[SONGFICT EVENT] Night Fall

image

Author : baekpear | Cast : Byun Baekhyun (EXO) and Lyan (OC) | Genre : Romance, Fantasy, Sad | Length : Oneshot | Rating : PG-15 |

Disclaimer : story based on ‘Moonlight’ sung by EXO and my imagination.

 

“You approach me quietly as the night falls
Removing the darkness to wake me from my sleep-“

(Moonlight by EXO)

 

Dulu Baekhyun bertanya-tanya, siapa gadis yang begitu baiknya menawarkan uluran tangan pada sampah semacam dirinya. Siapa gadis yang rela gaun putih tulangnya lusuh akibat terseret di genangan lumpur hanya demi merangkul tubuhnya. Siapa gadis yang terus-terusan memberi kenyamanan permanen yang begitu candu.

Bola matanya bergerak liar dalam kungkungan kantung yang begitu tebal. Terkagum akan lukisan yang menjadi kenyataan. Tak peduli akan bias cahaya yang samar-samar terpancar dari tiap gerakan tubuh si gadis. Untuk ukuran mimpi, ini terlalu nyata. Dan untuk ukuran bocah manis kelas dua yang manis belepotan ingus, pikirannya melampaui rata-rata.

Masih begitu segar dalam ingatan Baekhyun, kala gadis itu membantunya berdiri setelah tersungkur mencium aspal. Mengebaskan kain celananya yang lusuh bahkan sebelum tempurung lututnya tertekuk secara paksa. Dan saat gadis itu berbicara, Baekhyun merasa ada kehangatan yang menjalar sembarangan dalam bagian dirinya.

“Kau tak apa?”

Anggukan yang disusul tatapan heran memang bukan reaksi yang baik, terlebih bagi makhluk pertama pemberi perhatian bagi Baekhyun. Baekhyun sudah terlalu lama hidup dalam kesendirian, terisolir di kegelapan yang minim kasih sayang. Kisah klasik yang membuat telinga sakit kala mendengarnya. Ia hampir tidak peka akan perasaan lembut semacam ini karena hatinya telah retak dan rentan hancur. Dan apa ini? Siapa gadis ini? Mengapa hati Baekhyun seperti tersiram kucuran air yang membalut setiap lukanya?

“Apa kau seorang malaikat?” Konyol memang. Tapi itu hal paling dasar yang akan dirasakan siapa pun jika berada dalam posisi Baekhyun sekarang. Terkagum dalam kepolosan. Lucu sekali.

“Benar.” Entah sebuah kebohongan demi memuaskan rasa penasaran atau bagaimana, gadis itu membalas. Diiringi senyuman pula. Sudah tamatlah keingintahuan Baekhyun. Ditutup dalam malam tenang dengan tangan baru yang menggandengnya pulang ke rumah.

 
Lyan.

Begitu yang dikatakan sang gadis kala Baekhyun bertanya siapa namanya. Sebenarnya rasa penasaran Baekhyun sudah membeludak, tak hanya sebatas nama. Tapi tiap kali Lyan menoleh, menatap dirinya, seluruh rangkaian kata yang mewakili perasaannya tertelan mentah-mentah. Tak sempat dilontarkan barang sejenak.

Sejujurnya Baekhyun tak terlalu ambil pusing. Memangnya siapa yang repot-repot memikirkan hal baik yang tiba-tiba menimpa tanpa permisi? Apalagi itu semua seperti membalikkan kehidupan Baekhyun yang semula berantakan kembali dalam tatanan sewajarnya. Kesehariannya yang tak terurus mulai berbenah dengan bantuan Lyan.

Maklum, untuk anak yang tak pernah menerima pendidikan informal dalam keluarga, Baekhyun termasuk tipe bocah tak tahu aturan. Beruntung ada sebuah yayasan yang mendonaturi biaya kehidupan sekaligus sekolah Baekhyun, paling tidak Baekhyun tak mungkin kelaparan. Tapi tentu saja itu tak berpengaruh banyak pada mentalnya yang rapuh dan liar dalam saat bersamaan.

Dan Lyan dengan senang hati membantu memulihkan Baekhyun dari masa-masa suramnya. Menata kembali sedari awal apa yang amburadul. Memberikan segala perlakuan yang seharusnya Baekhyun dapatkan. Dan mengantarkan Baekhyun tumbuh dalam kasih sayang rumahan yang menyuguhkan seribu kenyamanan.

Tapi sebentar, sepertinya Baekhyun familiar dengan perasaan ini. Ia sering mendengar dari kawan sebayanya. Sosok penasihat, penata dan pemberi kenyamanan yang sering digadang-gadang teman sekolahnya. Yang dengan rajinnya membawakan bekal dengan cinta disetiap isinya –dan tentu saja Baekhyun tak pernah merasakan itu.

Kalau tidak salah namanya ibu.

Tapi bagi Baekhyun, ibu itu berbeda arti. Seseorang yang tak bisa ia definisikan secara jelas karena memang presensinya yang tak pernah nyata. Seperti kabut yang akan segera hilang ditelan gelapnya dunia. Apakah Lyan juga akan seperti itu?

“Kau tak boleh pergi dariku ya?” Ini ucapan Baekhyun kala Lyan melipat selimut lusuh di ranjang Baekhyun. Tak ada angin, tak ada hujan. Tapi mungkin ada petir yang menyambar hati Baekhyun sehingga ia begitu khawatir akan keberadaan Lyan.

Lyan sendiri hanya tersenyum hangat. Ia sangat paham dan semoga tetap terus begitu. Dua kakinya tertekuk, menyejajarkan dengan tinggi Baekhyun. “Janji.”

Ya, Baekhyun memang menantikan kepastian itu untuk membersihkan trauma dan membangun kembali jalan ceritanya yang telah berbelok tajam. Dan Lyan telah menyediakan tumpangan gratis agar Baekhyun sanggup mencapai akhir seperti yang ia inginkan.

Entah akhir seperti apa, yang jelas perjalanan Baekhyun masih jauh. Ia harus tetap berjalan untuk menemukan garis finish. Dan sepanjang alur itu ada hal yang tak pernah bisa Baekhyun pahami tentang Lyan.

Gadis itu, wajahnya, perawakannya seolah tak pernah berubah. Bahkan setelah Baekhyun meninggalkan masa kanak-kanaknya dan menduduki tingkat tiga sekolah menengah, Lyan masih tetap sama. Sama dalam segala aspek mungkin. Entahlah, hal itu kian mengganggu Baekhyun.

Baekhyun ingat benar kala pertama kali bersitatap dengan gadis itu. Melihat lekuk wajahnya saja, ia bisa memastikan jika dirinya dan Lyan terpaut belasan tahun. Apalagi mengingat usianya yang cukup muda saat pertama kali berjumpa. Tapi apa ini? Baekhyun sudah melewati belasan tahun itu, bagaimana bisa Lyan tetap sama dan tak mengalami perubahan seperti yang dialami semua orang?

Bukan hanya itu sebenarnya. Selama bertahun-tahun satu atap dengan Lyan, Baekhyun tak pernah melihat gadis itu mencicipi sesendok panganan pun. Lyan juga anti diajak pergi keluar rumah. Bahkan untuk mewakili pertemuan orang tua siswa di sekolah Baekhyun, Lyan menolak secara halus. Dan masih banyak tanda tanya lain tentang gadis itu yang belum terjawab.

“Sedang memikirkan apa?”

Suara Lyan mengagetkan Baekhyun dari tindakan termenung-di-depan-meja-makan yang sudah ia jalani sejak tadi. Padahal jam sudah menagih ketepatan waktu Baekhyun dalam menempuh perjalanan ke sekolah. Segera ia meraih peralatan makan yang tertata rapi di atas meja.

“Tidak. Tidak ada. Hanya saja aku masih memikirkanmu yang selalu saja memelototi setiap sup yang kau buat tanpa berniat memakannya.” tukas Baekhyun.

Lyan berdecak pelan. “Kan sudah kubilang, aku ini tak sama denganmu, Baek. Aku ini Night Angel, bukankah sudah kuterangkan berulang kali. Kekuatanku bukan berasal dari makanan, tapi..”

“Baik, baik. Terserah katamu.” potong Baekhyun acuh.

Sebenarnya pertanyaan yang berkemelut dalam benak Baekhyun tak sepenuhnya tak terjawab. Lyan sudah menjelaskan hingga Baekhyun sendiri risih mendengarnya. Memangnya ada hal seperti itu selain bualan belaka? Dongeng mana yang Lyan adaptasi untuk membodohi Baekhyun? Tentang malaikat dan segala kekuatannya, Baekhyun pernah membaca di buku kumpulan cerita pengantar tidur dulu.

“Baekhyun aku, cepat atau lambat harus segera pergi dari sisimu. Sesuai perjanjian yang kubuat dengan Dewa Langit bahwa setelah menyudahi masa kelammu, aku akan kembali.” lanjut Lyan yang seolah tak peduli dengan pikiran Baekhyun yang berkecamuk.

“Lyan kumohon, aku bukan pada usia untuk mendengarkan dongeng semacam ini. Dan untuk kepergian yang selalu kau bicarakan tiap kali kita berdebat, tahanlah dulu. Kau tak boleh pergi sebelum aku membalas semua perlakuanmu.” Baekhyun membuang napas berat. “Tabunganku masih belum cukup untuk membiayai kepulanganmu yang entah kemana itu.”

Kerutan samar menyembul di dahi Lyan. Ia ingin membalas ucapan Baekhyun, menjelaskan kembali sampai pria itu benar-benar paham dan berhenti bersikap tak peduli seperti ini. Namun melihat rupa itu lagi, menatap wajah Baekhyun lagi membuat Lyan bungkam dan gagal menyuarakan isi hatinya.

“Terima kasih untuk makanannya.” Sesi makan ditutup dengan dentingan piring dan alat makan milik Baekhyun lainnya. Ia lekas mendorong kursinya mundur dan bersiap untuk bangkit. “Satu lagi, aku mungkin akan pulang malam. Ada pertemuan orang tua yang harus kuhadiri ditengah kesibukan anak kelas tiga yang akan segera lulus. Jangan tunggu aku.”

Percakapan pagi itu berakhir dengan sedikit canggung karena Baekhyun lebih dulu keluar dari pintu utama. Meninggalkan Lyan yang tertunduk lesu di depan meja makan. Seharusnya gadis itu bisa memprediksi akan ada saat seperti ini dimana Baekhyun menjadi sulit diberi pengertian dan berkeras hati.

Baekhyun sendiri melangkah gontai setelah meninggalkan setapak tempat kediamannya. Ingatannya berantakan, meski pun begitu pertemuan pertamanya dengan Lyan sangat tergambar jelas. Bahkan perasaan yang Baekhyun miliki kala Lyan memasuki kehidupannya untuk pertama kali, masih teringat meski pun sudah tak begitu lagi baginya.

Lyan bukan lagi figur seorang ibu yang Baekhyun idamkan.

Ia sudah menerima berbagai definisi akan keluarga dan anggota yang menjadi bagiannya. Benar memang Lyan memberikan kenyamanan yang Baekhyun tunggu-tunggu. Ia juga yang menemani Baekhyun berkembang dalam kasih sayang. Tapi bukan berarti Lyan menduduki posisi ibunya. Apalagi setelah Baekhyun mengetahui keberadaan ibu kandungnya dan mengapa beliau meninggalkan dirinya. Lagi-lagi alasan klasik, penyakit mematikan yang merenggut nyawa sang ibu bahkan sebelum sempat menjalani hidup bersama Baekhyun.

Lalu apa arti Lyan sekarang bagi Baekhyun? Seorang asing berkelakuan cukup aneh dan suka menghayal yang menumpang di rumahnya. Tidak, Baekhyun tak sekejam itu. Hanya saja ia tak bisa memahami dan mengartikan secara pasti apa yang dirasakannya sekarang. Sebuah perasaan baru yang lagi-lagi ditumbuhkan oleh gadis itu.

Ia pernah mendengar dari Chanyeol kalau sahabatnya itu juga sering sekali merasakan hal ini kala bersitegang dengan kakak perempuannya. Bahkan Chanyeol pernah membanting piring makan dan menutup pintu dengan sangat keras saking kesalnya. Ya meski pun Baekhyun tak sampai begitu, referensi pengalaman teman karibnya mungkin meredakan rasa penasarannya lagi.

Pemikiran Baekhyun berhenti pada sebuah kesimpulan, bahwa Lyan sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Seperti saudara-saudara kebanyakan yang sering berdebat hanya karena barang sepele, Baekhyun juga begitu. Mengesampingkan kelakuan aneh Lyan, mereka terlihat serasi sebagai adik-kakak –dan Baekhyun juga berpikir jika wajah mereka berdua hampir sama jika dilihat-lihat.

Untuk benar atau tidaknya, Baekhyun juga tak tahu. Meski pun selama ini hatinya telah pulih karena terbalut dalam kasih sayang, namun saraf pengenalan perasaannya masih belum begitu peka dengan perasaan baru yang mendatanginya. Ia tidak ingin terlalu mempercayai hatinya, tapi yang bisa diandalkan dalam mendeteksi hal ini hanya kalbunya saja.

 

Jadi seiring waktu berlalu, Baekhyun berusaha menyimpan penjelasan akan perasaannya itu baik-baik. Sehingga jika ada getaran aneh kala Lyan mengelus puncak kepalanya atau tersenyum padanya, Baekhyun dengan segera menampik dengan keyakinannya itu.

Tak hanya sekali dua kali memang. Hingga Baekhyun telah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan kala mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, frekuensi datangnya perasaan aneh itu semakin sering. Membuat Baekhyun kadang merasa dipermainkan oleh bagian dalam dirinya dan tak memiliki cara untuk menghentikannya.

“Ini handuknya.” Suara Lyan terdengar diambang pintu kamar mandi, kala Baekhyun masih merenung di depan wastafel. Lengannya terulur dengan sebuah kain tebal putih yang sebentar lagi akan membasuh bulir air di dahi Baekhyun.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, ada waktu ‘kan?” tanya Lyan.

Gerakan Baekhyun terhenti sejenak, pria itu membuang pandang. Tak ada niatan untuk membalas pandangan Lyan. “Aku juga, ada yang akan kukatakan padamu.” Benar bibir Baekhyun berucap, tapi tumpuan matanya melayang entah kemana. Berpaling dari lawan bicara yang setia mengamati dirinya.

Keduanya beralih menuju tempat yang memiliki spasi lebih luas. Meninggalkan ruangan lembab yang berada dalam rangkaian kamar tidur Baekhyun –tentu saja dengan pria itu yang mengawali langkahnya, menuntun Lyan. Bermuara pada bilik yang menjadi kawan malam Baekhyun. Pria itu menyudahi aktivitasnya mengusap wajah dan menghempaskan diri diatas ranjang.

“Baekhyun.” Hati-hati, Lyan membuka konversasi dengan pria yang masih acuh pada posisi berbaringnya. Takut jika Baekhyun tiba-tiba membentak dan mengusirnya seperti hari-hari sebelumnya karena mengangkat topik yang sama berulang-ulang.

“Tolong jangan bahas tentang kepergianmu yang tak masuk akal itu. Aku muak”

Lihat? Belum sempat si gadis melanjutkan kalimatnya, sudah dihentikan seenaknya saja. Beruntung Lyan sudah terlatih menghadapi Baekhyun yang entah kenapa semakin sensitif, tempramental dan tak segan melantunkan nada tinggi bahkan untuk hal-hal kecil yang ia lakukan.

“Aku sudah menunda kepulangku bertahun-tahun, hanya untuk melihatmu menggapai keinginanmu. Aku tak pernah menyesalinya. Tapi ini mungkin sudah lebih dari cukup. Kau orang hebat sekarang, itu berarti tugasku telah usai.”

Bukan maksud Baekhyun untuk terus berlagak keras kepala. Selama ia tinggal dengan Lyan, selama itu pula Baekhyun memaksa otaknya untuk mencerna segala hal yang melekat pada gadis itu. Segala ketidakwajaran yang perlahan ia sadari dan diakui secara langsung oleh sang empunya, terkadang Baekhyun sulit sekali menerimanya. Membuat ia setengah gila menterjemahkannya.

“Kalau sakit Lyan. Istirahatlah.”

“Baekhyun!” Hembusan napas berat yang sarat akan kekecewaan menjajaki raut Lyan. Ada sesuatu yang amat berat dan kini membuat batin gadis itu mencelos

“Aku tahu kau mencoba menutup mata. Aku tahu kau mengerti segalanya namun mencoba tak peduli.  Kau benar, aku berbeda denganmu. Aku tak bisa menikmati hidup layaknya manusia.” jelas Lyan diiringi gelengan samar. “Karena aku memang bukan bagian dari mereka.”

Kalau ingin jujur, mungkin Lyan akan tersungkur dengan dua tungkainya yang gemetar. Gadis itu sering bertanya mengapa Sang Pencipta memberikan perasaan yang jauh diatas kemampuan milik para manusia padanya? Sehingga jika tergores duri kecil saja, menjalarnya begitu cepat dan efeknya tak tanggung-tanggung.

Seperti saat ini, dimana pria yang menjadi manusia pertama terdekat bagi Lyan tengah meruntuhkan segala kepercayaan miliknya. Apa sesulit itu untuk mempercayai hal fantasia yang memang benar-benar ada? Hingga mengubah Baekhyun menjadi sosok yang tak pernah ia kenali sebelumnya. Pria kecil yang dulu begitu polos dan tulus, kemana dia pergi?

Lyan tak ingin menangis untuk hal ini. Tapi harus bagaimana lagi kala bulir bening itu menuruni lekuk rupanya?  Membasahi tak hanya fisik nyatanya namun juga perasaan yang jauh terpendam dalam dirinya.

Sebuah gerakan refleks tecipta tanpa aba-aba. Lengan berat yang selama ini berperan sebagai penjaga setia Lyan tersampir merangkul tubuhnya. Sedikit tersentak, Lyan hanya sanggup menyusuri aroma Baekhyun yang selalu menenangkan. Tanpa berniat berontak atau pun membalasnya.

“Tahu mengapa aku tak bisa melepasmu hingga saat ini?” Lyan merasa ulu hatinya terasa nyeri, seolah ucapan Baekhyun sebuah bilah bersisi tajam yang sanggup mengelupas organ miliknya. “Salahkan perasaanku yang tumpul hingga tak mampu mengartikan semuanya dengan benar. Aku bahkan tak sanggup memahami hal yang menjadi bagian hidupmu. Kau benar, aku mencoba membutakan diriku karenamu.”
Ada kekosongan sejenak yang didominasi oleh derap napas masing-masing.

“Aku menyukaimu, Lyan.” Namun berhasil dihentikan oleh bariton lembut yang mendebarkan jantung Lyan. Ini memang bukan kali pertama rusuknya terasa sesak semacam hendak meledak akibat perlakuan Baekhyun. Tapi Lyan sadar tak seharusnya ia memiliki perasaan semacam itu. Ada pembatas yang memagari status keduanya secara jelas.

 “Tidak, kau tak bisa.” Bahu Baekhyun terdorong beberap inci kebelakang. Menciptakan jarak diantara keduanya atas kehendak Lyan. “Kau tak boleh memiliki perasaan lebih terhadapku, Baek. Begitu juga denganku. Karena itu sudah menyalahi aturan langit dan menyimpang dari tujuanku semula. Aku Night Angel dan kau manusia, kasih Eros adalah hal yang dilarang diantara kita. Jadi tolong buang perasaanmu itu.”

Semua berdasarkan kenyataan. Apa yang dikatakan Lyan, gadis itu tak mengada-ada karena ia hanya berbicara berdasarkan fakta. Meski pun itu berarti ia harus melawan perasaannya sendiri dan menolak menyadari hal yang diam-diam bertumbuh sejak lama. Sadar atau tidak, ada gejolak besar yang bergelora hebat dalam batin si gadis.

“Kau hanya perlu bersamaku Lyan.” Seandainya saja semua terjadi semudah kalimat itu menguar, maka Lyan tak perlu repot-repot mematuhi segala aturan yang bahkan tak secara jelas tertulis. Ucapan Baekhyun terasa begitu nyata dan fana disaat yang bersamaan. Mengantarkan Lyan dalam jurang kebimbangan.

“Jangan mengada-ada Baek. Semakin kau mendekat padaku, semakin dalam luka yang akan kau terima. Jadi berhentilah selagi belum terlambat.” bantah sang gadis. Kesadaran akan keadaan masih sangat mendominasi dalam dirinya.

“Bukankah kau juga merasakannya? Hal menyesakkan yang menggedor barisan rusukmu serasa hampir meledak? Kau tak bisa terus menutupinya.”

Benar memang. Itulah yang dirasakan Lyan sejak awal. Dan dengan perlakuan Baekhyun yang begitu mengintimidasi semakin membuatnya tak nyaman. Tatapannya yang mengunci setiap sendi Lyan. Juga bekas rangkulan lengannya yang masih terasa hangat di bahu. Sial!

“Tak ada yang kututup-tutupi. Berhenti bersikap seolah kau mengetahui segala tentangku. Kita tak pernah ditakdirkan bersama sejak awal. ” ujar Lyan meluncurkan senjata terakhirnya. Dan jika dengan gertakan mengusir ini Baekhyun tak kunjung melakukan gencatan senjata, mungkin Lyan harus siap mengibarkan bendera putih karena jantungnya sudah bekerja tak normal.

“Bahkan ketika aku begitu dekat seperti ini, kau tak merasakan apa pun?”

 Percaya atau tidak, Lyan kini sanggup merasakan helaan lembut yang mengalir dari saluran pernapasan Baekhyun. Pria itu secara berani memangkas ruang kosong diantara mereka tanpa persetujuan lanjutan dari Lyan.

Orang bilang, mencintai membutuhkan kesedian kedua belah pihak untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Ibarat bertepuk tangan yang tak bisa tercipta jika hanya satu telapak saja yang tersedia, cinta juga begitu. Tak ada kebetulan dalam sebuah kejadian. Semua telah direncanakan sejak awal meski pun tak disadari oleh masing-masing pribadi.

Kau benar, sedari awal aku telah menjanjikan hal yang mustahil

Termasuk ending yang akan menutup kisah cerita tersebut. Kecupan hangat menjadi segel abadi yang mungkin akan mengakhiri mimpi berkepanjangan ini dengan indah. Entahlah, apa akan tamat dengan kebahagian diiringi tangis haru atau hanya terbungkus dalam ketragisan yang sarat akan hal-hal pedih.

Aku akan pergi meninggalkanmu pada akhirnya.

“Baek, maaf karena tak bisa menepati janji yang telah kubuat.”

Dulu Baekhyun bertanya-tanya, siapa gadis yang begitu baiknya menawarkan uluran tangan pada sampah semacam dirinya. Siapa gadis yang rela gaun puting tulangnya lusuh akibat terseret di genangan lumpur hanya demi merangkul tubuhnya. Siapa gadis yang terus-terusan memberi kenyamanan permanen yang begitu candu.

Dan sekarang ia tahu siapa gadis itu. Keindahannya yang tak akan lekang dimakan waktu. Keiistimewaannya yang lambat Baekhyun sadari. Ketulusannya yang tak akan Baekhyun dapati pada insan mana pun. Kehangatannya yang ingin Baekhyun abadikan selamanya.

Termasuk keberadaannya yang kini pudar dalam kepingan cahaya, hendak tertelan malam. Semua terasa begitu gelap, sang raja malam turun dari tahtanya. Ikut tenggelam dalam lautan kelam untuk menyembunyikan jati dirinya.

Namun saat Baekhyun terisak karena sang gadis yang tinggal bayangan semu, cahaya angkasa malam kembali terbentuk. Kembali terwujud dalam kegagahan rembulan. Dan entah kenapa Baekhyun merasa Lyan berteleportasi ke tempat yang jauh serta tinggi namun masih saja terasa dekat.

Karena saat malaikat malam meruntuhkan kerajaannya, dimana berimbas pada cahaya bulan yang tertelan kegelapan malam. Disitulah terang yang bersinar dalam dirinya akan mengganti puing-puing kerajaan yang musnah, untuk membangun kembali kejayaan sang purnama yang sempat padam.

 

It’s my sad story that cannot be fulfilled
the closer I get the stronger the pain will get.

 

 

Fin.

 

 

Author’s note!

Thanks’ for all admin and readers who kindly read and (maybe) post this unworthread story! Maaf jika ada typo dan salah ejaan. Semoga bisa meramaikan event di BFFI! ^^

pat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s