Buku

Buku —
Arisa Storyline | Baekhyun | +600 words of school-life, little bit of romance | for Teen

“…adalah fakta konyol yang sulit ia terima dengan lapang dada.”


Tungkainya terayun ragu begitu tiba dihalaman depan sekolah. Ji Eun menghentikan langkah sejenak, lalu diraihnya kacamata kecil yang membungkus kedua matanya. Menajamkan penglihatan, lantas melirik kearah kanan dan kiri selama beberapa detik. Ji Eun waspada. Jangan tanya kenapa, karna ini hanyalah bentuk antisipasi diri. Kalian akan tahu nanti.

Setelah dirasa aman, gadis tersebut berusaha menekankan pada hati bahwasanya semua akan baik-baik saja. Berlebihan memang, dan ini adalah kepribadian negatif yang tak bisa disingkirkan dari gadis bermata empat tersebut.

Melangkah lagi, wajah Ji Eun masih terpoles keantusiasan yang berbalut waspada. Dengan tajam, manik matanya bergerak kesana kemari, berusaha menilik keadaan sekitar; kalau-kalau sosok yang tak dikehendaki muncul secara tiba-tiba. Sungguh, Ji Eun tak ingin awal harinya disambut oleh sosok tersebut. Tolong biarkan, pagi ini saja ia bisa bersantai dengan sang pujaan hati, tanpa hadirnya sosok tersebut. Pagi ini saja.

Saat tiba didaun pintu masuk, sosok yang sejak tadi ia hindari tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya. Mau tidak mau tungkainya harus berhenti beroperasi. Karna jika tidak, ia pasti akan menubruk tubuh lelaki tersebut –lelaki yang mati-matian dihindarinya.

Ji Eun tertangkap basah.

“Kau menghindariku, nona Lee?” seruan lantang namun menggoda itu tak lantas membuat Ji Eun gentar. Gadis itu diam; menatapi bagaimana ekspresi sang empunya suara. “Dengar. Aku tidak akan membiarkanmu lolos hari ini.” Lelaki tersebut tersenyum timpang, seolah bangga dengan frasa yang baru saja ia ucapkan dengan lantang.

Tertawa hambar, Ji Eun merunduk. ‘Hari ini? Setiap hari kau merecoki hidupku, Byun Baekhyun!’Tanpa sadar Ji Eun menghardik dalam hati.

“Ji Eun-ah… Kau tahu? Tadi malam Chanyeol mengajakku ke se–“

Stop!” Dengan mata yang memicing tajam, ditatapnya lelaki tersebut lekat-lekat, seolah menyalurkan sebuah perintah yang sarat akan penekanan ‘Minggir.’ Begitulah kira-kira makna dari tatapan Ji Eun yang ditujukan pada lelaki dihadapannya –Byun Baekhyun.

Ji Eun tahu, akan lari kemana arah pembicaraan ini.

Baekhyun dengan tampang tanpa dosa akan menceritakan apa saja yang telah dilaluinya. Dan Ji Eun akan kebosanan mendengar sesi curhat yang digelar Baekhyun secara mendadak. Demi Tuhan, mendengar curahan hati Baekhyun dipagi hari, merupakan cara paling ampuh untuk mengundang rasa kantuk. Kali ini Ji Eun tidak akan membiarkan Baekhyun menjadikannya sebagai kawan curhat. Tidak akan. Catat itu.

Jika dulu hari-harinya selalu diselimuti oleh rengkuh sunyi dan simfoni kesendirian, kini semua telah berbeda. Ada Baekhyun yang akan membuat hidupnya menjadi berisik dan penuh dengan kebersamaan. Walau kerap kali Ji Eun merasa muak dijejali keributan setiap hari.

Hey, jangan menatapku seperti itu, cantik. Kau terlihat menyeramkan, tahu?”

Baekhyun mencolek dagu Ji Eun sekilas. Sudut-sudut matanya tertarik, hingga membetuk pola sabit. Baekhyun tersenyum.

Ji Eun bergidik. Bukan karna takut, tapi karna jijik. Kalimat tersebut adalah larik menjijikkan yang biasa menghias hidupnya selama dua tahun terakhir. Tapi, Ji Eun tak bisa mengelak jikalau dirinya masih dijejali risih saat mendengar penuturan-penuturan –yang tak lebih dari gombalan keparat itu.

“Minggir. Atau acara kencan kita batal?”

Layaknya mantra penyihir cinta, Baekhyun spontan menghindar saat mendengar kalimat tanpa jeda yang dilontarkan Ji Eun. Sebuah ancaman sadis yang berhasil menyihir Baekhyun.

Baekhyun, lelaki malang tersebut menghindar, guna memberi ruang untuk Ji Eun melangkah.

Bodoh memang, Ji Eun tidak suka berisik. Sementara Baekhyun adalah tuan berisik. Dan mereka dipersatukan dalam temali sepasang kekasih. Aneh bukan?

Saat itu, tak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain mengaduh dalam hati. ‘Lee Ji Eun! Sebenarnya siapa kekasihmu? Aku atau buku tebalmu?’

Baekhyun berani bersumpah, saat ini Ji Eun pasti sedang duduk manis diperaduannya lantas bergelung dengan buku yang bertumpuk-tumpuk. Buku… sesuatu yang Ji Eun nobatkan sebagai pujaan hatinya –bahkan jauh sebelum mereka menyandang status sebagai sepasang kekasih.

Mata hati tak bisa dibohongi, cemburu seringkali membuncah dalam diri Baekhyun. Cemburu pada buku? Terdengar aneh. Tapi, begitulah adanya. Sebuah fakta yang tak bisa ditampik, Baekhyun memang cemburu pada buku, benda pipih yang tak bernyawa; adalah fakta konyol yang sulit ia terima dengan lapang dada.

− F I N −

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Aww, kukira baek mau ngungkapin perasaan.. Ternyata malah udah pacaran :3

    Keep writing, kak!!

    Like

  2. PINGKUnakw says:

    baekhyun konyol_-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s