FF ini? Knp y? Hehehe ^^*peace V

Cukup disini aja… Semoga mengerti.. Hahaha LOL(Maafkan keabsurdan Saya…*bow)

 

Komen joseyo*maksa

 

Alona. C

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. SHINERSB says:

    ini bagus dan ku butuh squelnya master-nim?!

    Liked by 1 person

    1. ALONA says:

      Heheh.. makasiih^^

      Seqeul?? Kupikirkan yaa…^^ Makasih udh sempetin baca..*Big Hug

      Liked by 1 person

  2. kaitoarbii says:

    anyeong kak alonaa~ saya readers baru di wp ini 🙂 salam kenal ya ❤

    bagus ff nya, jdi keinget novel yg aq baca, jdulnya jga androphobia looh..
    adakah sequelnya??

    Liked by 1 person

    1. ALONA says:

      Hai salam kenal jugaaa yaa…^^

      Like

  3. Ana merya says:

    Baru baca,
    Ini nggak ada squel nya ya?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s