Baekhyun’s Diary: The Strong Leader

Baekhyun’s Diary: The Strong Leader

sohu

zulfhania || Baekhyun and member of EXO || Leader Suho! || G || 3,9k words

Also posted in here

a/n: Fanfic ini kubuat ketika beredarnya rumor hengkangnya Lay dan Tao dari EXO

.

Ketika Baekhyun melihat Suho menangis mendengar kabar hengkangnya para member EXO

.

.

Kalian tahu hal apa yang paling menyedihkan sekaligus menyakitkan bagiku setelah bergabung di EXO?

Sebelumnya, aku ingin menceritakan suatu hal pada kalian bahwa aku sangat mengagumi sosok Kim Junmyeon (mungkin kalian lebih mengenalnya dengan nama Suho). Bagiku, dia tidak hanyalah seorang leader, melainkan seorang kakak. Seorang kakak yang mampu menjaga dan melindungi kesebelas adiknya. Aku tahu benar, Junmyeon hyung bukanlah yang tertua di grup ini. Ada Minseok hyung (mungkin kalian lebih mengenalnya dengan nama Xiumin), Kris hyung, Luhan hyung, dan Lay hyung yang berusia lebih tua dari Junmyeon hyung. Namun, entah kenapa, aku tetap melihat Junmyeon hyung adalah kakak mereka. Kurasa, Junmyeon hyung lebih bersikap dewasa dibandingkan mereka. Selalu ada nasihat serta keputusan yang benar yang diucapkan Junmyeon hyung kepada kami bersebelas. Kesabarannya dalam menghadapi kami adalah salah satu dari sekian sikap yang sangat kukagumi dari seorang Kim Junmyeon.

Baiklah, aku mengaku. Tidak jarang aku mengabaikan segala sikap baiknya padaku. Tidak jarang aku mengacuhkan setiap perkataannya. Tidak jarang aku tidak mendengarkan perkataannya. Aku sungguh adalah seorang adik yang nakal untuknya. Tetapi sungguh, jauh dari dalam hatiku, aku sangat menyayanginya. Aku sangat mengagumi sosoknya. Sosok seorang pemimpin yang amat sangat kukagumi.

Kalian tahu? Junmyeon hyung benar-benar lelaki yang berjiwa lembut. Hatinya seputih kapas. Bersih. Mungkin itu yang menyebabkan dia menjadi leader kami. Walaupun dia tidak begitu tegas di hadapan kami, tetapi sesungguhnya dialah sosok leader yang sebenarnya.

Junmyeong hyung tidak pernah menangis. Oh, baiklah, kuralat. Setiap manusia pernah menangis. Dan tentu saja Junmyeon hyung juga pernah menangis. Hanya saja, Junmyeon hyung tidak pernah menangis di depan kami. Junmyeon hyung selalu menyembunyikan airmatanya dari kami. Dia tidak ingin kami melihatnya menangis. Maka dari itu, kami tidak pernah melihat Junmyeon hyung menangis.

Tetapi awal tahun 2014 lalu, aku melihatnya.

Aku masih ingat dengan malam itu. Malam dimana untuk pertama kalinya slogan grup kami tampak goyah. ‘We are one’, tampak berbeda makna setelah malam itu. Karena pada hari itu, kami mendengar kabar kalau Kris hyung akan hengkang dari grup EXO.

Kami baru saja melakukan promosi comeback kami dengan lagu Overdose di salah satu stasiun televisi. Kris hyung memang tidak bersama kami ketika itu. Sudah berminggu-minggu yang lalu Kris hyung tidak kembali ke Korea. Kris hyung pergi tanpa pamit dengan kami, tetapi kami semua menduga dia pulang ke kampung halamannya di China karena rindu dengan ibunya. Dulu, Kris hyung juga pernah menghilang tiba-tiba dan mengabari kalau ternyata dia ada di kampung halamannya untuk bertemu kangen dengan ibunya. Walaupun kali ini Kris hyung tidak mengabari kami, tetapi kami yakin kalau Kris hyung sedang berada di China.

Saat kami dalam perjalanan pulang menuju dorm, aku ingat hari itu masih senja, matahari di ufuk barat tampak akan terbenam memberikan semburat senja yang begitu indah di langit, manajer hyung mendapatkan telepon dari staf entertainment. Sungguh, sore itu kami sedang lelah setelah pulang dari promosi kami, kami benar-benar ingin istirahat dengan tenang, lalu tiba-tiba saja manajer hyung mendapat panggilan untuk menyuruh kami ke gedung entertainment.

Manajer hyung tidak memberitahu kami apa yang terjadi. Kami dibuat penasaran olehnya, tetapi aku tahu kalau sebenarnya manajer hyung sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja manajer hyung tidak mau memberitahu kami tentang kabar itu di dalam perjalanan. Akhirnya begitu tiba di gedung entertainment, kami baru diberitahu kalau Kris hyung mengajukan surat pembatalan kontrak bersama entertainment kami. Kris hyung ingin meninggalkan SM dan juga… EXO—kami.

Sudah sepantasnya Junmyeon hyung kecewa. Ditambah lagi Kris hyung sama sekali tidak memberikan alasan kepada kami mengapa dia memutuskan untuk membatalkan kontrak. Perasaanku pun tak kalah kacaunya dengan Junmyeon hyung saat itu. Kami semua benar-benar dilanda kesedihan yang teramat sangat. Bahkan beberapa di antara kami ada yang menangis, tak rela dengan keputusan Kris hyung. Tetapi Junmyeon hyung dapat menyembunyikan dengan baik perasaan kecewanya saat itu.

Saat itu. Garisbawahi perkataanku. Hanya saat itu.

Karena esok harinya, Junmyeon hyung tampak berubah.

Aku tidak ingin menjelaskan dengan detil perubahan apa yang terjadi pada Junmyeon hyung. Yang jelas adalah saat esok harinya kami kembali melakukan promosi comeback kami, Junmyeon hyung mengutarakan perasaannya pada Kris hyung lewat media untuk meminta maaf kepada kami dan entertainment karena menganggap tindakan Kris hyung sama sekali tidak bertanggungjawab. Ditambah Kris hyung adalah leader dari subgrup EXO-M jadi tidak sepantasnya dia meninggalkan EXO. Aku mengerti kalau Junmyeon hyung menginginkan EXO tetap utuh. Aku tidak menyalahkan pernyataan yang diucapkan Junmyeon hyung, karena hal itu ada benarnya. Tetapi tak sedikit netizen yang menganggap itu berlebihan sehingga menimbulkan pro dan kontra yang membuat nama EXO semakin heboh dibicarakan.

Tetapi sebenarnya, bukan itulah yang ingin kusampaikan pada kalian. Bukan berita itu. Lupakan berita-berita tentang Kris hyung yang meninggalkan kami tanpa alasan, aku tidak ingin membuka luka lama itu yang akan membuatku kembali bersedih. Sungguh, aku tidak ingin menyampaikan hal itu pada kalian.

Karena aku ingin kalian melihat Junmyeon hyung.

Tahukah kalian? Sore itu, setelah kami mendapat kabar kalau Kris hyung akan hengkang dari EXO dan tak sedikit dari kami yang merasa sedih dan kecewa, setelah Junmyeon hyung menyuruh kami untuk istirahat karena esok hari kami masih harus melakukan promosi comeback kami, Junmyeon hyung sama sekali tidak menangis. Aku tahu Junmyeon hyung pasti kecewa, tetapi ia dapat menyembunyikan perasaannya dengan begitu baik dan malah menyuruh kami untuk istirahat.

Tetapi tahukah kalian apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu? Pada malam yang menyesakkan itu, di tengah dinginnya malam, di tengah suara dengkuran tidur malam kami, Junmyeon hyung sama sekali tidak istirahat. Junmyeon hyung tetap terjaga malam itu. Duduk di bingkai jendela dorm sambil memandang langit. Memikirkan Kris hyung.

Mengapa aku bisa tahu? Karena aku juga terjaga pada malam itu.

Sebenarnya aku hanya terbangun pada tengah malam hari untuk ke kamar kecil. Namun begitu aku keluar dari kamar, aku melihat Junmyeon hyung duduk memeluk lutut di bingkai jendela. Memandang keluar jendela dengan tatapan tanpa ekspresi.

Junmyeon hyung tidak menyadari keberadaanku. Bahkan ketika aku masuk hingga keluar dari kamar mandi, Junmyeon hyung masih tidak menyadari keberadaanku. Leader kami itu masih duduk terpaku dengan mata memandang ke gelapnya langit malam.

“Kau adalah galaksi kami.”

Aku mendengar suara lirih Junmyeon hyung ketika aku hendak masuk kembali ke dalam kamar. Membuatku urung melangkah dan kembali memperhatikan Junmyeon hyung dari kejauhan.

“Jangan pergi, Kris. We are one.”

Aku tertegun. Aku terpaku di depan pintu kamarku sambil menatap lurus wajah Junmyeon hyung dari kejauhan. Aku tidak salah lihat. Untuk pertama kalinya, aku melihat Junmyeon hyung menangis.

Airmata itu mengalir pelan. Dari pelupuk mata yang berusaha keras mempertahankan pertahanannya, mengalir ke bawah, melewati permukaan wajah Junmyeon hyung yang tampak menahan guratan kesedihan dan kekecewaan, berhenti di dagu, kemudian menetes jatuh membasahi kaos yang dikenakannya. Junmyeon hyung menangis, tanpa isakan.

Aku tak pernah melihat Junmyeon hyung menangis. Dan malam ini, begitu melihat Junmyeon hyung menangis karena Kris hyung, bagiku itu benar-benar terlihat amat menyakitkan dibandingkan apapun.

Aku tidak pergi menegurnya. Tetapi aku juga tidak pergi meninggalkannya. Aku hanya berdiri di depan kamarku, menemaninya dalam kejauhan hingga matahari kembali terbit. Kami terjaga bersama, walau dipisahkan oleh jarak.

Tidak ada yang tahu kalau Junmyeon hyung menangis semalaman, bahkan tidak ada yang tahu kalau Junmyeon hyung tidak tertidur. Tentu saja, kecuali aku. Maka ketika pagi harinya teman-temanku bertanya pada Junmyeon hyung akan wajahnya yang tampak lelah dan matanya yang bengkak, Junmyeon hyung hanya tersenyum menenangkan dan menyuruh kami untuk segera bersiap-siap.

Sesungguhnya aku ingin sekali berteriak dan menyuruh Junmyeon hyung untuk tidak berpura-pura kuat. Bukan hanya Junmyeon hyung yang merasakan sakit, melainkan kami juga, seharusnya Junmyeon hyung berbagi pada kami. Tetapi Junmyeon hyung sama sekali tidak ingin melakukan hal tersebut. Yang Junmyeon hyung lakukan hanyalah menguatkan kami, menguatkan kami, dan menguatkan kami. Sadarkah kalian akan kelembutan hati seorang leader kami?

Kalian tahu, itu terjadi tidak hanya sekali untuk kami. Beberapa bulan kemudian, setelah Kris hyung benar-benar hengkang dari EXO, Luhan hyung yang mengajukan surat pembatalan kontrak terhadap entertainment. Belum cukup membuat kami kehilangan Kris hyung, kini Luhan hyung yang pergi meninggalkan kami.

Ada airmata lagi yang mengalir dari pelupuk mata Junmyeon hyung. Kembali, Junmyeon hyung duduk memeluk lutut di bingkai jendela dorm kami sambil memandang keluar jendela, memandang gelapnya langit malam. Terjaga semalaman, dengan airmata yang menemani kedua belah pipinya.

Malam itu aku juga tidak terjaga. Aku menemani Junmyeon hyung, lagi-lagi dalam kejauhan. Aku tidak akan pernah berani mendekatinya. Aku tidak ingin mengacaukan renungan malamnya. Aku tahu banyak hal yang sedang dipikirkannya malam itu dan ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Maka dari itu, meskipun aku tak bisa mendekatinya ataupun menemaninya sambil memeluknya, aku dapat menemaninya dalam kejauhan. Setidaknya Junmyeon hyung tidak terjaga sendirian. Setidaknya Junmyeon hyung tidak menangis sendirian.

Malam itu, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Junmyeon hyung. Leader kami sempurna terdiam. Hanya matanya yang berbicara. Hanya matanya yang mengungkapkan semuanya. Airmata itu mengalir dengan begitu sempurna. Meninggalkan jejak kesedihan dan kekecewaan di kedua belah pipinya.

Untuk yang kedua kalinya, kami ditinggalkan.

Aku tahu, ini adalah hal terberat yang pernah kami lalui setelah debut kami. Tetapi aku lebih tahu, untuk Kim Junmyeon sebagai seorang leader merupakan tanggungan yang amat sangat berat. Setiap pertanyaan mengenai kedua member kami yang sudah hengkang selalu ditujukan pada leader dan membuat leader kami selalu saja membahas mereka berdua. Meskipun bibir Junmyeon hyung tersenyum saat menjawab setiap pertanyaan yang ditujukan padanya, tetapi aku tahu benar kalau sebenarnya ia menangis. Aku tahu kalau Junmyeon hyung menangis di dalam hati.

Dan setiap kali aku melihat Junmyeon hyung berpura-pura kuat, aku merasakan sakit. Benar-benar menyakitkan.

“Baek, kenapa kau melamun?”

Aku terkejut begitu Junmyeon hyung tiba-tiba saja menegurku. Aku seakan tertangkap basah sedang memperhatikannya.

“Apa yang sedang kaupikirkan?”

‘Aku memikirkanmu, hyung.’ jawabku. Sayangnya, aku hanya menjawab di dalam hati.

“Tidak apa-apa, hyung. Aku hanya merasa gugup karena sebentar lagi adalah tahun ketiga kita setelah debut.”

Ya. Benar. Beberapa minggu lagi adalah tahun ketiga kami seraya kami akan melakukan comeback kami dengan lagu Call Me Baby. Sudah beberapa bulan berlalu setelah kami ditinggalkan oleh Kris hyung dan Luhan hyung. Semua itu kini hanyalah tinggal kenangan. Kami tidak perlu terus berlarut dalam masa lalu yang menyesakkan dan menyedihkan. Kini saatnya membuka lembar baru, dengan formasi kami yang baru: 10 member.

Terkadang memang aku masih merasa sedih mengingat awal formasi kami yang berduabelas kini hanya tinggal sepuluh untuk menyambut tahun ketiga kami. Tahun lalu, kami masih merayakannya berduabelas orang, lengkap, seperti slogan kami ‘We are one’. Tak terasa waktu berlalu cepat dan kami kini akan merayakan tahun ketiga kami dengan sepuluh member. Tetapi sekali lagi, semua ini kini hanyalah tinggal kenangan. Yang berlalu biarlah berlalu. Kami harus tetap berdiri meskipun hanya bersepuluh.

“Cepat sekali ya, ternyata sudah hampir tiga tahun saja.” kata Junmyeon hyung dengan suara mengambang, seperti suara desau angin.

Aku menoleh padanya dan menemukan wajahnya yang tampak kelelahan.

“Tampaknya kau butuh istirahat, hyung.”

Junmyeon hyung tidak menyahut. Ia malah menundukkan kepala, memandang sepatunya.

“Tadi malam aku bermimpi.”

Aku menunggu kelanjutan kalimat Junmyeon hyung, tetapi leader kami itu sama sekali tidak melanjutkan kalimatnya hingga akhirnya dia berdiri dan menoleh ke arahku dengan senyum getir di bibirnya.

“Ayo kembali latihan, Baekhyun~a!”

Junmyeon hyung tidak pernah memberitahuku apa yang dimimpikannya saat itu. Aku benar-benar dibuat penasaran olehnya. Bahkan aku sampai menebak-nebak kira-kira apa yang dimimpikan Junmyeon hyung hingga membuat leader kami itu tampak tertekan dan tak jadi memberitahukannya padaku. Mungkinkah ada hubungannya dengan Kris hyung dan Luhan hyung?

Suatu hari, beberapa hari sebelum kami comeback stage dengan lagu baru kami Call Me Baby, kami bersepuluh makan malam bersama tanpa manajer di dalam dorm kami. Khusus malam ini, Junmyeon hyung memesan banyak makanan dan membayarnya sendiri dengan kartu ATM-nya. Malam itu dipenuhi oleh canda dan tawa yang sudah lama sekali tidak kami lakukan semenjak hengkangnya Kris hyung dan Luhan hyung. Setelah makan, kami menonton film bersama. Kami benar-benar menghabiskan waktu kami bersama hingga akhirnya kami kelelahan dan tertidur.

Ketika aku terbangun karena mendadak ingin ke kamar kecil (ya, ya, ini sudah menjadi kebiasaanku bangun tengah malam untuk ke kamar kecil, jadi kalian tidak perlu heran), aku mendengar suara orang berbicara di balkon dorm kami. Aku berjalan mendekat dan menemukan Junmyeon hyung sedang bersama Lay hyung di luar sana.

Sebenarnya aku tidak berniat menguping, namun begitu aku mendengar nama Kris hyung dan Luhan hyung disebut, mau tak mau aku mengambil posisi untuk mencuri dengar.

“Kau akan tetap disini kan, Lay? Bersama kami?” tanya Junmyeon hyung.

“Kau tak perlu bertanya seperti itu, Junmyeon. Tentu saja aku akan tetap disini. Aku tidak akan meninggalkan kalian.” jawab Lay hyung.

“Berjanjilah kalau kau tidak akan mengikuti jejak Kris dan Luhan hyung.”

“Aku janji, Junmyeon. Banyak yang lebih muda dariku disini, jadi aku tidak akan meninggalkan adik-adikku. Aku memiliki tanggungjawab untuk tetap berada disini.”

“Terimakasih, Lay. Aku memegang janjimu.”

Kemudian aku melihat Junmyeon hyung dan Lay hyung berpelukan. Sedikit informasi, aku melihat mata Junmyeon hyung yang berkaca-kaca sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan mereka karena aku benar-benar sudah tidak tahan menahan hasrat untuk ke kamar mandi.

Beberapa hari setelah kami melakukan comeback stage dengan lagu baru kami, Tao pulang ke kampung halamannya di China untuk memulihkan kakinya yang cidera. Lay hyung juga pulang ke China untuk menjalani proses syuting film yang ditawarkan padanya. Untuk beberapa penampilan, kami hanya berformasi delapan orang tanpa Tao dan Lay hyung. Dan tampaknya, itulah awal mula masalah kembali datang kepada kami.

Beberapa minggu sebelum comeback stage, Junmyeon hyung pernah hampir menceritakan padaku apa yang dia mimpikan. Awalnya, aku berpikir semua ini ada hubungannya dengan Kris hyung dan Luhan hyung. Namun ternyata, setelah kejadian yang menimpa kami setelah kami comeback beredar di internet, aku baru menyadari kalau dari awal Junmyeon hyung sudah memiiki bahwa feeling ini akan terjadi.

Karena Junmyeon hyung bermimpi, Tao dan Lay hyung akan hengkang dari EXO.

Ya. Itulah berita yang saat ini beredar di internet beberapa minggu setelah kami comeback stage dengan lagu baru kami, persis seperti apa yang dimimpikan Junmyeon hyung tempo lalu (aku baru diberitahu oleh Junmyeon hyung beberapa hari setelah berita itu beredar di internet). Pada awalnya, tidak ada berita seperti itu. Namun begitu sebuah media di internet menampilkan artikel tentang ayah Tao yang menginginkan Tao keluar dari grup kami, semuanya berubah. Kabar miring itu kembali mengaitkan masa lalu.

Masa lalu yang kini hanya tinggal kenangan. Masa lalu yang hendak kami lupakan. Tetapi kini aku baru tersadar, bahwa kisah masa lalu yang ingin kami lupakan itu akan terus membayangi kami.

Berbagai macam berita lainnya muncul di internet, mulai dari Tao yang setuju untuk keluar dari EXO, hingga Lay hyung yang juga akan meninggalkan kami. Aku tidak tahu apakah aku harus percaya pada berita-berita itu atau tidak. Pihak entertainment menyuruh kami untuk tidak mempedulikan (biarkan ini menjadi urusan dari pihak entertainment) dan tetap menjalani aktivitas kami menjalani syuting, promosi, dan lainnya.

Tetapi tampaknya Junmyeon hyung tidak bisa untuk tidak mempedulikannya.

Suatu hari aku melihat Junmyeon hyung berkutat dengan gadget-nya, meminta kabar dari Tao maupun Lay hyung. Sayangnya, keduanya tidak merespon. Dan hal tersebut benar-benar membuat Junmyeon hyung frustasi. Untuk pertama kalinya, Junmyeon hyung menunjukkan rasa frustasinya di depan kami. Bukan hanya aku. Melainkan di depan kami semua—EXO.

Chanyeol berkali-kali menenangkan Junmyeon hyung untuk tidak perlu terlalu dipikirkan. Tetapi hal tersebut malah membuat Junmyeon hyung marah dan berada di luar kendali. Leader kami itu membentak, berteriak, dan bahkan hampir saja menangis saat membalas Chanyeol. Untuk yang pertama kalinya, setelah tiga tahun kami debut, Junmyeon hyung tidak dapat mengontrol dirinya di depan kami.

Untuk pertama kalinya, Junmyeon hyung tampak rapuh di depan kami semua.

Dan kami semua hanya bisa terpaku dengan wajah pucat pasi.

Kalau kalian masih mengingat pertanyaan awalku, maka aku akan menjawabnya sekarang.

Kalian tahu hal apa yang paling menyedihkan sekaligus menyakitkan bagiku setelah bergabung di EXO?

Yaitu adalah saat melihat Junmyeon hyung seperti ini. Membentak, berteriak, menangis, dan kehilangan kontrol di depan kami, karena mendengar kabar hengkangnya Tao dan Lay hyung, setelah dua mantan member lainnya (Kris hyung dan Luhan hyung) meninggalkan kami.

Aku seperti merasa kehilangan sosok leader yang kukagumi.

Dadaku berdebar, tubuhku lemas, dan aku hampir saja menangis saat melihat Junmyeon hyung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamar setelah mengamuk di depan kami. Kami sama-sama tidak berkata apa-apa setelah Junmyeon hyung masuk ke dalam kamar. Bahkan hingga malam harinya, Junmyeon hyung sama sekali tidak keluar kamar, membuat Sehun–teman sekamar Junmyeon hyung– harus tidur di ruang tengah.

Aku dan Chanyeol menemani Sehun tidur di ruang tengah. Dan kami bertiga sama-sama tidak bisa tertidur karena memikirkan Junmyeon hyung. Tetapi kami bertiga satu sama lain tidak ada yang berbicara. Sehun yang tiduran berbaring di atas sofa hanya terdiam dengan tatapan kosong. Chanyeol berkali-kali menghela napas berat, mungkin merasa bersalah pada Junmyeon hyung. Aku pun demikian. Duduk di bingkai jendela sambil sesekali memandang pintu kamar Junmyeon hyung, berharap pintu itu terbuka. Namun hingga Chanyeol dan Sehun tertidur, pintu itu tak kunjung terbuka.

Butuh waktu yang lama untukku menunggu Junmyeon hyung keluar dari kamarnya. Dan begitu Junmyeon hyung melihatku masih terjaga, dia tampak terkejut.

“Kau belum tidur?” tanya Junmyeon hyung, berjalan menghampiriku.

“Aku tidak bisa tidur.” jawabku. “Bagaimana dengan hyung?”

“Aku juga.” jawabnya. Ia duduk bersandar di bingkai jendela, berhadapan denganku. “Aku selalu tidak bisa tidur.”

Aku mengangguk sambil bergumam. “Mm, aku tahu.”

Junmyeon hyung tampak terkejut dengan ucapanku. Terlebih ketika aku memberitahu kalau sebenarnya aku selalu terjaga setiap kali Junmyeon hyung terjaga. Aku memberitahu kalau sebenarnya aku selalu menemaninya, walau dari kejauhan, setiap kali Junmyeon hyung terjaga.

“Kita ini memiliki hubungan batin, kau tahu?” ucapku, sedikit menghibur.

Buktinya, Junmyeon hyung tampak tersenyum, walaupun hanya sekejap.

“Berarti ini bukan pertama kalinya kau melihatku menangis, bukan?” tanya Junmyeon hyung, tersenyum getir.

Aku hanya mengangguk. Tak ingin membahas hal itu lebih lanjut.

“Lay mengingkari janjinya.” kata Junmyeon hyung setelah beberapa saat kami terdiam.

“Tidak seperti itu, hyung. Semua belum terbukti benar. Sementara semuanya masih dalam proses oleh entertainment, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka dan juga kita.”

Junmyeon hyung mendengus lucu. “Sepertinya malam ini aku merasa kau adalah leader-nya, Baek.”

Aku tertawa. Tidak menyangka kalau Junmyeon hyung akan berkata seperti itu.

“Bagiku, kau adalah leader yang terbaik, hyung.” ucapku, sukses untuk membuat Junmyeon hyung kembali terdiam.

“Maafkan aku atas sikap kekananku tadi.” kata Junmyeon hyung kemudian. Ia menoleh pada Chanyeol yang sedang tertidur di atas sofa dengan tatapan bersalah. “Tak sepantasnya aku membentak kalian seperti itu.”

Aku mendesah panjang. Aku tahu, Junmyeon hyung hanya terbawa emosi tadi maka dari itu tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik. Tetapi aku pun tahu, kalau Junmyeon hyung tidak benar-benar ingin membentak kami. Junmyeon hyung masihlah Junmyeon hyung yang biasanya. Hatinya masih seputih kapas. Bersih.

“Aku memimpikan mereka saat itu, Baek.” saat itulah Junmyeon hyung menceritakan mimpinya padaku. Junmyeon hyung bermimpi Tao dan Lay hyung mengikuti jejak Kris hyung dan Luhan hyung meninggalkan EXO hingga tidak ada lagi member dari China yang tersisa. Junmyeon hyung ragu untuk memberitahukannya padaku karena tidak ingin membuatku merasa terbebani oleh mimpinya. Junmyeon hyung tidak ingin aku memikirkan mimpi itu, seperti apa yang dilakukannya, maka dari itu Junmyeon hyung tidak pernah memberitahuku, sampai akhirnya mimpi itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata.

“Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri kalau itu semua hanyalah mimpi. Tetapi aku tidak bisa memungkiri kalau aku sangat memikirkannya. Saat akhirnya aku bertanya pada Lay, aku percaya padanya. Aku percaya kalau dia tidak akan meninggalkan kita, tetapi…”

Junmyeon hyung tidak melanjutkan perkataannya. Ia menundukkan kepala, menyembunyikannya di balik lutut dan terisak disana.

Aku bergerak mendekat. Merengkuh tubuh Junmyeon hyung, dan mengelus punggungnya dengan pelan sambil menenangkannya. Junmyeon hyung juga balas memelukku dan menangis di bahuku. Akhirnya setelah setahun berlalu, aku dapat menenangkan Junmyeon hyung, menemani Junmyeon hyung saat menangis dari jarak sedekat ini sambil merengkuhnya. Rasanya sedikit melegakan. Setidaknya, Junmyeon hyung memiliki ruang dan waktu untuk berbagi, tidak menyimpannya sendirian dan tidak menangis sendirian seperti dua kejadian yang sudah berlalu.

“Aku pernah berpikir, Baek, apa salah kita? Mengapa semua member China di grup kita memutuskan untuk keluar? Apa yang pernah kita perbuat sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan kita? Apakah kita kurang baik pada mereka? Apakah karena kita sering mem-bully mereka? Apakah kita kurang mengganggap mereka ada? Apakah aku tidak membimbing mereka dengan baik? Apakah aku—”

“Ssst, hyung, hentikan.” bisikku. “Tidak perlu dilanjutkan, hyung. Itu terdengar menyakitkan.”

“Aku ingin mereka kembali, Baek.”

Aku mengangguk sambil menggigit bibir. “Mereka pasti kembali, hyung. Mereka pasti kembali pada kita.”

Aku tidak tahu apakah ucapanku itu benar atau tidak. Aku hanya ingin menenangkan Junmyeon hyung, dan aku berharap ucapan yang kuucapkan menjadi kenyataan. Walaupun aku tidak seratus persen yakin mereka akan kembali, tetapi aku percaya kalau di dalam hati mereka ada keinginan walaupun hanya setitik untuk kembali pada kami.

Kris hyung, Luhan hyung, mungkin memang sudah pergi meninggalkan kami.

Tetapi Tao dan Lay hyung, aku percaya, mereka tidak akan salah membuat keputusan.

Malam itu, aku dan Junmyeon hyung menghabiskan malam bersama di bingkai jendela. Mengenang masa trainee kami, mengingat hal jenaka dan lainnya hingga kami sama-sama kelelahan dan jatuh tertidur disana.

Ketika aku terbangun dan masih menemukan Junmyeon hyung yang masih tertidur, rasanya aku ingin sekali menangis. Bukan karena mengingat hal yang sedih. Tetapi karena melihat Junmyeon hyung.

Junmyeon hyung, dengan mata terpejam, tampak damai sekali wajahnya. Napasnya yang begitu teratur terdengar seirama. Poni rambutnya jatuh menutupi sebagian matanya yang tertutup. Tetapi aku masih dapat melihat airmata yang mengalir dari sudut matanya.

Bagiku, tak ada yang lebih menyakitkan dan menyedihkan saat melihat Junmyeon hyung menangis. Junmyeon hyung adalah leader kami. Sosok pemimpin yang sempurna. Seorang yang kuat, pemberani, pembimbing yang baik, penasihat yang mengagumkan, sosok inspirasi yang amat kukagumi. Dia tak pernah ingin melihat kami menangis. Yang dia lakukan setiap kali ada masalah di antara kami adalah menguatkan kami, menguatkan kami, dan menguatkan kami. Tanpa kami sadari kalau sebenarnya yang paling rapuh di antara kami semua adalah Kim Junmyeon, leader kami. Leader kami yang mampu menutupi dengan baik perasaannya. Kami benar-benar beruntung memiliki Kim Junmyeon sebagai leader kami.

Aku menyelimuti tubuh Junmyeon hyung dengan selimut. Kutatap sekali lagi wajahnya yang begitu damai, namun tampak terlihat guratan-guratan lelah di wajahnya. Aku menyayangi Junmyeon hyung. Aku tidak ingin masalah seperti ini membebani pikirannya. Walaupun member China akan meninggalkan kami, tetapi aku ingin menyadari Junmyeon hyung bahwa Junmyeon hyung masih punya kami. Kami semua akan selalu ada di sampingnya, menemaninya. Meraih cita-cita bersama.

Ketika aku hendak pergi meninggalkannya untuk pergi ke kamar kecil (ya,ya, ini hobiku di tengah malam hari), tiba-tiba saja tanganku dicekal. Aku menoleh dan melihat tangan Junmyeon hyung menggenggam tanganku.

Junmyeon hyung masih dengan mata terpejam, meraih tanganku dan menggenggamnya, lalu berkata lirih, “Temani aku disini, Baek. Tolong jangan pergi.”

Aku terpaku. Junmyeon hyung memintaku untuk menemaninya. Pertama kali setelah debut kami tiga tahun yang lalu, Junmyeon hyung meminta tolong padaku, dengan suara lirih, seakan tak punya kekuatan lagi untuk berbicara. Dan aku tak kuasa untuk menahan tangis.

Junmyeon hyung…

Aku urung ke kamar kecil dan kembali memeluk tubuhnya.

“Aku tetap disini, hyung.” balasku lirih. Segaris airmata mengalir dari pelupuk mataku.

Kami masih belum tahu apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya nanti. Entah apakah kami tetap akan berformasi bersepuluh, bersembilan, atau mungkin berdelapan. Yang jelas aku–Byun Baekhyun– akan tetap selalu berdiri disini. Bersama EXO, bersama Kim Junmyeon. Menemani leader kami.

Karena aku tidak ingin ada airmata lagi yang mengalir di pipi leader kami.

Aku akan menjadi orang pertama yang menguatkan Kim Junmyeon di saat ia rapuh.

Dan kuharap kalian–EXO-L— tetap men-support kami, berapapun jumlah anggota kami nantinya. EXO-L, saranghae-yo! Tetaplah mencintai kami.

E N D


Well, gue nangiiiiiis T_T Sumpah demi apapun, gue ngetik fic ini sambil bercucuran airmata. Lebay, tapi beneran, gue nggak bohong. Nggak ada niatan apa apa pas nulis fic ini, cuma pengen ungkapin kekecewaan aja pas denger kabar mereka. Dan gue merasa salut banget dengan leader EXO yang tetep kuat walaupun –rumornya– member China akan pergi ninggalin EXO. Gue nggak berharap ini beneran terjadi, tentu aja gue tetep berharap EXO akan kembali utuh. Tapi kalaupun itu bener-bener terjadi, gue bakalan nangis sekejer-kejernya, gue bakalan berusaha untuk ikhlas.

Okey, enjoy it, guys! No bash ya :”

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. PINGKUnakw says:

    wah author bener-bener deh….. bener bener buat aku nangis krn ff nya
    bagus thor sukaa

    Like

    1. zulfhania says:

      Jangankan kamu, aku pun nangis :”(
      Makasih yaaa~ semoga EXO-L tetep kuat yaaa :”)

      Liked by 1 person

      1. PINGKUnakw says:

        semoga. dan semoga EXO juga semakin kuat
        semoga nggak ada lagi yang hengkang

        Liked by 1 person

      2. zulfhania says:

        Aamiin :”)

        Like

  2. siti says:

    DAEBAAAAAAAAAAAAAK !!!!!!!!!!!!!!!!!!

    sumpah chinggu~ya keren bgt ffnya ngerasa kaya bener2 baekhyun oppa yang nulis feel, emosinya bisa dapet bgt

    fighting keep writing ya

    Liked by 1 person

    1. zulfhania says:

      Baekhyun curhat sama aku soalnya jadi aku sampein aja ke kalian kayak gini, hehe, btw, makasih banyak yaaaa 🙂

      Like

  3. WordlessA says:

    perlu tissue. serius. tisu mana tisu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s